alexametrics

Mantan GBL Protes karena Tali Asih Diduga Disunat

WPS GBL Semarang Protes

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG Dua mantan pekerja di eks resosialisasi Gambilangu Rowosari Atas melakukan protes karena tidak mendapatkan pesangon. Mereka menduga dana yang seharusnya disampaikan, ada yang menyunat.

WPS asal Wirosari, Kabupaten Grobogan mengatakan, bahkan ada dana yang disampaikan kepada orang yang tidak semestinya menerima. Sejumlah dana justru diberikan kepada warga setempat yang notabene-nya bukan pekerja.

”Saya bekerja di sana 10 tahun, tiap bulan kena atensi Rp 360 ribu, masak tidak dapat apa-apa. Saya ada KTA, tapi nggak dikasih alasan kenapa tidak mendapatkan tali asih,” protesnya.

Ia menceritakan, sebenarnya pengelola telah meminta WPS yang mendapatkan pesangon agar dipotong sebanyak Rp 500 ribu untuk dibagikan kepada yang tidak mendapatkan. Hanya saja, hingga kini, uang untuk modal tersebut belum juga sampai di tangannya.

Baca juga:  Tali Asih PSK GBL Lebih Tinggi dari SK, Kok Bisa?

Satu WPS lainnya menambahkan, memang ada pekerja yang tidak terdata kemudian diberikan sejumlah uang. Hanya saja, pembagiannya tidak merata. ”Jadi kan itu tidak adil,” ujar perempuan asal Batang.

Salah satu pengusaha karaoke setempat menuturkan, jumlah WPS di tempat tersebut ada sekitar 200-an lebih. Namun yang terdata dan mendapatkan pesangon adalah 126 orang. ”Dari 126 orang itu, 40 di antaranya datanya fiktif atau bukan PK. Jadi penduduk situ dibuatkan KTA PK dan tercatat menjadi PK,” ujarnya.

Mereka yang dibuatkan KTA dadakan ini kemudian mendapatkan uang sebesar Rp 2 juta dari Rp 6 juta yang harusnya diterima setiap pemegang KTA. Sementara Rp 4 juta di antaranya dicairkan oleh pengurus. ”Anehnya, semua ATM dan buku tabungan dibawa maminya. Padahal yang berhak mencairkan kan yang bersangkutan,” bebernya.

Baca juga:  Musala Sabilunnajah Jadi Pusat Dakwah di Eks Lokalisasi Gambilangu

”Rp 4 juta x 40 sudah Rp 160 juta,” imbuh pria yang enggan disebut namanya ini.

Pria ini membenarkan bahwa setiap WPS yang mendapat Rp 6 juta dipotong sebesar Rp 500 ribu untuk kemudian diberikan kepada pengurus. Hanya saja, dia tidak dapat memastikan apakah benar itu akan diberikan kepada yang tidak mendapat tali asih atau tidak. ”Nyatanya sampai sekarang mereka belum menerima. Semua warga sudah tahu. Yang menerima atau tidak, tahu semua,” tandasnya. (sga/ida)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya