alexametrics

Dosen UIN Walisongo Pelajari Serangan Hoaks Pemilu

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG – Berkaca dari ramainya pemilu serentak 2019, Prodi Ilmu Politik Fakultas Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo dan KPU Jawa Tengah ungkap maraknya hoaks. Penelitian tersebut dilakukan oleh dosen Fisip UIN Walisongo, Muhammad Mahsun, M.A dan Solkhah Mufrikhah, M.Si. Bertajuk Serangan Hoax Terhadap KPU di Pemilu Serentak Tahum 2019: Studi di Jawa Tengah. Penelitian tersebut menemukan bahwa hoaks mencoblos dengan e-KTP berdampak besar pada prosesi pemilihan.

“Yang sangat masif itu soal hoaks e-KTP. Itu menggegerkan banyak tempat di Jateng. Bagaimana tidak, ada 21 tempat melakukan pemungutan suara ulang, karena isu tersebut,” ujar Mahsun kepada Jawa Pos Radar Semarang Senin (25/11).

Baca juga:  Unggah 5.712 Postingan Video, UIN Walisongo Pecahkan Rekor MURI

KPU sebelumnya mengimbau warga dapat memilih dengan e-KTP di alamat asal. Bagi orang yang tidak memiliki surat undangan atau memiliki kartu C5 untuk memilih. Namun hoaks yang beredar, pemilik e-KTP dapat memilih di sembarang tempat.

Mahsun juga menuturkan bahwa hoaks pada KPU membuat penyelenggara pemilu direpotkan untuk melakukan klarifikasi. “KPU butuh banyak energi, juga biaya hanya untuk mengklarifikasi isu hoaks. Mereka terlihat sedikit panik juga, karena harus melakukan klarifikasi melalui media sosial, aplikasi pesan WhatsApp, juga rilis berita,” imbuhnya.

Selain itu, penelitian tersebut telah mengidentifikasi 35 temuan hoaks terkait KPU. Mulai Juli 2018 hingga Mei 2019. Temuan tersebut dibagi dalam dalam enam kategori, “Ada kecurangan KPU, lemahnya server, manajemen logistik surat suara, daftar pemilih tetap, pemungutan suara bermasalah, serta ancaman dan ketidaknetralan KPU. Yang paling banyak, hoaks terkait ancaman pada komisioner dan ketidaknetralan KPU. Termasuk ancaman jika tidak memenangkan Jokowi bakal dibunuh,” ujarnya.

Baca juga:  Guru Besar Undip Terus Bertambah

Facebook menjadi salah satu media sosial penyebar hoaks paling banyak. Hoaks juga lebih banyak muncul pada aplikasi pesan instan, dan website abal-abal.

“Yang paling berbahaya adalah pembuatan propaganda. Sengaja melahirkan chaos. Demonstrasi paska rekapitulasi di Jakarta dan di daerah-daerah lain. Itu salah satunya adalah banyak yang dipengaruhi informasi hoaks,” tandasnya.

Sementara itu, Solkhah memaparkan, ada berbagai jenis motif para penyebar hoaks. Uang menjadi salah satu faktor penentunya.”Motif finansial mendominasi para penyebar hoaks itu. Bahwa menyebarkan info hoaks itu akan mendatangkan pundi-pundi rupiah,” ucapnya.

Melalui penelitian yang dimulai bulan September hingga November 2019 ini, ia juga menjelaskan bahwa berbagai kalangan terpapar isu hoaks pada pemilu serentak tahun 2019. Mulai dari masyakat biasa, hingga orang yang memiliki kedudukan tinggi. Hal tersebut lantaran rendahnya literasi digital dan politik di masyarakat.

Baca juga:  Sering Telat setiap Kuliah Pagi, Raih IPK 3,9

“Orang berpendidikan tinggi juga banyak terpapar hoaks. Karena mereka tidak dibarengi dengan kapabilitas soal literasi digital. Semoga hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai acuan untuk mengatasi hoaks, pada pemilu ke depan,” pungkasnya. (cr3/zal)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya