alexametrics

Bangunan MI Raudlatul Athfal Mengancam Para Guru dan Siswa, Kondisinya Seperti Apa?

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG – Bangunan sekolah rusak masih ditemukan di Kota Semarang. Adalah Madrasah Ibtidaiyah (MI) Raudlatul Athfal Ngaliyan. Bahkan, kerusakan sekolah ini sudah mengancam keselamatan para siswa dan guru setempat. Sebab, jika tak segera diperbaiki, sewaktu-waktu bangunan sekolah di Jalan Pucung, Kelurahan Bambankerep, Ngaliyan ini bisa runtuh.

Pantauan Jawa Pos Radar Semarang, kerusakan sekolah dikarenakan kontur tanah yang bergerak. Halaman sekolah terlihat retakan tanah dengan lebar lima sentimeter. Keramik di teras maupun ruang kelas juga banyak yang retak. Tembok ruang kelas retak-retak. Tiang penyangga atap tampak miring, dan berpotensi ambruk kapan saja jika terjadi angin kencang ataupun hujan lebat.

“Kerusakan bangunan sekolah ini disebabkan oleh tanah yang bergerak. Gedung sekolah menjadi miring dan merusak kelas yang ada. Bahkan plafon dan eternit di ruang kelas sudah banyak yang rusak,” kata Ahmad Jupri, salah satu guru MI Raudlatul Athfal, Senin (25/11) siang.

Rusaknya bangunan sekolah, lanjut dia, kian parah sejak tiga tahun terakhir. Getaran proyek pembangunan pabrik tak jauh dari sekolah kian memperparah kerusakan bangunan. Semantara bantuan perbaikan dari Kementerian Agama yang menaungi MI tidak kunjung turun. “Ruang kelas VI sudah tidak bisa digunakan, karena rusak parah. Akhirnya kita pakai gudang agar tidak membahayakan siswa. Pintu ruangan saja tidak bisa dibuka, karena terhalang lantai yang miring dan retak,” tuturnya sembari mencoba membuka pintu ruang kelas.

Baca juga:  Sasar Segmen Menengah Atas

Jupri juga menunjukkan kayu penyangga atap yang bergeser sekitar 10 sentimeter. Bahkan paku penguat antarpenyangga sudah banyak yang lepas lantaran tak kuat menahan pergeseran tanah. “Kami terkendala keterbatasan ruangan. Untuk kelas VI terpaksa memakai bekas gudang. Intinya kegiatan belajar harus tetap berjalan,” katanya.

Saat ini, jumlah siswa MI Raudlatul Athfal sebanyak 160 anak. Ketika penerimaan siswa baru, banyak orang tua siswa yang enggan menyekolahkan anaknya ke MI tersebut lantaran khawatir akan keselamatan anak mereka. “Ada yang datang dan melihat (kondisi sekolah, Red) langsung membatalkan mendaftar, jujur kami sebagai guru pun waswas,” kata pria yang sudah 15 tahun menjadi guru MI setempat.

Baca juga:  Empat Kecamatan di Kabupaten Semarang Masuk Zona Merah

Saat ini, dari delapan ruangan yang ada, hampir seluruhnya rusak parah. Tembok retak, plafon jebol, hingga keramik yang retak dengan kondisi tanah yang tidak rata.  Ia menjelaskan, sekolah ini dibangun pada 1995. Renovasi terakhir dilakukan pada 2014. “Tahun 2014, kami menambal dan menguatkan bangunan sekolah. Tapi seakan sia-sia karena tanah terus bergerak, sehingga tembok dan lantai sekolah pun retak dan bergeser,” ujarnya.

Pihak sekolah, sadar jika MI berada di bawah naungan Kementerian Agama. Perwakilan sekolah pun sudah berkoordinasi dengan Kementerian Agama agar bisa menurunkan dana perbaikan atau renovasi sekolah yang dinilai tidak layak. Sayangnya, belum ada tanggapan atau dana yang turun untuk perbaikan sekolah. “Kami juga coba ke Pemkot Semarang, tapi tidak bisa karena naungannya beda. Padahal kondisi sekolah sangat urgen dan membahayakan siswa,”katanya.

Baca juga:  Lapas Semarang Potong 35 Hewan Qurban, Sumbangan dari Para Tokoh

Meski berbahaya, lanjut Jupri, siswa di sekolah tersebut memiliki semangat yang tinggi untuk menuntut ilmu. Setiap bulannya, pihak sekolah hanya menarik SPP sebesar Rp 10 ribu yang dianggap masih ringan. Belum lagi khusus anak yatim dan tidak mampu, malah tidak dipungut biaya alias gratis.

“Kami takutnya kejadian kayak di Jatim (sekolah ambruk, Red), apalagi sekarang memasuki musim hujan. Dikhawatirkan atap tidak kuat menahan air, dan tanahnya terus bergerak. Jangan sampai ada korban dulu, baru kami mendapatkan bantuan,” keluhnya.

Kepala MI Raudlatul Athfal Matrokhan menjelaskan, selain mengancam siswa, kondisi bangunan juga mengancam sembilan guru yang mengajar di sekolah tersebut. Ia berharap, ada bantuan dari Kementerian Agama ataupun dari Pemkot Semarang dan Pemprov Jateng untuk dana perbaikan sekolah. “Kami tidak muluk-muluk, yang penting gedung ini layak digunakan untuk kegiatan belajar-mengajar, karena kaitannya keselamatan para siswa dan guru yang ada,” harapnya. (den/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya