alexametrics

Di Jatibarang, Dua Kepercayaan Berdampingan dalam Bingkai Kekeluargaan

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG – Masjid dan gereja yang berdiri berdekatan dengan jarak 50 meter menjadi simbol kerukunan dua umat beragama di RW 03, Kelurahan Jatibarang, Kecamatan Mijen, Kota Semarang. Agama muslim dan nasrani hidup dan berkembang kuat dalam bingkai kekeluargaan dan persaudaraan yang saling menghomati satu sama lain. Hal tersebut membuat mereka berani mengajukan diri mengikuti lomba Kampung Hebat 2019-2020 kategori Kampung Pancasila.

Mereka melebur dan membaur dalam berbagai kegiatan sosial di lingkungan tanpa rasa perbedaan. Toleransi tinggi menjadi faktor yang membuat dua umat beragama di RW 03 bisa hidup berdampingan. Hal ini disampaikan Supriyanto, Ketua RW 03 sekaligus sesepuh Gereja Baptis Indonesia Maranatha Dukuh Tlogo, Jatibarang.

Baca juga:  Siapkan Rapid Test Korona untuk Prajurit

Menurutnya, komunitas nasrani mulai ada di Jatibarang sejak tahun 1972 awal. Kedatangan mereka tidak membuat kerja sama antar warga luntur. Justru menambah warna keberagaman dan melahirkan rasa toleransi. Kegiatan di lingkungan yang sudah digerakkan warga muslim tetap berjalan. Bahkan akhirnya melibatkan warga nasrani.

“Sejak kecil saya hidup di sini. Kami merasa semua warga adalah keluarga. Tidak ada rasa pebedaan antara warga nasrani dengan muslim. Kegiatan sosial di lingkungan ini terus berjalan. Bahkan kami kerjakan bersama,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang Senin (18/11).

Ia menambahkan, warga Jatibarang sering menggelar kegiatan yang mencerminkan toleransi antarumat beragama. Salah satunya adalah sedekah bumi. Acara tersebut dikerjakan oleh warga tanpa membedakan agama. Dari mulai tenaga hingga dana yang mereka topang bersama.

Baca juga:  Mugassari Mendaftar Semua Kategori

“Toleransi antar umat beragama juga dapat dibuktikan dari gotong royong ketika ada warga yang meninggal dunia. Baik nasrani atau muslim, mereka hadir membantu proses pemakaman,” pungkasnya.

Sementara itu, Lurah Jatibarang Slamet Sugiharto mengatakan dirinya sengaja menunjuk RW 03 untuk mengikuti kategori Kampung Pancasila dalam lomba Kampung Hebat karena lingkungannya sudah mencerminkan nilai-nilai pancasila.

“Mereka hidup rukun. Masjid dan gereja nyaris berhadapan tetapi sekalipun saya belum pernah mendapati gejala-gejala intoleransi di sana. Kegiatan keagamaan seperti Natal dan Maulid Nabi aman berjalan. Bahkan tak jarang dipersiapkan bersama tanpa membedakan agama,” ujarnya.

Ia menuturkan, keharmonisan hidup yang dibangun warga RW 03 dapat menjadi contoh semua masyarakat untuk meraih cita-cita membangun masyarakat yang Pancasilais.

Baca juga:  Getol Lakukan Penghijauan di RW III

“Lewat lomba Kampung Hebat yang dihelat Jawa Pos Radar Semarang bersama Pemerintah Kota Semarang ini saya bisa memotivasi warga agar membangun kampung yang lebih baik,” pungkasnya. (cr1/zal)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya