alexametrics

Naikkan 7 Persen, Perlu Speedometer Bulanan

Ukur Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten/Kota

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG-Selama ini pertumbuhan ekonomi diukur setelah setahun berjalan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Karena itu, perlu ada spedometer yang mengukur pertumbuhan ekonomi tiap bulan di dalam tahun berjalan.

“Dengan begitu, pemerintah kabupaten/kota maupun pemerintah provinsi bisa terus melakukan evaluasi untuk bisa menggenjot pertumbuhan ekonomi hingga 7 persen,” kata Bambang Sadono, mantan anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) yang kini konsen dengan penerbitan majalah dan tabloid cetak lagi.

Pihaknya berupaya membujuk para akdemisi untuk meluangkan waktu dan tenaganya melakukan pengukuran pertumbuhan daerah tiap bulan. Sehingga, pemerintah kabupaten/kota tak perlu lagi menunggu setahun untuk bisa melakukan evaluasi dan meningkatkan upaya dengan gerak cepat. “Harus dihormati usaha kepala daerah dalam rangka menaikkan pertumbuhan ekonomi,” tandasnya.

Baca juga:  Pertumbuhan Ekonomi Diprediksi Meningkat

Karena itulah bertepatan ulang tahun Golkar, pihaknya hari ini, Senin (11/11) di Hotel Semesta, menggelar seminar dalam upaya menumbuhkan ekonomi Jateng sebesar 7 persen. “Tema ini untuk mendukung Pemprov Jateng meningkatkan pertumbuhan ekonomi menjadi 7 persen,” katanya.

Pihaknya mengundang banyak pembicara, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Ketua DPD Partai Golkar Jateng Wisnu Suhardono, Bupati Karanganyar Juliyatmono, Bupati Banjarnegara Budhi Sarwono, Bupati Batang Wihaji, dan Ketua DPRD Kota Pekalongan Balqis Diab.

“Acara ini untuk menyerap aspirasi masyarakat Jateng untuk turut berupaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi, melakukan pengentasan kemiskinan dan penanganan pengangguran. Ini sangat vital untuk dibahas,” kata panitia HUT Golkar, Ghozali.

Menurut Bambang Sadono, Jawa Tengah turut menopang pertumbuhan ekonomi nasional 7 persen. Secara nasional butuh sekitar Rp 700 triliun. Ini tidak gampang, tapi juga bukan berarti sulit. Karena itulah, Gubernur Jateng tidak boleh gagal dalam menaikkan pertumbuhan ekonomi 7 persen.

Baca juga:  Tergusur dari Johar, Pedagang Mengadu ke Satpol PP

Pihaknya bersyukur, Gubernur Ganjar telah berupaya meningkatkan investasi dan membina pemerintah kabupaten/kota. “Meski begitu, komitmen pimpinan daerah sangat penting. Terutama bupati/wali kota di wilayah Jateng. Apa yang telah dilakukan bupati dan wali kota dalam upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi 7 persen,” tandasnya.

Sementara itu, jika ibu kota Indonesia dipindahkan ke Kalimantan Timur (Kaltim), maka potensi pemasok kebutuhan tercepat justru dari Jawa Tengah. Tentu ini potensi luar biasa yang harus dikelola dengan baik. “Jawa Tengah posisinya sangat strategis jika ibu kota Indonesia dipindah ke Kaltim. Kmai berharap, banyak investor merelokasi perusahaannya ke ke Jateng,” harapnya. (ida)

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya