alexametrics

Tinggi, Angka Balita Stunting di Kota Semarang

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG – Penyebab balita stunting di Kota Semarang lantaran persoalan sanitasi adanya gangguan anomali. Berdasarkan data Dinkes pada 2018 angka balita stunting di Kota Semarang cukup tinggi mencapai 2.707 jiwa. “Jumlah tersebut merupakan 2,7 persen dari balita yang ditimbang di Posyandu sebanyak 99.139 jiwa,” ujar Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang, Abdul Hakam, Rabu (30/10).

Sementara jumlah balita di 2018 berdasarkan data Dinkes Kota Semarang sebanyak 101.847 jiwa. Dikatakannya, angka tersebut mengalami kenaikan sebanyak 17 balita stunting dari tahun sebelumnya, 2017. Di mana jumlah balita stunting mencapai 2.690 jiwa. Hanya saja, balita yang ditimbang di Posyandu pada 2017 lebih banyak, yakni 101.893 jiwa. “Karena permasalahan sanitasi dan masalah ekonomi. Selain itu, karena ada gangguan anomali dari fisik balita, seperti penyerapan usus yang tidak bagus,” tuturnya.

Baca juga:  Beraksi Lima Kali, Spesialis Laptop

Wilayah yang paling banyak penyumbang balita stunting yaitu Kecamatan Semarang Utara sebesar 17,38 persen atau mencapai 471 jiwa di 2018. Di 2019 ini, pihaknya terus melakukan penekanan terhadap angka balita stunting tersebut.

“Permasalahan stunting ternyata cukup kompleks, karena banyak faktor yang memengaruhi untuk menjadi penyebabnya,” katanya.

Salah satu upaya Dinkes Kota Semarang yaitu melakukan pendampingan langsung kepada masyarakat di rumah pelangi.

“Bila tidak ada gejala kelainan fisik dari balita stunting. Salah satunya dengan cara mengirimkan balita stunting ke Rumah Pelangi di Banyumanik. Tempat penanganan bagi balita yang mengalami kekurangan gizi tinggi. Pendampingan dilakukan selama kurang lebih enam bulan,” ujarnya.

Penanganan di Rumah Pelangi tersebut, lanjutnya, juga diberikan bagi balita yang mengalami gizi buruk. Bila nantinya balita belum juga mengalami kesesuaian tinggi badan maupun berat badan dengan usianya, maka akan dilanjutkan pendampingan oleh Puskesmas dan kader PKK.

Baca juga:  Langgar Aturan PPKM Darurat, 19 Terapis Pijat dan Pemilik Diamankan

Data Dinkes Kota Semarang untuk gizi buruk di Kota Semarang, pada awal 2019 mencapai 35 kasus yang ditangani di Rumah Pelangi. Jumlah itu menurun, hingga akhirnya pada Oktober 2019 tinggal 11 kasus yang masih dirawat.

“Penanganan dilakukan di Rumah Pelangi terlebih dahulu karena di sana terdapat beberapa ahli. Seperti dokter anak konsultan, ada ahli nutrisi, fisioterapi, dan psikolog,” katanya.

Penanganan dari beberapa ahli tersebut dibutuhkan karena untuk mengetahui penyebab dari permasalahan balita stunting dan gizi buruk.

Ahli nutrisi, lanjutnya, memberikan pemaparan yang kemudian akan diikuti ahli psikolog. Bisa jadi, papar dia, balita tersebut mengalami stunting atau gizi buruk karena ditinggal orangtuanya bekerja. Membuat nutrisi dari balita menjadi tidak terjaga dengan baik.

Baca juga:  Desa Gerlang Penyumbang Angka Stunting Terbanyak

“Rencananya, kami akan menggalakkan kembali Posyandu di lingkungan masyarakat. Program skrining kesehatan di Puskesmas bersama dengan kader PKK pun akan terus dilakukan. Ini sebagai upaya mencegah stunting atau gizi buruk pada balita,” ujarnya. (ewb/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya