alexametrics

Khawatir Mangkal, Pengawasan Harus Ketat  

Pasca Penutupan Sunan Kuning  

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG–Kalangan DPRD Kota Semarang meminta Pemkot Semarang melakukan pengawasan ketat, pasca penutupan lokalisasi Sunan Kuning. Menyusul banyaknya Wanita Pekerja Seks (WPS) eks Sunan Kuning yang enggan diantar pulang ke daerah asal masing-masing.

“Pemkot harus melakukan pengawasan ketat kepada WPS agar tidak kembali menjajakan diri di Kota Semarang,” kata Wakil Ketua DPRD Kota Semarang, Muhammad Arif, Sabtu (19/10) kemarin.

Arif menjelaskan bahwa Pemkot Semarang sudah mempersiapkan armada untuk mengantar ratusan WPS Sunan kuning kembali ke daerah asalnya. “Ini artinya, ada dua indikasi. Yakni, para WPS enggan diantar pulang oleh petugas Dinsos Kota Semarang, karena mereka merasa malu atau mereka masih akan tetap tinggal di Semarang,” kata politisi PKS ini.

Baca juga:  35 Formasi CPNS Pemkot Semarang Sepi Pendaftar

Selain itu, ia juga berharap supaya Pemkot Semarang dalam hal ini Satpol PP Kota Semarang terus melakukan patroli lapangan. Apakah para WPS tersebut melakukan aksi prostitusi di tempat lain atau tidak.

Ia mengkhawatirkan modus melakukan aksi prostitusi mereka berbeda pasca penutupan lokalisasi Sunan Kuning. Seperti diketahui, jumlah WPS Sunan Kuning yang diberhentikan dari aksi prostitusi sebanyak 448 orang.

“Jika mereka masih tinggal di Semarang, Pemkot Semarang harus melakukan pengawasan. Karena dikhawatirkan mereka menjajakan diri di tempat yang tidak semestinya,” katanya.

Pengawasan dan pemantauan tidak hanya dilakukan di kawasan Sunan Kuning saja. Melainkan di tempat-tempat yang dimungkinkan dijadikan tempat mangkal. “Disini tugas Satpol PP harus lebih ekstra, jika ditemukan masih ada yang mangkal harus ditindak dengan tegas,” tuturnya.

Baca juga:  Penghuni SK dan GBL Digantung

Namun demikian, dengan dilakukannya penutupan lokalisasi Sunan Kuning tersebut, Afif mengapresiasi langkah-langkah yang dilakukan oleh Pemkot Semarang. “Proses dan pendekatan yang dilakukan sudah bagus sehingga tidak terjadi konflik. Mulai dari sosialisasi, pelatihan, hingga pemberian tali asih sudah bagus,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Satpol PP Kota Semarang, Fajar Purwoto mengatakan pihaknya terus melakukan pengawasan pasca penutupan. “Bahkan di Sunan Kuning kami dirikan posko pengawasan,” ujar Fajar.

Fungsinya untuk mengawasi siapa saja yang keluar masuk ke tempat tersebut pasca dilakukan penutupan. Apakah para WPS kembali menggelar prostitusi atau tidak. “Tempat lain yang berpotensi untuk dijadikan transaksi prostitusi, setiap hari kami gelar yustisi dengan menerjunkan petugas ke lapangan,” katanya. (ewb/ida)

Baca juga:  Jangan Salfok Sama Namanya, Tradisi Syawalan di Kampung Jaten Cilik Bagikan Ketupat Unik

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya