alexametrics

BTPN Syariah Fokus Garap Keluarga Pra Sejahtera

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG–PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN) Syariah Tbk berupaya memberdayakan perempuan pra sejahtera produktif untuk membuka usaha atau meningkatkan usahanya yang sudah ada. Yakni, melalui Program Gapai Mimpi dengan sistem jemput bola, mendatangi langsung ke rumah nasabah Pra Sejahtera.

Direktur BTPN Syariah, Gatot Adhi Prasetyo menjelaskan bahwa BTPN Syariah dalam menyalurkan kreditnya tidak sekadar memberikanan solusi keuangan (pinjaman) saja, tapi melakukan pendekatan dengan memotivasi nasabah untuk menggapai mimpinya. “Secara nasional, tingkat keberhasilan Nasabah Pra Sejahtera di BTPN Syariah mencapai 30 persen dan yang sudah naik kelas 60-70 persen,” katanya.

Sekarang ini jumlah nasabah aktif di BTPN Syariah sekitar 3,6 juta. Meski begitu, pihaknya menargetkan 5 juta nasabah yang aktif untuk dilayani hingga akhir tahun ini. Sedangkan hingga periode Juni 2019, total aset BTPN Syariah sekitar Rp 14 triliun dan pembiayaan Rp 8,6 triliun. Biasanya aset tumbuh sekitar 30 persen sedangkan pembiayaan 20-24 persen.

Baca juga:  Dari Jateng Jaga Citra Indonesia

Sedangkan kemampuan bank menjaga kualitas kredit, tercermin pada tingkat rasio pembiayaan bermasalah (Non Performing Financing/NPF) 1,34 persen, turun dibandingkan periode yang sama sebelumnya 1,65 persen (year on year).

Khusus program Gapai Mimpi, pendanaan yang diberikan BTPN Syariah beragam, mulai dari Rp 1,5 juta-Rp 50 juta. Pembiayaan ini tidak hanya untuk perempuan produktif pra sejahtera yang memiliki usaha, tetapi juga yang belum memiliki usaha sama sekali. “Yang penting bagi yang memiliki kemauan keras untuk menggapai mimpinya,” ungkap Gatot.

Faida, salah satu perempuan Pra Sejahtera Produktif yang kini memiliki usaha brambang goreng, di Purwoditanan Semarang. Dia mengaku mendapat pinjaman pertama Rp 1,5 juta, kemudian Rp 15 juta. Bahkan, akan mengajukan pinjaman lagi. “Berkat pinjaman dari BTPN Syariah, brambang goreng yang diproduksinya sudah bisa masuk swalayan,” jelas Faida di sela kesibukannya menggoreng brambang.

Baca juga:  Dipercantik, Balai Kota Semarang Usung Konsep Green Building

Hal senada diungkapkan Yuli Handayani, salah satu penjual daging di Gang Baru. “Saya tertarik untuk bergabung dan membuat kelompok sentra yang diberi nama Sentra Gang Baru. Melalui pembiayaan ini, sangat membantu usahanya berjualan daging. Saya dulu perhari hanya mampu menjual 5 kg daging, berkat pinjaman tersebut sudah mampu menjual 100 kg daging sehari,” tuturnya. (tya/ida)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya