alexametrics

Di Dewan, Segel Pintu, di Polda, Salat Gaib

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG-Ratusan massa aksi #SemarangMelawan merangsek masuk ke halaman gedung DPRD Jawa Tengah. Mereka menyegel pintu utama gedung. ”Gedung DPRD ini Disegel Rakyat” tulisan dalam spanduk yang dibentangkan pada pintu utama gedung DPRD provinsi Jawa Tengah, Senin (30/9) jelang maghrib. Sedangkan aksi di Mapolda Jateng, para pendemo diajak salat gaib oleh Kapolda Jateng Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel.

 

Saat unjuk rasa di gedung dewan, para pendemo melakukan aksi teatrikal dengan menaburkan bunga di depan pintu utama sembari menyanyikan lagu Gugur Bunga. Mereka selanjutnya menggelar pentas rakyat di tempat yang sama. Saat menuju ke depan pintu utama ini, massa sempat bersitegang dengan polisi. Mereka menolak memasuki halaman gedung dengan kawalan. Dalam aksi ini polisi menyiapkan sekitar 400-an personil gabungan dari Ditreskrimum, Dit Intel, Propam, Sabhara, dan Brimob Polda Jateng. Sebagai langkah antisipasi, disiapkan pula 4 water canon.

“Baiklah, boleh masuk tapi akan kami kawal,” ujar Kabag Ops Polrestabes Semarang AKBP Iga Nugraha disambut dengan teriakan massa aksi.

Sebelumnya, massa yang terdiri atas berbagai unsur, dari mahasiswa, buruh, dan masyarakat umum ini menyampaikan aspirasi mereka di sekitaran gerbang gedung DPRD Jateng. Mereka datang sekitar pukul 15.30.

Dalam aksi ini mereka membawa sejumlah tuntutan. Di antaranya, menuntut pencabutan draf RUU KUHP, RUU Ketenagakerjaan, RUU Pertanahan, RUU Pemasyarakatan dan Mengesahkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual, RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga, dan RUU Masyarakat Adat. Mereka juga menuntut presiden untuk mengeluarkan perppu pencabutan UU KPK dan UU Sumber Daya Air. Mereka juga meminta presiden memberi sanksi tegas kepada korporasi pembakar hutan, serta sejumlah tuntutan lainnya.

Baca juga:  Sekali Klik, Tiga Menit Polisi Datang

Sembari menyampaikan orasi, mereka membagikan bendera kuning sebagai bentuk rasa duka atas meninggalnya rekan-rekan dari daerah lain. Mereka juga memberikan replika senapan laras panjang dari pelepah pisang yang pada ujungnya disematkan dua tangkai mawar kepada polisi.

Sementara itu, aksi unjuk rasa di depan Mapolda Jawa Tengah berlangsung damai. Aksi tersebut diterima oleh Kapolda Jateng Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel dan bersama-sama melaksanakan salat gaib di Masjid At Taqwa kompleks Mapolda Jateng.

Aksi unjuk rasa di depan Mapolda Jateng digelar oleh puluhan kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) dan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) dari berbagai perguruan tinggi di Jateng, termasuk di Kota Semarang. Sebelum diizinkan masuk diterima Kapolda Jateng, mereka berorasi di depan Mapolda Jateng dengan pengawalan ketat anggota kepolisian.

Orasi para mahasiswa ini, menyuarakan supaya kepolisian secepatnya mengusut tuntas tewasnya kader IMM di Kendari Sulawesi Tenggara, Randi, 22, dan Yusuf Qordawi yang tertembak saat melakukan demonstrasi beberapa waktu lalu. Pengamanan ini, Polda Jateng juga mengerahkan puluhan Polwan yang berdiri didepan aksi unjuk rasa dengan membawa bunga mawar.

“Kita hanya segelintir namun polisi yang menjaga sedemikian banyak dan membawa bunga entah itu simbol dari kepedulian dari kader IMM yang meninggal atau pencitraan dari kepolisian,” ungkap salah seorang orator dengan mengenakan pengeras suara saat melakukan aksi unjuk rasa di depan Mapolda Jateng, Senin (29/9).

Selain berorasi, para mahasiswa juga membentangkan spanduk bertuliskan ‘KAMI BERSAMA RANDI’, ‘HUKUM BERAT PENEMBAK RANDI’ hingga ‘NYAWA DIBALAS NYAWA #SaveRandi.

 

“Penembakan terhadap Randi tidak sesuai dengan SOP pengamanan massa dan jauh dari nilai kemanusiaan bahkan melanggar berat HAM,” teriak Korlap yang juga Ketua DPD IMM Jateng, Badrun Nuri.

Baca juga:  Pemkot Semarang Jadi Pemda Terbaik Kedua di Indonesia

Kurang lebih sekitar 45 menit berorasi, salah satu anggota Polwan dari Polda Jateng menyambangi peserta unjuk rasa dan menyampaikan pesan aksinya akan diterima Kapolda Jateng, dan diajak sholat goib bersama di masjid dalam kompleks Mapolda Jateng.

“Kami ajak teman-teman untuk bersama melaksanakan Salat Ghaib bagi saudara kita Randi,” ungkap Polwan dari anggota Polda Jateng kepada para peserta unjuk rasa.

“Belasungkawa ini kita terima, asal pelanggaran yang dilakukan pihak kepolisian di sana harus diusut tuntas,” timpal Badrun Nuri.

Setelah bernegosiasi, akhirnya para mahasiswa menuruti permintaan tersebut. Kemudian, para anggota polwan membagikan bunga mawar satu persatu kepada mahasiswa dan selanjutnya diizinkan masuk ke dalam Mapolda Jateng. Hanya saja, setelah sesaat masuk di depan gerbang Mapolda Jateng, sempat terjadi ketegangan antara peserta aksi dengan anggota kepolisian yang melakukan pemeriksaan tas bawaan para mahasiswa. “Kami jamin, kader kami orang baik semua, jangan perlakukan kami seperti penjahat,” teriak Badrun Nuri.

Protes tersebut diterima kepolisian dan menghentikan pemeriksaan. Selanjutnya peserta unjuk rasa tersebut dipersilakan masuk ke Masjid At Taqwa, kompleks Polda Jateng. Tidak berselang lama, Irjen Pol Rycko keluar dari ruangan kerjanya langsung menuju masjid untuk mengikuti ibadah salat berjamaah bersama mahasiswa. Salat diawali salat dhuhur yang diimami langsung oleh Irjen Rycko dan setelah itu melanjutkan Salat Gaib.

Kapolda Rycko mengatakan, telah menerima peserta aksi unjuk rasa yang berada di depan Kantor Mapolda Jateng, dan kemudian dilakukan salat berjamaah. Selain itu, kapolda juga mengajak untuk mendoakan semoga meninggalnya dua orang kader IMM tersebut khusnul khotimah dan amal serta kebaikannya diterima di sisi Allah SWT.  “Kita juga doakan keluarganya semoga diberikan ketabahan, kekuatan dan di jaga Allah SWT,” katanya.

Baca juga:  Kasus Covid-19 Melandai, Kapolda Jateng: Semoga Pandemi Bisa Segera Jadi Endemi

Lanjut Rycko mengatakan, aksi yang dilakukan para mahasiswa tersebut merupakan bentuk solidaritas pasca insiden wafatnya dua orang kader di Kendari. Pihaknya mengapresiasi, karena aksi tersebut dilakukan dengan damai.

“Aman, damai sangat santun untuk membawa aspirasi seluruh anggota ikatan Muhammadiyah,” katanya.

Rycko membeberkan, para mahasiswa yang ditemuinya dalam melakukan aksi unjuk rasa menyampaikan beberapa hal kepadanya. Rycko menyebutkan, yang pertama adalah supaya pihak kepolisian segera mengungkap kasus ini. Kedua meminta kepada petugas kepolisian untuk tidak melakukan tindakan yang reperesif atau kekerasan, dan memberikan perlindungan.

“Sudah saya terima semuanya dan itu memang sudah SOP daripada kepolisian dan merupakan penekanan khusus dari Bapak Kapolri dalam menangani unjuk rasa dilakukan secara humanis,” katanya.

Lanjut Rycko mengatakan, tugas kepolisian dalam melakukan pengamanan bukan dengan cara kekerasan. Bahkan kepolisian juga bertugas memberikan pelayanan dan perlindungan kepada yang menyampaikan unjuk rasa.

“Kecuali kepada para perusuh yang mengganggu ketertiban umum yang akan mengganggu keamanan dan melakukan pengrusakan ini akan dilakukan penindakan hukum yang terukur oleh kepolisian,” tegasnya.

Selain itu, Rycko juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada para mahasiswa yang telah menarik diri melakukan unjuk rasa di daerah Surakarta, Senin (30/9) kemarin. Menurut Rycko menyebutkan alasan tersebut dilakukan oleh mahasiswa karena mereka melihat ada kelompok-kelompok lain yang akan juga melaksanakan pada hari waktu dan tempat yang sama.  (sga/mg5/mg8/mha/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya