alexametrics

Kepala SD Pakintelan 01 Diperiksa Tujuh Jam

Dia Siswa Tertimpa Tembok Runtuh

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG – Kepala SD Negeri Pakintelan 01 berinisial S diperiksa penyidik Polsek Gunungpati. S diperiksa penyidik selama tujuh jam terkait kejadian robohnya tembok bangunan papan nama sekolah yang menimpa dua siswa hingga merenggut satu korban jiwa.

Kepala sekolah tersebut mendatangi Mapolsek Gunungpati dengan mengenakan baju batik, Kamis (26/9) pagi. Menurut keterangan S, ia datang ke Mapolsek Gunungpati kurang lebih sekitar pukul 09.00.

Ya, hanya klarifikasi sebagai bahan perlengkapan untuk kejadian yang kemarin. Ada kurang lebih 10 pertanyaan,” ungkap S saat keluar ruangan Mapolsek Gunungpati, kepada Jawa Pos Radar Semarang, Kamis (26/9) kemarin.

“Karena kejadiannya di sekolah kami otomatis kami harus memberikan keterangan kejadian di sini,” lanjutnya.

Menanggapi terkait kronologi kejadian tersebut, S membeberkan berawal saat sedang ishoma dan kemudian dilanjutkan shalat di salah satu masjid di sekitaran dekat lokasi sekolahan. Setelah itu, dua siswa tersebut membeli jajanan, kemudian duduk di bawah tembok papan nama sekolah sembari menikmati makanan yang dibelinya.

“Kronologinya, setelah ishoma, para siswa salat berjamaah. Selanjutnya jajan di depan sekolah, karena ruang salatnya baru dipugar. Kemudian salat di musala. Warga didampingi guru kemudian kembali ke sekolah. Ada yang jajan, setelah jajan duduk di bawah papan nama, tahu-tahu roboh,” bebernya.

Papan nama dengan bangunan tembok tersebut roboh pada Selasa (24/9) sekitar pukul 13.30. S menyebutkan, dinding yang roboh tersebut dibangun oleh Dinas Pendidikan pada 1 September 2018.

Baca juga:  Kano dan Mikael Duduki Unggulan Remaja

“Itu proyek dari Dinas, sekolah mengusulkan dari Musrembangdik kemudian kita terima paket, jadi berupa bangunan yang dikerjakan oleh CV. Sekolah tidak tahu berapa ukuranya, sekitaran 2 meteran,” jelasnya.

Menanggapi terkait robohnya bangunan dinding tersebut, S mengaku tidak mengetahui penyebabnya.

“Kalau itu saya tidak paham, saya bukan orang tehnik, saya sebagai guru sebagai kepala sekolah apakah bangunan itu kuat apa tidak saya kurang tahu,” katanya.

Sedangkan dua orang yang tertimpa adalah siswa kelas 5, bernama Ridlo Adytia Saputra, warga Pakintelan Gunungpati, mengalami luka berat pada kepala dan badan. Sebelumnya pasca kejadian langsung dilarikan di rumah sakit terdekat di daerah masuk wilayah Kabupaten Semarang, dan sekarang ini telah dirujuk di RSUD Ketileng.

Menanggapi hal tersebut, S mengatakan pihak sekolah juga intensif mendatangi rumah sakit mendampingi korban yang masih menjalani perawatan.

“Guru-guru dari sekolahan kami ada yang mendampingi setiap hari. Karena ini untuk penguatan sekaligus orangtua. Supaya si anak ini kan merasa nyaman dengan gurunya. Kalau pembiayaan kita ajukan lewat UHC, gratis dari pemerintah,” bebernya.

Sedangkan korban meninggal adalah, Mohamad Rehan Ditya Pratama, 10, warga Pakintelan Gunungpati mengalami luka pada kepala, bagian badan serta kaki, dan meninggal dunia dan telah dilakukan pemakaman.

Baca juga:  Tiga Ribu Ulama Sambut Habib Umar di Unissula

“Kemarin juga ada santunan, dari Dinas Pendidikan, Pak Walikota kemarin datang sendiri, juga dari beberapa instansi, termasuk dari paguyuban kepala sekolah. Setiap hari kita doa bersama dengan siswa dan kalau malam guru-guru sepakat ikut tahlil di rumah duka,” katanya.

S mengatakan akan melakukan evaluasi terhadap bangunan yang ada di sekolahan SDN Pakintelan 01. Hal ini dilakukan sebagai antisipasi supaya kejadian tersebut tidak terulang kembali.

“Bangunan yang ada di depan situ nanti bisa dibuat yang tidak membahayakan siswa. Karena saya yang bertanggungjawab setiap hari ada disitu. Kita buat yang kuat dan kokoh termasuk bangunan lainnya,” pungkasnya.

Saat keluar dari ruangan penyidik sekitar pukul 12.30, S tidak lama kembali masuk ke dalam ruangan Mapolsek Gunungpati. Menurut Kapolsek Gunungpati Kompol I Ketut Sudana mengatakan bersangkutan mendatangi kantor kepolisian untuk memberikan keterangan terkait kejadian tersebut.

“Bersangkutan itu malah datang sendiri, belum dipanggil. Ya intinya untuk dimintai keterangan terkait kejadian yang kemarin. Tadi selesai kurang lebih sekitar pukul 16.00,” katanya.

Pihaknya mengatakan akan terus melakukan penanganan dan penyelidikan terkait kejadian tersebut. Menurutnya, belum ada tersangka dalam kasus ini. Saat ini masih dalam tahap pemeriksaan saksi-saksi.

Sementara itu, pasca meninggalnya siswa SDN Pakintelan 01 yang menjadi korban robohnya tembok sekolah, Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Semarang akan melakukan peningkatan keamanan infrastruktur sekolah agar kejadian serupa tidak kembali terulang.

Baca juga:  37 Ribu Siswa SMP Terima Kuota Gratis 4 GB Per Bulan

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Semarang Gunawan Saptogiri mengatakan, jika pihaknya akan meningkatan pengawasan dari segi keamanan dan infrastruktur sekolah, agar tidak menimbulkan korban jiwa.

“Kami akan memantau terus, agar apa yang ada di sekolah ini tidak mencelakakan siswa,” katanya.

Gunawan mengatakan, dalam waktu dekat, pihaknya akan mengumpulkan kepala sekolah di Kota Semarang, khususnya SD dan SMP untuk diberikan pengarahan. Sebenarnya pengarahan serupa kerap dilakukan agar tidak melukai siswa.  “Nanti akan diberikan arahan lagi oleh kepala sekolah, yakni menjaga infastruktur yang ada, termasuk tembok, pagar, ataupun bangunan lain,” jelasnya.

Disdik sendiri, tahun ini menganggarkan Rp 24,81 miliar untuk perbaikan dan pembangunan 30 SD di Kota Semarang. Salah satunya adalah SDN 1  Tandang, SDN Randugarut dan sekolah lain dengan total anggaran yang digelontor sebesar Rp 1 miliar lebih .

Perbaikan sekolah dilakukan secara merata di 16 kecamatan. Kali ini, perbaikan sekolah dilakukan di Kecamatan Mijen, Tembalang, Semarang Selatan, Genuk, dan Gunungpati. Yaitu masing-masing 3 sekolah. ”Bentuknya bermacam-macam. Mulai dari pembangunan ruang kelas yang terdampak banjir dan rob, serta peninggian sekolah,” katanya. (den/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya