alexametrics

Lima Tersangka Korupsi BRI segera Dilimpahkan

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG-Berkas perkara dan barang bukti serta tersangka perkara dugaan korupsi pembobolan kredit karyawan di Bank Rakyat Indonesia (BRI) Cabang Purbalingga memasuki tahap dua atau penyerahan dari penyidik ke umum Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Tengah. Atas pelimpahan itu otomatis tinggal menunggu jadwal pelimpahan ke pengadilan untuk disidangkan. Adapun tersangka dalam kasus itu ada lima orang. Yakni, Aang Eka Nugraha, Direktur CV Cahaya nonaktif; Firdaus Vidyawan Direktur PT Banyumas Citra Televisi di Purwokerto nonaktif, dan Yeni Irawati Bendahara CV Cahaya nonaktif. Dua lagi adalah karyawan BRI cabang Purbalingga bagian analisis kredit, yakni Endah Setiorini dan Imam Sudrajat.

“Kami punya waktu 20 hari untuk menyusun dakwaan. Mudah-mudahan dalam waktu satu minggu ini sudah selesai,”kata Kepala Kejati Jateng Yunan Harjaka melalui Asisten Tipidsus Kejati Jateng, Ketut Sumedana kepada Jawa Pos Radar Semarang, Jumat (20/9).

Baca juga:  Ketua RT/RW Diharap Ikut Sosialisasikan Program Pemkot

Diakuinya, masih ada dua orang tersangka yang masih dalam tahap penyidikan. Yakni, Kepala Cabang Bank BRI Purbalingga Zulfikar Nazam dan satu stafnya, Eka Hermawan, di mana peran keduanya yang mempunyai wewenang memutus kredit Rp 250 juta ke bawah dan memutus di atas Rp 250 juta. Kedua pelaku tersebut dijerat dengan pasal 2 dan 3 UU Nomor 20 tahun 2001 tentang tindak pidana korupsi. Dalam kasus itu, diakuinya, ada sekitar delapan puluh saksi telah diperiksa oleh penyidik.

“Modusnya membuat nasabah fiktif, jadi hanya digunakan namanya saja. Jadi, nama yang dibuat tidak tahu menahu, karena hanya dipinjam KTP dikasih 3 persen,”sebutnya.

Terpisah, kuasa hukum dua tersangka karyawan BRI (Imam dan Endah), John Richard Latuihamallo, mengaku kecewa atas penerapan pasal yang menjerat kliennya. Menurutnya, sejak awal kliennya tidak mengetahui tentang pemalsuan KTP yang digunakan dalam kredit fiktif ini. Apalagi, kasus ini baru terungkap setelah ada bukti pemalsuan.

Baca juga:  Deadline Pindahan Hari Ini, Kanjengan Masih Kosong

“Kami jelas kecewa dengan penerapan pasal kedua dan subsider pasal ketiga yang menimpa klien kami. Apalagi pemalsuan ini muncul setelah ada pemalsuan baru terungkap, jadi siapa yang melakukan pemalsuan ini? belum tau, untuk itu perlu pengembangan tersangka baru,” jelasnya.

Dikatakannya, dalam kasus tersebut tidak ada unsur kesengajaan melainkan kealpaan. Dengan demikian, apabila digolongkan kealpaan seharusnya semuanya diproses.

“Termasuk AO, FO, dan semua pegawai harus jadi tersangka. Karena dianggap kealpaan, kalau kealpaan secara badan hukum semua yang terlibat harus jadi tersangka, “tandasnya. (jks/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya