alexametrics

Warga Depok Timur dan PT Sango Memanas

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG– Polemik antara warga Depok Timur, Kelurahan Kebangsari, Semarang Tengah dengan PT Sango Ceramics Indonesia (SCI) kian memanas. Pasalnya, meski sudah dimediasi oleh Pemkot Semarang melalui Satpol PP, tetap saja warga ngotot enggan mengosongkan lahan yang mereka tempati. Kedua belah pihak akhirnya sepakat untuk menempuh jalur hukum. PT SCI dalam hal ini mengklaim lahan yang ditempati oleh warga sejak puluhan tahun yang lalu tersebut merupakan miliknya. Klaim PT SCI tersebut berdasarkan sertifikat hak milik (HM) yang diterbitkan oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kota Semarang.

Juru bicara warga Depok Timur Edi Santoso mengatakan, jika warga tetap bertekad untuk mempertahankan lahan yang mereka tempati tersebut. Saat ini, di lahan seluas hampir 2.000 meter persegi tersebut dihuni 42 KK yang menempati 27 rumah. “Kampung Depok Timur ini sudah ada sejak tahun 1930-an, dan warga yang menempati memang tidak kepikiran untuk mengurus sertifikat,” ujar Edi kepada Jawa Pos Radar Semarang, Senin (16/9).

Dari penelusuran pihaknya, beberapa warga pernah mencoba mengurus sertifikat pada 1988. Namun niat mereka tersebut tidak disetujui oleh pihak BPN Kota Semarang lantaran bidang tanah di Depok Timur tersebut sudah ada yang punya. “Sementara siapa pemilik lahan, kami pada saat itu tidak tahu,” katanya.

Baca juga:  Keluarga Napi Kirim Lontong dan Opor Ayam ke Lapas

Puncaknya, pada 2016 lalu, lahan yang ditempati warga tersebut diklaim oleh PT SCI. Dalam hal ini, PT SCI mengklaim memiliki sertifikat tanah HM No 81/Kembangsari tercatat atas nama Raden Mas Basoeki. Lahan yang diklaim milik PT SCI itu sebagian besar adalah lahan di RT 6 RW 2.

“Warga juga memiliki hak untuk mempertahankan lahan ini. PT Sango yang mengklaim memiliki hak atas tanah itu juga tidak serta merta dapat mengambil lahan tersebut,” tegasnya.

Langkah mengambil secara paksa oleh PT SCI, menurutnya, tidak bisa dibenarkan. Pasalnya, warga sudah menempati lahan tersebut sejak 1930-an. Pihak warga juga menduga jika lahan tersebut dulunya merupakan lahan yang telantar. Kemudian PT SCI langsung mengklaim atas lahan yang ditempati warga tersebut. Apalagi pada zaman itu, administrasi lahan memang sangat terbatas. “Karena sudah lama juga lahan itu tidak diurus sejak tahun 1930-an hingga sekarang, ada dugaan penelantaran lahan,” ungkapnya.

Sehingga warga setempat sepakat jika persoalan tersebut akan dibawa ke ranah hukum. “Warga sudah siap menyelesaikan persoalan ini ke jalur hukum. Karena kami juga memiliki hak atas tanah ini. Kami masih mempersiapkan alat bukti yang dimiliki warga,” katanya.

Baca juga:  Angkat Besi Sumbang Enam Atlet

Diungkapkannnya, jika di mediasi ke empat sebelumnya, PT SCI berencana memberikan tali asing kepada warga serta tempat tinggal berupa mess. Namun hal itu tentunya ditolak oleh warga. Karena tawaran dari PT SCI dinilai tidak masuk akal.

Kepala Satpol PP Kota Semarang Fajar Purwoto mengakui jika sudah lebih dari empat kali mencoba memediasi ke dua belah pihak. Namun sampai mediasi ke lima, tidak ada kata sepakat dari ke dua belah pihak.

“Satpol PP hanya memberikan fasilitas untuk mediasi kedua belah pihak. Kami menghargai kesepakatan dengan menempuh jalur hukum itu,” ujar Fajar.

Dijelaskannya, pihak PT SCI sebelumnya sudah menawarkan tali asih kepada warga. Besaran tali asih tersebut beragam mulai dari Rp 7,5 juta hingga Rp 12 juta per kepala keluarga. “Namun, dari hasil mediasi tidak ditemukan kesepakatan. Warga akan menempuh jalur hukum, kami hanya bisa menghormati keputusan itu,” katanya.

Terkait dengan ke dua belah pihak yang akan menempuh jalur hukum, Fajar mempersilakan.

Kuasa Hukum PT Sango Daniel mengatakan, pihaknya selama dua tahun terakhir sudah mengupayakan jalur mediasi dengan warga atas persoalan tanah di kampung Depok Timur tersebut. “Selama dua tahun kami sudah mengupayakan jalur mediasi, sampai saat ini kami minta ditengahi oleh Satpol PP Kota Semarang,” ujar Daniel.

Baca juga:  Honda Jazz Tabrak Tiang Listrik, Satu Orang Meninggal

Dikatakannya, sebelumnya juga dari BPN Kota Semarang juga sudah menjelaskan bahwa tanah tersebut memiliki surat HM 81 atas nama Raden Mas Basoeki. “Dulu BPN juga sudah diundang dan mengatakan bahwa tanah tersebut HM 81 kepemilikan atas nama Raden Mas Basoeki, warga juga tahu. Sebenarnya mereka paham,” katanya.

Terkait upaya hukum, ia mengungkapkan secepatnya akan membawa persoalan tersebut ke ranah hukum. (ewb/aro)

Polemik Lahan Depok Timur
– Lahan seluas hampir 2.000 M2
– Saat ini dihuni 42 KK (100 jiwa) yang menempati 27 rumah.
– PT Sango Ceramics Indonesia (SCI) sebagai pemilik lahan berdasarkan sertifikat HM 81 atas nama Raden Mas Basoeki
– Warga menolak pindah karena sudah menempati lahan itu sejak 1930.
– Warga mengklaim itu lahan telantar yang tidak diketahui pemiliknya.
Diolah dari Berita

DOKUMENTASI
POLEMIK: Satpol PP Kota Semarang saat sosialisasi di Kampung Depok Timur.

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya