alexametrics

Revitalisasi Kota Lama Semarang Baru Seperempat

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG- Kawasan sejarah di Kota Semarang mestinya ada empat, yaitu Kota Lama yang dikenal merupakan kawasan Little Netherland, lalu ada kawasan Kampung Melayu, Pecinan, dan Arab. Penataan yang dilakukan Pemkot Semarang baru seperempatnya. Setelah menata Kota Lama, pemkot menyiapkan penataan kawasan sejarah lain.

“Salah satunya yang menjadi perhatian adalah kawasan Kampung Melayu, karena meliputi kawasan Kuningan dan Dadapsari yang masuk dalam kategori wilayah kumuh, mengacu pada SK Wali Kota tahun 2014,” ujar Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi.

Seperti dalam melakukan revitalisasi kawasan Little Netherland, menurut Hendi, sapaan akrabnya, Kampung Melayu yang saat ini kondisinya relatif kumuh mampu juga ditata ulang menjadi daya tarik wisata Kota Semarang. Pasalnya, Kampung Melayu memiliki potensi wisata historis yang kuat, yaitu dengan adanya Masjid Layur yang dibangun tahun 1802, serta Masjid Sholeh Darat. ‘’Masjid Layur salah satu potensi yang saya optimistis mampu menarik wisatawan dari luar kota untuk datang ke Kota Semarang,” ujar Hendi.

Baca juga:  Minta Kota Lama Bebas Kendaraan Bermotor

Hal tersebut disampaikannya saat memaparkan inovasi Pemerintah Kota Semarang dalam penanggulangan wilayah kumuh, pada Lomba Hari Habitat tingkat Provinsi Jawa Tengah di Hotel Patrajasa Semarang, Rabu (11/09).

Hendi sendiri telah menyiapkan sebuah desain rancangan guna menjadi acuan penataan kembali kawasan Kampung Melayu sebagai bagian dari kawasan sejarah Kota Lama Semarang.

Dalam paparannya, wali kota berencana melakukan sejumlah pembangunan infrasruktur fisik, seperti membangun gerbang kawasan, hingga penambahan ruang terbuka hijau. Bahkan Hendi secara khusus juga akan menerapkan konsep pembangunan Water Front City dalam penataan bantaran Kali Semarang yang melintas di sepanjang Kampung Melayu dengan membangun Deck View.

Hendi pun berharap perluasan upaya revitalisasi Kota Lama Semarang mampu menjaga tren positif perkembangan Kota Semarang di bawah kepemimpinannya. Tren positif itu antara lain terkait pengentasan wilayah kumuh di Kota Semarang yang mampu diupayakan secara masif. Sebagai gambaran pada 2014 tercatat kawasan kumuh di Kota Semarang luasannya berkisar 416 hektare yang tersebar di 62 kelurahan, luasan tersebut kemudian pada 2018 berhasil ditekan menjadi 112 hektare.

Baca juga:  Kendaraan Berat Dilarang Melintas Kota Lama, Ini Penyebabnya

Menurut Hendi, tugas besar Pemerintah Kota Semarang dalam penyelesaian wilayah kumuh tidak terlepas dari keberhasilan penanganan banjir dan rob, yang mana secara statistik pada 2011 tercatat 41 persen wilayah Kota Semarang merupakan wilayah rawan banjir dan rob. Kemudian melalui sejumlah upaya pembenahan sistem drainase, pada 2018 turun drastis menjadi 17,4 persen.

“Ini merupakan tren positif, namun yang lebih penting bagi kami ini supaya masyarakat kemudian nyaman, senang, sehat, bahagia, dan Insya’ Allah sejahtera,” tegas Hendi. (bbs)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya