alexametrics

Penghuni SK dan GBL Digantung

Jadwal Penutupan Tak Jelas, Tamu Turun 50 Persen

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG – Sampai saat ini kejelasan waktu penutupan dua lokalisasi, Sunan Kuning (SK) dan Gambilangu (GBL) oleh Pemkot Semarang masih tidak jelas. Hal itu menimbulkan kecemasan para Wanita Pekerja Seks (WPS) di dua lokalisasi tersebut.

Ketua Resosialisasi Argorejo Suwandi mengatakan, jika warga binaannya sampai sekarang masih menunggu kepastian dari Pemkot Semarang terkait dengan rencana penutupan tempat prostitusi tersebut.  Bahkan, saat ini jumlah pengunjung di kawasan lokalisasi tersebut sudah berkurang drastis dan sepi. Hal itu tentunya mempengaruhi tingkat perekonomian para WPS di Sunan Kuning.

“Jumlah tamu yang datang setelah adanya informasi rencana penutupan itu semakin sepi,” ujar Suwandi, Jumat (6/9).

Pihaknya menghitung jika penurunan jumlah pengunjung di lokalisasi itu menurun sampai 50 persen. “Jika dihitung penurunan jumlah tamu yang datang mencapai 50 persen, dampaknya aktivitas perekonomian semakin redup,” katanya.

Meski begitu, pihaknya mendukung langkah Pemkot Semarang untuk menutup lokalisasi terbesar di Kota Semarang itu. Namun, ia berharap Pemkot Semarang segera memastikan waktu kapan penutupan akan dilakukan. “Tidak digantung seperti sekarang ini,” tandasnya.

Baca juga:  GBL Tutup, Penghuni Wisma: Monggo Mampir, Mas, Nyanyi…

“Termasuk rencana pemkot yang akan mengalihfungsikan kawasan Sunan Kuning, sehingga perekonomian di wilayah ini kembali stabil, juga belum jelas,” tambahnya.

Ia memberikan masukan kepada Pemkot Semarang, apabila memang belum siap untuk dilakukan penutupan sebaiknya ditunda terlebih dahulu. Suwandi lebih memikirkan keberlangsungan hidup dari para WPS yang seakan digantung oleh keputusan Pemkot Semarang yang belum jelas. “Artinya, jika memang belum siap untuk dilakukan penutupan, sebaiknya ditunda terlebih dahulu,” katanya.

Selain belum mendapat kepastian tentang waktu penutupan Sunan Kuning, besaran dana tali asih yang akan diberikan kepada para WPS juga masih simpang siur. Ia mengkhawatirkan jumlah besaran tali asih tidak sesuai atau jauh lebih kecil dari isu-isu yang berkembang di lapangan selama ini. Isu yang berkembang di lapangan, besaran tali asih per WPS sebesar Rp 6 juta. Namun besaran tersebut, Dinsos Kota Semarang ternyata juga tidak berani memastikan. Hal itulah yang menjadi kebimbangan para WPS dan Suwandi.

Baca juga:  Warga Semarang Rela Antre Demi Divaksin Booster

Ia berharap, ketika penutupan nantinya benar-benar dilakukan, untuk usaha karaoke untuk tetap beroperasi seperti biasanya. Pihaknya mengaku siap mengajukan izin apabila hal itu diperlukan untuk kelegalan pengoperasian karaoke di kawasan Sunan Kuning.

“Di samping rencana Pemkot Semarang yang akan mengubah kawasan ini menjadi kampung tematik. Jika harus izin, kami akan mengajukan izin sesuai dengan aturan yang ada. Sehingga kepastian dari pemkot lah saat ini yang terpenting, dan kami masih menunggu,” katanya.

Salah satu WPS asal Kabupaten Temanggung, SR, 39, menuturkan, jika dirinya belum memperoleh informasi pasti terkait dengan besaran tali asih yang akan diberikan oleh Pemkot Semarang. “Belum ada pensosialisasian besarannya berapa? Yang jelas sampai sekarang masih disibukkan untuk membuat rekening tersebut satu persatu,” ujarnya.

Seperti pernah diberitakan koran ini, rencana penutupan Lokalisasi Sunan Kuning dan Gambilangu awalnya akan dilakukan pada 15 Agustus atau dua hari sebelum Hari Kemerdekaan RI ke-74. Hal itu ditegaskan Kepala Satpol PP Kota Semarang Fajar Purwoto. Namun akhirnya Pemkot Semarang menunda penutupan hingga akhir Agustus lalu.

Baca juga:  Empat Mal di Semarang Jadi Tempat Vaksinasi

“Tadinya akan ditutup 15 Agustus, namun kami targetkan akhir Agustus sudah ditutup,” kata Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi saat itu.

Menurut Hendi—sapaan wali kota, kendala yang dialami pihaknya saat itu ada pada proses penyiapan dana untuk tali asih para warga binaan yang merupakan wanita pekerja seks di kompleks tersebut. Ia menjelaskan alokasi dana tali asih untuk warga binaan Sunan Kuning dianggarkan dalam perubahan APBD 2019. Sementara, perubahan APBD 2019 saat itu masih dalam tahap evaluasi oleh Gubernur Jawa Tengah. Namun hingga akhir Agustus, penutupan juga tak juga dilakukan. Bahkan hingga pekan pertama September, rencana penutupan lokalisasi terbesar di Jateng itu pun hanya wacana alias isapan jempol belaka. (ewb/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya