alexametrics

Jasa Marga Harus Bertanggung Jawab

Molornya Relokasi SMPN 16 Semarang

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG – Molornya relokasi SMP Negeri 16 Semarang terus mendapat sorotan. Kali ini datang dari kalangan DPRD Kota Semarang. Dewan meminta relokasi SMPN 16 yang sudah molor sampai bertahun-tahun mendapat perhatian khusus dari Pemkot Semarang. Pasalnya, dengan kondisi SMPN 16 saat ini sudah tidak kondusif untuk kegiatan belajar mengajar (KBM).

Anggota DPRD Kota Semarang Anang Budi Utomo mengaku prihatin dengan molornya proses relokasi sekolah tersebut yang berdampak kepada KBM siswa. “Sebagai anggota dewan Kota Semarang saya memang prihatin dengan proses relokasi SMPN 16 yang sampai sekarang tidak kunjung terealisasi,” ujar politisi Partai Golkar ini kepada Jawa Pos Radar Semarang, Kamis (29/8).

Menurutnya, kondisi saat ini memang sangat jauh dari persyaratan penyelenggaraan pendidikan. Dari sisi lingkungan, terganggu suara bising kendaraan di jalan tol dan kondisi infrastruktur tidak memenuhi syarat untuk KBM berlangsung.

“Di situ (SMPN 16 Semarang) saat ini tidak memenuhi syarat dan sangat mengganggu KBM,” ujarnya.

Karenanya, ia meminta kepada Pemkot Semarang, khususnya Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Semarang untuk segera memberikan alternatif atau masukan kepada Jasa Marga.

Di mana dalam proses relokasi tersebut, Jasa Marga merupakan pihak leading sector. “Di sisi yang lain, kita berharap Jasa Marga segera memberikan kejelasan. Apakah nantinya sekolah akan direlokasi atau lingkungan sekitarnya dikondisikan,” katanya.

Baca juga:  Ditengarai Ada Perusahaan Nakal

Jika dilakukan pengondisian lingkungan, lanjut dia, maka harus memenuhi standar nasional pendidikan tentang sarana dan prasarana. Namun, menurut dia, khusus lokasi SMPN 16 Kota Semarang yang sekarang idealnya tetap dilakukan relokasi. “Cari tanah aset pemerintah di sekitar situ saja,” tuturnya.

Seperti diketahui, beberapa waktu lalu, Disdik Kota Semarang sudah mengerucutkan pemilihan lahan relokasi. Dari 8 tempat kemudian dikerucutkan menjadi 3 tempat untuk relokasi. Namun kenyataannya sampai sekarang hal itu belum juga terealisasi. “Ini saya harapkan pihak terkait khususnya Dinas Pendidikan segera berkoordinasi dan berkomunikasi dengan Jasa Marga. Sehingga gedung SMPN 16 yang baru nanti bisa segera terwujud,” katanya.

Sebelumnya, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mengaku geram dengan proses relokasi SMPN 16 Semarang yang molor sampai bertahun-tahun lamanya. Pasalnya, menurut Hendi –sapaan akrabnya– hal itu sudah memengaruhi proses KBM di sekolah tersebut. “Saya sudah gemes, ini sekolah sudah sangat terganggu karena lokasinya sudah berkurang hampir separonya. Tetapi proses pergantian lahan oleh Jasa Marga sampai sekarang belum clear,” ujar Hendi.

Pihaknya terus mendorong kepada Dinas Pendidikan Kota Semarang untuk berkomunikasi dengan pihak Jasa Marga sebagai leading sector pembangunan tol Semarang – Batang. “Saya sudah memarahi terus dalam hal ini Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang. Saya minta supaya lebih baik lagi komunikasinya dengan Jasa Marga,” tuturnya.

Baca juga:  Ekonomi Membaik, Konsumen Optimistis

Hendi berharap, supaya SMPN 16 Kota Semarang tersebut segera direlokasi di tempat yang tidak jauh dari sekolah lama. “Harapan saya, SMPN 16 dapat dipindah di dekat-dekat situ,” harapnya.

Tentunya lokasinya bisa lebih luas, tenang, dan kondusif untuk belajar peserta didik. “Lokasi yang lebih luas, dibangun baru, dan buat anak-anak kita ini bisa belajar dengan tenang,” ujarnya.

Hendi juga prihatin dengan kondisi SMPN 16 Kota Semarang seperti saat ini. Pasalnya, lingkungan sekolah sudah tidak relevan untuk dijadikan tempat belajar peserta didik. “Kalau hari ini menurut saya tidak keren, infrastrukturnya tidak oke. Pola pembelajaran juga tidak nyaman karena bising,” katanya. Bahkan, lanjutnya, karena keterbatasan ruang, tempat guru akhirnya digeser ke aula. Sementara untuk ruang guru lama digunakan untuk ruang kelas. “Bahkan karena keterbatasan ruang sendiri itu juga membuat ruang guru sementara menempati aula,” tuturnya.

Pakar Pendidikan dari PGRI Jateng Sudharto menegaskan, jika dalam hal ini SMPN 16 dan Pemkot Semarang merupakan korban dari pembangunan tol yang tidak terkonsep dengan baik. “Seharusnya dari awal itu tentang relokasi (SMPN 16) sudah direncanakan. Bukan bras-bres seperti itu,” ujar Sudharto.

Baca juga:  Cahaya Lampu Jalan Bisa Diatur Keterangannya dari Jauh

Menurutnya, Jasa Marga yang dalam hal ini merupakan leading sector pembangunan tol harus bertanggungjawab atas rentetan dampak akibat buruknya perencanaan. “Kalau ini berlarut-larut, artinya orang-orang di Jasa Marga sama sekali tidak punya mindset yang bener terhadap pendidikan,” tegasnya.

Padahal, lanjutnya, peserta didik SMPN 16 Kota Semarang adalah mereka yang disiapkan untuk memimpin bangsa kelak. Generasi emas dapat diperoleh melalui pendidikan yang baik pula. Di mana di dalamnya juga terdapat fasilitas yang baik. Namun, lanjutnya, hal itu rupanya tidak terjadi di SMPN 16 Kota Semarang. Di mana sekolah tersebut tidak memiliki fasilitas yang baik. Tentunya untuk mencetak generasi emas juga hanya isapan jempol belaka. “Dan itu salahnya siapa? Salahnya Jasa Marga karena tidak mengonsep pembangunan tol dengan baik,” katanya.

Seperti diketahui, saat ini separo lahan SMPN 16 Semarang terdampak pembangunan tol Semarang – Batang. Beberapa bangunan utama, dirobohkan. Karena belum mendapatkan ganti lahan, akhirnya terpaksa kegiatan belajar-mengajar dilakukan di ruang seadanya. Di antaranya memindahkan ruang guru ke aula, dan menyulap ruang guru lama menjadi ruang kelas.

Ketika koran ini mencoba melakukan konfirmasi, tidak ada jawaban dari pihak Jasa Marga terkait permasalahan SMPN 16 Semarang. (ewb/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya