alexametrics

PKL akan Lawan Aksi Bongkar Paksa

Kios Relokasi MAJT Dinilai Tak Layak

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG – Pembongkaran paksa yang akan dilakukan oleh Pemkot Semarang terhadap PKL Bugangan dan Rejosari mendapatkan respon dari para pedagang. Mereka memastikan akan melakukan perlawanan apabila pembongkaran paksa tetap dilakukan.

Ketua Paguyuban PKL Bugangan Sulaiman menuturkan jika perlawanan yang akan dilakukan oleh pedagang mengingat selama ini janji dari Pemkot Semarang belum juga terpenuhi. Dikatakan, fasilitas tempat relokasi juga belum sesuai standar yang para PKL inginkan.

“Kalau mau dibongkar paksa sesuai aturan, nantinya kita tetap mengajukan tuntutan. Kita orang kecil tidak tahu hukum, kita harus minta bantuan kepada yang tahu hukum,” kata Sulaiman, Jumat (23/8).

Sikap bertahan yang dipilih oleh PKL tersebut, lantaran mereka masih memperjuangkan tuntutannya. Ia juga menegaskan, sikap tersebut bukan pembangkangan. “Kita bukan berarti tidak setuju adanya proyek normalisasi BKT, namun kalau tidak didipenuhi tuntutan kami, ya kami enggan pindah,” tegasnya.

Baca juga:  Mangunharjo Juara Umum Lomba Kampung Hebat 2020

Sebelumnya, para PKL di dua wilayah tersebut meminta supaya ukuran kios relokasi di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) lebih besar dari ukuran yang sudah disediakan oleh Pemkot Semarang. Saat ini ukuran yang sudah disediakan oleh Pemkot Semarang untuk satu kios 4 x 5 meter.

Menurutnya, sebelum Pemkot Semarang benar-benar menepati janjinya, maka para PKL Bugangan dan Rejosari mengambil sikap untuk bertahan dan melawan apabila akan dibongkar paksa.

“Kita pindah itu tetap mau. Tapi ya itu kita minta ditempatkan yang layak. Sesuai dengan janjinya Dinas Perdagangan, kita tinggal terima kunci,” katanya.

Selain itu sekat antarkios di tempat relokasi MAJT, menurutnya, juga tidak layak dan rawan akan tindak kriminalitas. Sebab, saat ini sekat antarkios dan dinding kios hanya terbuat dari triplek. Menurutnya, triplek merupakan bahan yang mudah rusak. Hal itu dinilai berbahaya untuk barang dagangan para PKL, apabila ditinggal pulang.

Baca juga:  Di Terboyo Kulon, Sejahterakan Warga dengan Kampung Pancasila

“Bisa bahaya, karena triplek mudah dijebol, lantas nanti barang dagangan kami bagaimana?” ujarnya.

Saat ini, di dua wilayah tersebut masih bertahan sebanyak 95 PKL. Kesemuanya kompak enggan pindah dari lokasi lama ke tempat relokasi MAJT.

Pantauan di tempat relokasi, untuk kios PKL memang ukuran semuanya sama. Jika dibandingkan dengan tempat lama di bantaran Banjir Kanal Timur secara luasan memang jauh lebih baik. Di tempat relokasi dibuat menggunakan baja ringan kanal U dan terlihat kokoh. Lantai masing-masing kios juga sudah diplester. Sementara untuk atap menggunakan bahan galvalum. Untuk sekat antarkios masih menggunakan triplek. Sedangkan untuk akses jalan masih ada yang belum teraspal dan berupa tanah. Kondisi tersebut yang sampai sekarang masih dikeluhkan para PKL Bugangan dan Rejosari. Mereka lebih memilih untuk tetap bertahan di lokasi lama, di bantaran BKT.

Baca juga:  Latihan Perdana Bersama Pelatih Baru PSIS Genjot Fisik dan Taktik

“Untuk keamanan belum tentu bisa menjamin. Karena itu, bukannya kami bertahan karena menolak pindah, namun karena tempat relokasi memang tidak layak,” katanya.

Beberapa waktu lalu Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang Fravarta Sadman menegaskan jika akan mengambil tindakan tegas kepada para PKL Bugangan dan Rejosari. Tindakan tegas dan akan dibongkar paksa tersebut dikarenakan para PKL dinilai tidak konsekuen dengan janjinya sendiri yang akan pindah setelah kios relokasi jadi. (ewb/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya