alexametrics

Lulusan SMK Minim Kompetensi

Banyak yang Tidak Terserap Industri

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, SEMARANGTingkat pengangguran terbuka dari lulusan SMK masih menjadi pekerjaan rumah serius. Pasalnya, masih banyak lulusan sekolah vokasi ini yang tidak terserap industri akibat minimnya kompetensi.

Dekan Sekolah Vokasi UGM Wikan Sakarinto menyebut kompetensi memang menjadi salah satu dari sekian faktor yang perlu mendapat perhatian lebih. Selama ini, dunia industri membutuhkan lulusan sekolah vokasi (SMK) dengan bekal kompetensi. Sementara yang ada saat ini, para lulusan hanya memiliki ijazah.”Kompetensi itu bicara soal saya bisa apa? Kalau ijazah itu soal saya sudah belajar apa? Dan tidak bisa membuktikan kecakapannya apa?” ujarnya di Museum Ranggawarsita Semarang, Kamis (22/8).

Padahal, tambah dia, sejumlah perusahaan besar, seperti Google, secara terbuka telah menyatakan bahwa tidak penting lulusan apa (ijazah). Sejauh memiliki kompetensi yang dibutuhkan, maka siapapun akan diterima. Dalam hal ini, ia menilai perlu ada penyesuaian kurikulum dengan perkembangan zaman.

Baca juga:  Hadapi Pandemi, Pemerintah Dituntut Lebih Inovatif

Pada kesempatan yang sama, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengatakan, dalam rangka membangun SDM, Jawa Tengah akan menambah 15 sekolah vokasi (SMK). Dalam penerapannya, akan diadopsi kurikulum sekolah vokasi di Jerman. Di sana, ia ceritakan, calon siswa mendaftar ke perusahaan. Selanjutnya perusahaan lah yang menyekolahkan siswa tersebut. ”Sehingga ketika lulus, mereka memiliki kompetensi sesuai dengan yang dibutuhkan,” kata pria yang merupakan Ketua Umum Keluarga Alumni Gadjah Mada (Kagama) periode 2014-2019 ini.

”Di sana selama lima hari sekolah, tiga hari di perusahaan dan dua hari di sekolah. Maka kemarin kami minta kepada perusahaan untuk memberikan CSR-nya dalam bentuk sebuah ruang atau tempat untuk belajar siswa ini,” imbuhnya.

Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila Mahfud MD menambahkan, untuk menyiapkan SDM unggul menuju Indonesia emas 2045, ada hal lain yang perlu diperhatikan selain kompetensi. Selain terampil dalam hal sains dan teknologi, diperlukan pula penanaman sikap setia terhadap bangsa.

Baca juga:  PC PMII Kota Semarang Genjot Kaderisasi Berbasis Profesional

”Menyiapkan orang-orang hebat itu kita bisa. Yang diperlukan adalah membuat agar kesetiaan nasionalnya tetap ada. Jika tidak, mereka yang pintar-pintar akan pergi dari Indonesia,” ujarnya

Terbukti, banyak anak-anak berprestasi Indonesia yang memilih ke negara lain karena hasil karyanya tidak dapat diaplikasikan di Indonesia. Salah satunya karena birokrasi yang rumit. ”Orang kalau tidak dilayani dengan baik, kesetiaan nasional luntur,” katanya.

Dalam hal ini, diperlukan karakter pendidikan seperti yang termuat dalam UUD 1945. Pendidikan yang tidak hanya untuk mencerdaskan otak. Lebih dari itu, yang mampu mengembangkan olah pikir, otak, rasa, dan estetika. ”Bagaimana mencerdaskan kehidupan bangsa, yang mana mencerdaskan otak dan memuliakan watak,” ujarnya.

Baca juga:  Veteran Berharap Mengajar Sejarah

Praktisi pendidikan Retno Listyarti menekankan bahwa selain berkualitas, penerapan pendidikan juga harus berkeadilan. Dalam hal ini, ia mendukung kebijakan zonasi dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB) yang dilakukan pemerintah dengan manfaat pemerataan. ”Pemerataan ini penting. Selain sarana prasarana, siswa, juga guru,” kata perempuan yang juga merupakan komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) ini.

Penyanyi/ aktris Gita Gutawa yang juga menjadi salah satu pembicara dalam acara ini menambahkan, perkembangan teknologi memang telah merubah segala aspek kehidupan. Termasuk pada bidang pendidikan. Ia berpendapat, teknologi hendaknya dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya dalam upaya mendukung pendidikan. ”Salah satunya untuk mengatasi harga buku yang mahal. Selain itu, sekarang ada banyak aplikasi yang dapat dimanfaatkan,” ujarnya. (sga/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya