alexametrics

Awal Musim Hujan Mundur

Wilayah Demak Diprediksi Desember

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG – Awal musim hujan di Jateng diprediksi bakal mundur mulai Oktober hingga Desember mendatang. Meskipun demikian, di beberapa daerah di Jateng pada Agustus ini sudah mulai turun hujan dengan intensitas rendah, seperti di Kota Semarang pada Rabu (21/8) malam lalu.

Kepala Seksi Data dan Informasi (Datin) Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Kelas I Semarang Iis Widya Harmoko menjelaskan, berdasarkan pantauan dan data yang dimiliki, beberapa daerah di Pantai Utara (Pantura) bagian barat, misalnya Tegal, Pemalang, Pekalongan dan sebagian Batang, Banjarnegara, Purbalingga dan pantura bagian timur diprediksi akan mengalami musim kemarau sampai September.

“Untuk musim hujan di Jateng, prediksinya akan mulai turun pada bulan Oktober, tepatnya di daerah sekitar Pegunungan Slamet, sebagian Kabupaten Brebes, Tegal, Pemalang, Banyumas, dan Purbalingga. Sedangkan untuk Oktober II dan III, musim penghujan diprediksi mulai turun di wilayah Banjarnegara, selatan Batang, Pekalongan, Wonosobo, Temanggung, Magelang, Kendal dan Cilacap,” katanya kepada koran ini, Kamis (22/8).

Baca juga:  Puncak Musim Hujan, Jateng Waspada Longsor

Sementara di wilayah Jepara, Demak, Rembang dan pesisir Pati, lanjut dia, musim penghujan diprediksi mundur sampai Desember. Mundurnya musim hujan pada tahun ini, lanjut dia, dikarenakan suhu muka laut yang mendingin dan dipolmot yang meningkat. Hal itu mengakibatkan curah hujan menjadi turun. Beda dengan tahun lalu yang disebabkan adanya aktivitas El Nino. “Peralihan musim kemarau ke musim penghujan harus diwaspadai, karena akan terjadi cuaca ekstrim seperti hujan lebat disertai petir dan angin,” jelasnya.

Forecaster Stasiun Klimatologi Kelas I Semarang Rosyidah menambahkan, jika pada musim kemarau ini sebagian besar wilayah di Jateng akan mengalami kekeringan yang cukup ekstrim. Apalagi sebagian besar wilayah mengalami hari tanpa hujan di atas 60 hari. “Kondisi ini cukup ekstrim, sehingga memicu kekeringan dan musibah lainnya seperti kebakaran,” tambahnya.

Dia menyebutkan, beberapa wilayah di Jawa Tengah yang mengalami kekeringan ekstrim adalah wilayah Klaten yang mengalami hari tanpa hujan selama 117 hari. Disusul daerah Wonogiri yang mengalami 114 hari tanpa hujan dan daerah Grobogan yang mengalami 113 hari tanpa hujan.

Baca juga:  Awal Musim Hujan, Sungai Beringin Meluap

Di sisi lain, BMKG Stasiun Klimatologi Kelas I Semarang juga mengingatkan masyarakat pesisir Jateng untuk waspada terhadap gelombang tinggi. Hal tersebut lantaran adanya perbedaan tekanan udara yang signifikan, sehingga menimbulkan angin kecang dan gelombang tinggi.

Iis Widya Harmoko menuturkan, saat ini terjadi perbedaan signifikan, di mana belahan bumi utara memiliki tekanan udara yang rendah. Sedangkan belahan bumi selatan memiliki tekanan udara tinggi. Akibatnya, angin tersebut bergerak dari selatan ke udara dengan kecepatan tinggi menimbulkan gelombang dan ombak yang besar.

“Angin kencang tidak hanya dirasakan di Jateng saja, namun hampir di seluruh wilayah Indonesia. Ini akan terus berlangsung sampai seminggu ke depan. Memang kalau di daratan seperti Semarang angin yang berhembus kecepatannya berkisar antara 10 sampai 15 knot. Namun jika berada di laut, kecepatannya bisa mencapai 20 knot,” bebernya.

Baca juga:  Musim Hujan Telah Tiba, Ini Daftar Wilayah Rawan Bencana di Semarang

Ia menambahkan, di pesisir utara Jateng, tinggi gelombang mencapai 1,5 hingga 2 meter. Sedangkan pesisir selatan mencapai 2,5 hingga 6 meter. Dan semakin ke tengah, ketinggian tersebut semakin bertambah. Pihaknya mengimbau kepada para nelayan, khususnya yang berada di pesisir selatan Jateng untuk berhati-hati dan memantau ketinggian gelombang sebelum melakukan aktivitas melaut guna menghindari risiko yang tidak diinginkan.

“Dengan tingginya gelombang, kami dari BMKG Maritim Tanjung Emas dan BMKG Cilacap telah menerbitkan peringatan dini gelombang tinggi di pesisisr selatan dan utara Jawa Tengah. Kami memang tidak dapat mencegah nelayan untuk melaut. Namun dengan peringatan tersebut nelayan dapat mempertimbangkan kondisi alam yang ada. Jika tidak memungkinkan untuk melaut,  kami sarankan untuk ditunda agar tidak terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan,” katanya. (den/akm/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya