alexametrics

Indonesia Butuh Sosok Gus Mus

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG-Selalu belajar dari siapapun. Itulah yang menjadi pesan Mustofa Bisri atau yang akrab disapa Gus Mus dalam Harlah yang ke-75 tahun “Persembahan Sahabat dan Santri untuk Kiaiku” di Komplek Klenteng Sam Poo kong, Semarang, Rabu (15/8).

Bahkan saat aktif di media sosial, Gus Mus dalam rangka belajar berinteraksi dengan banyak orang dan dengan berbagai macam kepribadian yang beragam. Dari interaksi tersebut, dirinya dapat belajar apapun termasuk nilai kehidupan dan persatuan.

“Saya memang giat di sosial media termasuk Facebook, Twitter, dan Instagram. Dari sana saya bisa belajar dari siapapun dengan berbagai latar belakang dan disiplin ilmu yang beragam juga. Masing-masing orang memiliki kelebihan dan nilai yang dapat dipelajari,” ujarnya disambut tepuk tangan para pengunjung di Kelenteng Sam Poo Kong, Rabu malam (14/8) kemarin.

Baca juga:  Gus Mus Wejangi Para Penghafal Alquran Agar Bisa Berperilaku Qurani

Dirinya menambahkan perlunya belajar mempertahankan persatuan bangsa. Dengan segala keanekaragaman dan kebhinnekaan yang dimiliki Indonesia, perlu toleransi untuk dapat mempersatukan. Toleransi dapat dipelajari dengan bertemu dan memahami sesama.

“Indonesia merupakan kepingan surga dengan tanah indah bak nirwana. Dengan keanegaragaman yang ada, perbedaan warna kulit, agama, budaya, bukan menjadi pemisah. Namun media belajar untuk saling toleransi. Hari ini bukan ulang tahun saya. Namun hari ulang tahun Indonesia. 17 Agustus nanti, kita harus membuktikan Indonesia sebagai negara yang besar, berbhinneka, kuat dan menerima perbedaan yang ada untuk diubah menjadi kekuatan untuk saling bersatu dan maju,” lanjutnya.

Sementara itu mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Mahfudz MD yang turut hadir dalam harlah tersebut menceritakan sosok Gus Mus sebagai pribadi yang terbuka. Tokoh Islam yang menerima dan diterima semua kalangan. Menjadi pengawal umat untuk dapat bersatu tanpa diskriminasi.

Baca juga:  Siapkan Pegawai, Pegadaian Antisipasi Era Digital

“Gus Mus sangat lemah lembut dan santun. Tidak pernah marah dan konfrontatif meski diserang dari manapun. Jika ingin melihat bagaimana orang Indonesia bersyariat, maka lihatlah Gus Mus. Darinya kita melihat bagaimana bersyariat melaksanakan Islam secara substansi untuk kesejahteraam dan persatuan umat tanpa diskriminasi,” ujarnya.

Indonesia butuh sosok seperti Gus Mus untuk menjaga bangsa dan agama. Mahfudz mengajak masyarakat, khususnya umat Islam untuk dapat menjalankan syariat seperti Gus Mus menjalankan perintah Tuhan YME untuk hidup selaras dan menerima perbedaan.

Harlah tersebut dihadiri juga Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pujiastuti, Sinta Nuriyah Wahid dan keluarga, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo dan masih banyak tokoh agama dan seniman yang turut menampilkan pembacaan puisi milik Gus Mus. Selain itu, dilakukan kegiatan melukis akbar dari puluhan pelukis asal Jawa Tengah dan Jogjakarta. Nantinya lukisan tersebut akan menjadi kado bagi Gus Mus pada harlah tersebut. (akm/ida)

Baca juga:  Diduga Hendak Bobol ATM, Seorang Pria Dibekuk

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya