alexametrics

Anggaran Riset Sangat Kecil

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG–Riset untuk pengembangan daerah di Indonesia perlu difokuskan. Ini penting agar tidak ada riset sama yang dilakukan dua instansi berbeda.

Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan Kemristek Dikti, Muhammad Dimyati mengatakan bahwa riset yang sama oleh dua instansi berbeda masih terjadi. Hal ini dinilainya tidak efisien karena justru mengecer-ecer anggaran riset yang jumlahnya terbilang masih minim.

”Anggaran riset Indonesia tidak terlalu besar. Dibandingkan negara lain, kita masih terbilang kecil. Anggaran negara yang tidak besar ini diecer-ecer, hasilnya tidak ada. Makanya pemerintah membuat anggaran, SDM, dan sarana prasarana yang sedikit tadi terfokus,” ujarnya usai membuka konferensi internasional pengembangan wilayah di Hotel Patra Jasa Semarang, Selasa (6/8).

Baca juga:  UIN Gandeng 21 Negara, Kembangkan Pendidikan Adaptif

Untuk itu, lanjutnya, 5 tahun ke depan pemerintah mengarahkan riset agar fokus pada 45 produk utama saja. Terbagi dalam 8 bidang fokus, di antaranya pangan dan energi. Fokus ini akan dituangkan dalam RPJMN.

”Sehingga masing-masing produk akan dikawal intansi yang ditugasi. Kalau tidak berhasil akan ketahuan. Kalau sekarang kan ribuan produk masih dikerjakan banyak orang,” ujarnya pada acara yang juga dihadiri Kabid Riset dan Pengembangan Bappeda Pemprov Jateng, Tri Yuni Atmojo.

Selain minimnya anggaran serta tanpa fokus, riset di Indonesia juga masih terkendala link and match antara riset dengan kebutuhan industri. Alhasil, luaran riset tidak dapat langsung diterima industri untuk diimplementasikan.

”Peneliti sering tidak melihat kebutuhan pasar atau industri. Kebalikan dari yang dilakukan di luar negeri. Di kita banyak yang dilakukan untuk kepentingan sendiri. Untuk naik pangkat. Sehingga tidak bisa dihilirisasi,” bebernya.

Baca juga:  Traffic Light Madukoro Siap Diujicoba

Ia menambahkan, dua hal lain yang membuat riset Indonesia kesulitan maju adalah masih banyak peneliti yang hebat secara pribadi, namun menemui kendala ketika harus bersinergi. Selain itu, fasilitas penelitian Indonesia yang belum semaju negara lain. Kondisi ini membuat peneliti Indonesia tidak dapat melakukan penelitian secara mandiri.

”Fasilitas lab tidak semaju di luar. Misalnya kita melakukan penelitian mikro banget. Kita nggak punya alat itu. Sehingga harus kerjasama dengam luar,” jelasnya. (sga/ida)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya