alexametrics

Terjerat TPPU, Istri Fungsional Pajak Divonis 2 Tahun

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG– Majelis hakim Pengadilan Tipikor Semarang menjatuhkan pidana penjara selama 2 tahun dan denda Rp 50 juta subsidair kurungan 2 bulan. Vonis itu dijatuhkan kepada terdakwa Sri Fitri Wahyuni, yang dianggap bersalah melakukan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) mencapai Rp 4,6 miliar, yang juga menjerat suaminya, Pranoto Aries Wibowo, mantan Fungsional Pemeriksa Pajak di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Madya Semarang.

Majelis hakim yang dipimpin, Andi Astara menyatakan, terdakwa sebagai sarana atau instrumen dari Pranoto yang terindikasi melakukan gratifikasi. Dalam pertimbangannya, majelis menyebutkan hal memberatkan perbuatan terdakwa tidak mendukung program pemrrintah dalam pemberantasaN tipikor, kemudian tipikor merupakan ekstra ordinary crime sehingga masuk dalam kejahatan luar biasa.

Baca juga:  Semprotkan Eco Enzyme untuk Disinfektan di Zona Kuning

“Hal meringankan terdakwa mempunyai tanggungan keluarga dan belum pernah dipidana,” sebut majelis.

Menanggapi vonis tersebut, terdakwa maupun penasehat hukumnya dan jaksa menyatakan pikir-pikir selama 7 hari. Vonis tersebut sendiri lebih rendah dari tuntutan, Jaksa Penuntut Umum (JPU) gabungan dari Kejagung RI dan Kejari Kota Semarang, yang menjatuhakn pidana penjara kepada Sri Fitri Wahyuni selama tiga tahun. Sri dianggap melanggar Pasal 5 ayat (1) Undang-undang Nomor 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang sebagaimana tersebut dalam dakwaan kedua penuntut umum. Selain pidana penjara, jaksa juga menjatuhkan pidana denda kepada terdakwa sebesar Rp 50juta subsidair selama 3 bulan kurungan.

Perlu diketahui, terdakwa awalnya dijemput paksa oleh Kejaksaan Agung karena mangkir saat dipanggil sebagai tersangka. Kasus tersebut berawal saat Jajun Juaedi pada Januari 2007 hingga November 2013 diduga kuat menerima suap dalam penjualan faktur pajak dari beberapa perusahaan baik secara langsung maupun tidak langsung dengan perantara pihak lain.Tidak seperti biasa, praktik ini memakai modus baru yaitu menggunakan sekuriti perumahan, tukang jahit, Office Boy KPP Madya sebagai perantara aksi suap. Selama kurun waktu itu, para tersangka menerima uang haram dari pemberi suap di sejumlah rekening sebesar Rp14.162.007.605.

Baca juga:  Genjot Pendapatan, Pemkot Semarang Naikkan Tarif PBB

Dalam kasus itu sendiri, Kejaksaan Agung juga telah menetapkan lima perusahaan sebagai tersangka korporasi karena telah menyuap Pranoto Aries Wibowo hingga mencapai Rp 4,6 miliar pada periode 2007 – 2013.Penetapan tersangka terhadap 5 korporasi tersebut merupakan pengembangan kasus dari perkara suap yang melibatkan tersangka Pranoto Aries Wibowo. (jks/zal)

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya