alexametrics

Ngalap Berkah, Umat Tionghoa Ikuti Ciswak

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG—Tradisi tolak balak atau ruwatan tidak hanya dikenal dalam kebudayaan Jawa. Tetapi bagi masyarakat Tionghoa tradisi semacam itu juga menjadi sebuah ritual rutin yang dilakukan setiap tahun. Tradisi warga Tionghoa tersebut bernama Ciswak. Seperti tradisi yang dilakukan oleh ratusan umat Kelenteng Thay Shang Lauw Tjin, Jalan Taman Hasanudin. Semarang kemarin (1/8).

Dalam ritual tersebut, sebelumnya umat berdoa memohon kebahagiaan dan dilancarkan rezeki serta dijauhkan dari halangan dan rintangan. Selanjutnya umat berjalan melewati gerbang dewa bernama pintu macan dan naga untuk menyeleksi umat manusia yang mengikuti ritual Cisuwak.

“Mereka (umat) yang mengikuti ritual Cisuwak ini harus berjalan melewati gerbang tersebut,” kata Pembina Vihara Thay Shang Lauw Tjin, Tjutikno.

Baca juga:  Rumah Ambruk, Sekeluarga Tinggal di Bawah Terpal

Ditambahkan oleh Tjutikno prosesinya, melewati gerbang Dewa artinya ketika umat melewati, segala aura yang jelek atau kurang baik bisa hilang. Tetapi ada juga yang melewati gerbang karena yang kurang dalam batin, sehingga harus dibersihkan.

“Dan yang bisa melihat hanya Tatung atau orang yang sudah kemaSukan dewa. Kalau jiwanya bersih pasti bisa lewat, kalau yang tidak bersih disuruh jongkok untuk berdoa agar hal yang perbuat harus diperbaiki hari itu juga,” tambahnya.

Selain itu ada beberapa umat yang sudah berhasil setelah mengikuti Ciswak maka tahun depan akan kembali dengan membawa beberapa buah-buahan dan lilin  sebagai bentuk persembahan kepada dewa. Selanjutnya sebagai ungkapan rasa syukur, umat membakar kertas doa.

Baca juga:  Kamis dan Sabtu, Jalan Pemuda Ditutup

Untuk tahun ini, dalam ritual Ciswak mengundang tiga Tatung, dua berasal dari Semarang sedangkan satu Tatung dari Pekalongan. Tetapi untuk tahun depan akan mengundang tujuh Tatung dari luar Jawa, hal ini berkaitan dengan semakin banyak umat yang mengikuti.

Hu Locu Vihara Thay Shang Lauw Tjin, A Nurdin Hadi Semito mengatakan, ritual Ciswak itu sendiri sudah dilakukan yang ke delapan dan dilakukan setiap penghitungan penanggalan lunar bulan tujuh tanggal satu yang bertepatan pada tanggal 1 Agustus. “Yang mengikuti ritual itu tidak hanya warga Kota Semarang, tetapi juga dari Pekalongan, Cirebon, Jakarta, bahkan ada dari Bali,” katanya.

Salah seorang umat, Maria Vera, 54, mengaku mengikuti ritual Ciswak setiap tahunnya dengan harapan dapat menghilangkan aura jelek menjadi baik serta melancarkan rezeki. “Banyak manfaatnya mengikuti Ciswak ini karena dapat membersihkan aura jelek menjadi baik. Selain itu berdoa agar dimudahkan mendapatkan rezeki,” katanya. (hid/zal)

Baca juga:  Maret, Stasiun Terapkan Kartu Elektronik

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya