alexametrics

Buka Segel, Karaoke MAJT Beroperasi Lagi

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG-Segel Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP)  Pemerintah Kota Semarang di tempat hiburan karaoke di sekitar Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) telah dibuka entah oleh siapa. Tempat-tempat karaoke itu kembali buka seperti biasa. Leluasa sejak  pagi hingga dini hari.  Padahal Jumat (19/7) lalu, sedikitnya 16 tempat hiburan tersebut telah disegel dengan garis kuning oleh petugas Satpol PP Kota Semarang. Hal itu dilakukan setelah ada aksi keprihatinan masyarakat yang disuarakan melalui doa bersama dan istighotsah oleh Aliansi Remaja Masjid di jalan masuk MAJT.

Namun, belum seminggu berselang, Jumat (26/7) lalu, seluruh tempat karaoke telah buka kembali. Segel warna kuning telah lepas dan hilang. Suara musik disetel keras dan hingar-bingar orang bernyanyi sambil berjoget pun kembali terdengar. Bahkan lebih menggelegar.

Cekakak-cekikik suara tawa puluhan wanita penghibur bercampur tawa keras para lelaki sambil memegang botol minuman keras kembali riuh tiada henti. Terutama di malam hari. Sebagian sampai larut menjelang pagi. Warga sekitar pun kembali resah. Mereka kembali merasa sangat terganggu dengan aktivitas yang disebut “ajang maksiat” tersebut.  Warga melihat ada pelanggaran serius, bahkan terkesan ada pelecehan terhadap Pemkot Semarang.

Baca juga:  Jukir dan Warga Masih Kesulitan Terapkan Parkir Elektronik

“Kami melihat ada tindakan pelanggaran dengan rusaknya segel tersebut. Terkesan ada pelecehan terhadap lembaga pemerintah. Yaitu, Satpol PP Kota Semarang,” ujar warga berinisial M yang identitasnya minta dilindungi.

Karena kenyataan meresahkan itu, sejumlah warga kembali mengajak rembugan Aliansi Remaja Tiga Masjid untuk menyikapi. Digelarlah rapat yang diikuti perwakilan warga, organisasi kepemudaan, dan para pengurus remaja tiga masjid. Yaitu, Remaja Islam Masjid Agung Jawa Tengah (Risma JT), Keluarga Remaja Masjid Agung Semarang (Karisma), dan Ikatan Remaja Masjid Raya Baiturrahman (Ikamaba). Rapat remaja masjid diadakan di Masjid Agung Semarang (Masjid Kauman) pada Rabu (31/7/2019) dan di MAJT pada Kamis (1/8/2019).

Di rapat kedua, para sesepuh ikut hadir. Yaitu, perwakilan Nadhir/Takmir Masjid. Hal itu karena melihat persoalan telah serius dan perlu tekanan lebih nyata kepada pemerintah.

Baca juga:  GPK Bedah Rumah, Begini Respon Ketua DPW PPP Jateng

Ketua Dewan Pelaksana Pengelola MAJT Prof Dr KH Noor Achmad menyatakan, perusakan segel Satpol PP adalah bentuk pelecehan terhadap pemerintah. Ia mendesak Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi untuk mengambil tindakan tegas atas pelecehan tersebut.

Dikatakannya, apabila penghilangan segel itu dilakukan oleh para pelaku usaha tempat karaoke, maka perlu diserahkan ke polisi untuk melakukan proses hukum. Sedangkan apabila pencopotan segel itu melibatkan orang pemerintah sendiri, maka harus segera diberi sanksi disiplin selain tindakan hukum kepolisian. “Segel Satpol PP hilang atau rusak tanpa ada pencopotan resmi, itu jelas pelecehan terhadap pemerintah. Wali kota harus bertindak tegas. Polisi juga perlu menyelidiki. Beri sanksi pada para pelakunya,” tutur dia usai rapat membahas pengaduan masyarakat di ruang rapat MAJT, Kamis (1/8).

Noor Achmad menegaskan, pemerintah jangan sampai kalah dalam kasus karaoke itu. Pemerintah harus hadir melindungi kepentingan umum masyarakat dan menegakkan aturan yang berlaku. “Negara, dalam hal ini pemerintah Kota Semarang, jangan sampai kalah,” tandasnya.

Baca juga:  Aplikasi Lunpia, Pemandu Pelancong di Kota Semarang

Dalam rapat kedua tersebut diputuskan   Aliansi Remaja Tiga Masjid akan menagih janji Wali Kota Semarang untuk menutup tempat karaoke di sekitar MAJT.

Koordinator Aliansi Remaja Tiga Masjid Ahsan Fauzi menuturkan, pihaknya akan menghadap Wali Kota Semarang, Jumat (2/8), untuk menyerahkan surat aduan masyarakat atas kondisi terkini karaoke di sekitar MAJT.  Sesuai dengan instruksi wali kota saat Aliansi Remaja Tiga Masjid beraudiensi guna menyampaikan pernyataan sikap dan tanda tangan dukungan masyarakat penolakan karaoke di kawasan MAJT dengan Wali Kota Hendrar Prihadi di Balai Kota, Senin (22/7) lalu. Wali kota menyampaikan tidak akan memberikan izin karaoke di kawasan MAJT.

“Saat itu, Pak Hendi mengatakan dengan tegas, sepanjang bangunan belum belum berizin, wali kota tidak akan mengeluarkan izin adanya kegiatan karaoke tersebut. Jika memang sudah berizin, akan ada diskusi serius,” tandas Ahsan. (ida/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya