alexametrics

Fakultas Dakwah IAIN Salatiga Gelar Konferensi Internasional

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Salatiga — Fakultas Dakwah IAIN Salatiga bersama Yayasan Hidayah Bangsa menggelar International Conference on Interdisciplinary Communcation, Management, Empowerment, and Psychology yang ke-2. Kegiatan dilaksanakan di Auditorium Sudent Center IAIN Salatiga pada Jumat (10/6).

Dekan Fakultas Dakwah IAIN Salatiga Dr. Mukti Ali, M.Hum menyampaikanbperlunya memahami setiap individu dari berbagai latar belakang ras, etnis, budaya, agama, jenis kelamin mempunyai kesempatan yang sama untuk belajar dan berprestasi.

Pendidikan multikultural sebagai gerakan pembaruan pendidikan untuk memberikan peluang dan kesempatan yang sama bagi setiap mahasiswa atau individu dari berbagai latar belakang dan untuk mencegah praktik diskriminasi di dunia Pendidikan.

Melalui tangan panjang jurnal inject, imej, dan ijip nya akan mencoba merefresh konsep sufi itu ke dalam perspektif komunikasi, pemberdayaan, dan psikologi ke dalam seminar internasional bertajuk “Beyond Sufism in Communication, Empowerment dan Psychology” dengan menghadirkan narasumber internasional di bidang studi Islam, antara lain Dr. Robert John Pope, M.Pd.I, peneliti asing yang menggeluti studi Islam, Dr. Christhoper M. Joil, antropolog asal New Zealand, yang juga amat concern dalam meneliti tentang studi Islam.

Baca juga:  Perubahan Nama Lapangan Pancasila Diprotes

Dari dalam negeri, terdapat Dr. Hamid Nasuhi, pengajar tasawwuf di UIN Jakarta dan peneliti senior di lembaga itu, dan Prof. Dr. Hj. Martin Kustati, M.Pd, Rektor UIN Imam Bonjol Padang. Kegiatan  juga dibarengi Seminar Internasional.

Prof. Dr. Adang Kuswaya, M.Ag dalam materinya memaparkan, praktik sufi tidak hanya bisa diasumsikan sebagai ibadah zuhud dan zikir dalam pengertian ritual. Dalam kondisi modern dan era teknologi kini, praktik sufi pun masih relevan dan bahkan sangat diperlukan, dengan catatan bahwa pengertiannya tidak sesempit yang dipahami sementara orang (mengasingkan diri dari komunikasi massa).

“Tetapi ia harus dijabarkan dalam arti yang kontekstual. Oleh sebab itu, mendekatkan diri dan meminta pertolongan kepada Allah (isti’anah dan istighatsah), tetap relevan dan satu keharusan agar memperoleh hidup sehat dan layak: jiwa yang seimbang, pribadi yang luhur dan hati yang tenang. Di sinilah makna sufisme itu: mengedapankan nilai ajaran agama, spiritualitas dan aspek esoteris yang menjadi benteng kepribadian, supaya terhindar dari hiruk pikuk materialisme dan hedonisme, terutama dalam kehidupan global yang penuh tantangan ini,” jelas Prof Adang yang juga Kepala Lembaga Penjaminan Mutu IAIN Salatiga.

Baca juga:  Daging Impor Masuk Pasar Tradisional Salatiga

Dr. Christoper M. Jall, menyebut bahwa Agama Islam merupakan agama yang tersebar luas di seluruh penjuru dunia, baik menjadi agama mayoritas ataupun hanya minoritas. Sebut saja di Asia Tenggara, beberapa negara di kawasan ini pun menjadikan Islam sebagai agamamayoritas dan minoritas.

“Di Thailand, agama Islam menjadi agama minoritas,karena mayoritas penduduk Thailand merupakan pemeluk agama Budha. Jika kita ingin melihat muslim Thailand itu bagaimana, kita bisa melihat muslim di Indonesia karena Muslim disana berakar dari muslim disini,” terangnya kepada ratusan peserta seminar.

Sedangkan Dr. Robert Jhon Pope M.Pd.I berpendapat bahwa Pendidikan Islam harus berkembang untuk mempersiapkan masyarakat multikultural. Pendidikan multikultural merupakan proses pendidikan yang komprehensif dan mendasar bagi semua peserta didik.

Baca juga:  Habibah Sandra Dewi, Sosialisasi Anduk dengan Video Pendek

Jenis pendidikan ini menentang segala bentuk rasisme dan diskriminasi sehingga masyarakat bisa menerima dan mengafirmasi pluralitas yang tereflekasikan di antara peserta didik, komunitas mereka dan guru-guru.

“Kurikulum Agama Islam harus menghasilkan generasi yang produktif dan kreatif. Pelajar harus berfikir secara observatif, kritis, dan menganalisa. Kesadaran akan keberagaman adalah hal yang perlu ditekankan. Belajar secara obyektif, tanpa rasa diskriminasi, siap belajar kepada setiap kejadian. Pendidikan tidak hanya menyentuh kognitif tetapi harus menyentuh hati,” ungkapnya.

Selain seminar nasional Fakultas Dawkah jugan mengundang para akademisi dan peneliti, serta mahasiswa untuk bisa ikut berpartisipasi pada ajang Call for Papper. Dalam ajang itu, para akademisi, dan ilmuan terpilih diberi kesempatan untuk mengirimkan paper sesui bidangnya.

Paper terpilih akan diapresisasi dengan publikasi melalui jurnal inject, imej atau ijip, sesuai dengan skope keilmuan makalah yang diajukan. Ketiga jurnal itu, dua jurnal sudah terakreditasi tingkat nasional (sinta) dan satu lainnya dalam proses pengajuan. (sas/bas)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya