alexametrics

UKSW Terima Kunjungan Konsulat Jenderal Australia

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Salatiga – Rektor Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Neil Semuel Rupidara Ph.D., menerima kunjungan Konsul Jenderal Fiona Hoggart dari Konsulat Jenderal Australia di Surabaya.

Ia diterima di ruang Bina Karya Gedung Administrasi Pusat (GAP), Fiona Hoggart beserta dua staf lainnya juga diterima Pembantu Rektor I Bidang Akademik Dr. Iwan Setyawan dan Direktur Language Training Center (LTC) Johanna Likumahuwa.

“Kunjungan ini suatu kehormatan bagi kami dan berharap bisa membangun lebih baik lagi relasi yang sudah ada sejak tahun 1971,” kata Neil Rupidara.

Fiona Hoggart menyatakan merupakan suatu kehormatan bisa berkunjung ke kampus yang dikenal sebagai Indonesia mini ini. Fiona baru saja ditugaskan pada Konsulat Jenderal Australia di Surabaya sejak Februari lalu. Ia mengaku telah mendengar nama UKSW ketika dirinya belajar bahasa Indonesia di Monash University di tahun 1980-an.

Baca juga:  Kenalkan Salatiga lewat Pameran Perpustakaan dan Arsip

“Nama UKSW sudah terkenal dan salah satu tokohnya adalah Bapak Arief Budiman. Karena itu adalah suatu kehormatan bagi saya akhirnya bisa datang kesini,” katanya.

Salah satu topik yang dibicarakan adalah pelaksanaan Program Belajar Bahasa dan Budaya Indonesia (PIBBI) yang sudah diadakan sejak tahun 1971. Dikatakan Neil Rupidara, PIBBI yang diselenggarakan oleh Language Training Center (LTC) atau pusat bahasa UKSW ini juga diikuti oleh banyak warga Australia.

“LTC UKSW adalah lembaga pertama yang mengadakan program PIBBI dan masih berjalan sampai saat ini. Di masa pandemi ini kami mengadakannya secara online,” imbuh Neil Rupidara.

Ditambahkan Johanna Likumahuwa, mahasiswa atau warga Australia tidak hanya mengikuti PIBBI reguler saja. Tetapi juga program yang diselenggarakan bekerja sama dengan Australian Consortium In Country Indonesian Studies yaitu PIBBI ACICIS.

Baca juga:  Toleransi jangan Sekedar Slogan

Fiona berharap program ini bisa berjalan dengan pertemuan tatap muka seperti sebelum pandemi. “Kalau ada mahasiswa Australia mulai datang kembali, semoga mereka bisa belajar bahasa Indonesia seperti dulu. Salatiga dikenal kota yang dingin dan mahasiswa Australia yang belajar disini selalu dijaga, diperlakukan dengan baik sehingga mereka betah di sini,” kata Fiona. (sas/fth) 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya