alexametrics

Seniman Grafiti Salatiga Terus Bermunculan

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Salatiga – Dahulu grafiti identik dengan vandalisme. Namun, kini seniman grafiti ternyata membuat mata tercengang dengan hasil karya yang bisa dinikmati pemandangnya.

Belasan orang tampak berjajar di jalan Osamaliki, sebelum persimpangan Pasar Rejosari. Mayoritas berkaos hitam. Mereka berjajar dengan membawa puluhan kaleng cat semprot. Ada pula yang membawa kuas roll dan menggosokkan didinding pagar.

Semua sibuk. Ada yang menyemprot langsung ke dinding. Tapi ada pula yang membandingkan dengan sketsa yang sebelumnya sudah dibuat.

“Ini kesibukan bersama. Kebetulan sedang berkumpul,” tutur Raditya Huda, salah satu tokoh grafiti Salatiga. Mereka berkumpul dalam satu hobi yang sama. Meski komunitas itu belum memiliki nama, namun cukup aktif.

Baca juga:  Amankan Aset, Percepat Sertifikasi Tanah

Ia menuturkan, aktifitas ini adalah untuk memperindah pagar yang sebelumnya sudah tergambar mural atau grafiti lama. “Kami tidak menggambar di tembok yang bersih. Namun tempat yang sudah banyak coretan sebelumnya,” tutur alumnus FBS UKSW tersebut.

Saat ditanya perbedaan mural dan grafiti, memang hampir sama. Namun kebanyakan mural itu berisi gambar. Sementara grafiti banyak yang berupa coretan tulisan.

“Grafiti lebih memunculkan narsisnya pembuat. Identitas pembuatnya kental. Sedangkan mural banyak juga yang berupa pesan moral. Selain itu bahan yang digunakan juga berbeda,” Imbuh Adi Utomo, senior komunitas lainnya.

Pada awal masuk Indonesia, hampir semua menggambar dengan menggunakan cat tembok. Kemudian eranya berubah dengan adanya cat semprot seperti pilox. Perkembangan kebutuhan, akhirnya kini ada cat khusus untuk menggambar di dinding.

Baca juga:  Ruang Tahanan Digeledah, Napi Dites Urine

“Kalau cat seperti pilox, berbasis minyak. Jadi hasil semprotan akan mengkilap, bahkan kalau kebanyakan akan menetes,” terang Adi.

Sementara untuk cat semprot saat ini, berbasis serbuk. Sehingga langsung menempel dan tidak mbleber jika kebanyakan menyemprotnya.

Selain dari Salatiga dan sekitarnya, ada juga lima orang dari Yogyakarta yang ikut kegiatan tersebut. Salah satunya adalah Candra. Ia mengaku sengaja datang ke Salatiga untuk memuaskan dirinya dengan menggambar grafiti.

“Sudah hobi sejak kecil. Bahannya ya beli sendiri dan dipakai sendiri. Rasanya puas jika selesai satu karya,” tutur gadis berkulit putih itu. (sas/bas)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya