Hari Amal Bakti Refleksi Rasa Syukur

161
PARA EMENANG: Wali Kota Yuliyanto didampingi rektor IAIN Prof Zakiyuddin berfoto bersama para penerima hadiah lomba.(ISTIMEWA)
PARA EMENANG: Wali Kota Yuliyanto didampingi rektor IAIN Prof Zakiyuddin berfoto bersama para penerima hadiah lomba.(ISTIMEWA)

RADARSEMARANG.ID, SALATIGA – Peringatan Hari Amal Bakti (HAB) Kementerian Agama merupakan refleksi rasa syukur dan penghargaan terhadap jasa-jasa para perintis dan pendiri Kementerian Agama. Kementerian Agama sendiri dibentuk pada 3 Januari 1946 oleh Menteri Agama pertama, Mohammad Rasjidi, dan lahir di tengah kancah revolusi fisik Bangsa Indonesia mempertahankan kemerdekaan dari penjajahan.

Sebagai bagian dari perangkat bernegara dan berpemerintahan, Kementerian Agama hadir dalam rangka pelaksanaan pasal 29 Undang-Undang Dasar 1945. Dimana dalam UUD 1945 pasal 29 ditegaskan bahwa, Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa dan Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing, dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.

Ketentuan tersebut mengandung pengertian dan makna dasar Ketuhanan Yang Maha Esa, merupakan fundamen moral yang harus melandasi penyelenggaraan negara, pemerintahan dan pembangunan serta menyinari seluruh ruang kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Selain itu juga, negara secara aktif melindungi hak dan kewajiban beragama dalam masyarakat serta kemerdekaan beribadat bagi setiap pemeluk agama.

Hal itu disampaikan Wali Kota Salatiga, Yuliyanto selaku inspektur upacara, saat menyampaikan amanat Menteri Agama RI, Fachrul Razi pada Peringatan Hari Amal Bakti (HAB) ke-74 Kementerian Agama di Kampus III IAIN Salatiga, Jumat (3/1).

“Dalam negara Pancasila, siapa pun dengan alasan apa pun, tidak diperkenankan melakukan propaganda anti-agama, penistaan terhadap ajaran agama dan simbol-simbol keagamaan, menyiarkan agama dengan pemaksaan, ujaran kebencian dan kekerasan terhadap pemeluk agama yang berbeda. Demikian pula segala kebijakan pemerintah tidak boleh bertentangan dengan kaidah agama dan ideologi negara,” jelas Yuliyanto.

Upacara diikuti ratusan peserta dari berbagai instansi dan juga sekolah yang bernaung dibawah Kemenag. peringatan juga ditandai dengan berbagai lomba. Hadiah diserahkan setelah upacara. (sas/bas)