alexametrics

Tarian Masal Tutup Pagelaran Budaya Indonesia

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, SALATIGA – Tarian masal oleh lima ratus mahasiswa baru (maba) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) menutup rangkaian Pagelaran Budaya Indonesia di halaman Kantor Pemerintah Kota Salatiga, Rabu (18/9) malam.

Menggunakan kostum merah dan putih, mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia ini kompak mempersembahkan empat tarian yakni Flobamora Bersatu, Yospan, Toba Naulli, serta tari Poco-poco.

Erik Hallatu, selaku pelatih menyebut untuk tampil di acara kemarin mereka berlatih selama kurang lebih dua minggu di sela-sela aktivitas perkuliahan. Tarian tradisional dari sejumlah daerah di Indonesia sengaja dipilih untuk mengajak mahasiswa menghargai budaya serta menunjukkan bahwa tarian tradisional tidak kalah menarik dibandingkan tarian modern.

Baca juga:  Jelajahi Kampus UKSW pakai Virtual Tour

Salah satu maba yang ikut ambil bagian dalam tarian masal nusantara ini mengatakan kalau dirinya senang dapat lebih mengenal kebudayaan daerah lain. “Sangat senang bisa berkenalan dengan ratusan teman dari daerah lain dan mempelajari tarian mereka,” kata Gabriel Gebi mahasiswa Fakultas Teknologi Informasi (FTI) asal Nusa Tenggara Timur (NTT).

Sejak dibuka Senin (16/9) sore, kegiatan yang masih menjadi rangkaian Orientasi Mahasiswa Baru (OMB) UKSW 2019 ini tidak pernah sepi pengunjung. Di hari ketiga pengunjung kembali disuguhi penampilan mahasiswa etnis yang membawakan kesenian musik dan tari.

Sejumlah tarian dan kesenian musik disuguhkan dengan apik oleh mahasiswa etnis Minahasa, Batak, Maluku, hingga Sumatera Selatan. Adapula tarian kolaborasi oleh mahasiswa etnis Maluku dan Sumatera yang membawakan tarian Hedung, Ebo, Lego-lego dan Cha-Cha.

Baca juga:  PSISa Salatiga Optimistis Lolos Fase Grup E Liga 3 Jawa Tengah

Pembantu Rektor III UKSW, Dr. Andeka Rocky Tanaamah, S.E., M.Cs., dalam kesempatan kemarin menegaskan bahwa UKSW dan Salatiga adalah sebuah kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. UKSW sebagai miniatur Indonesia dan Salatiga sebagai kota toleran. “Saya berharap kita belajar bersama-sama untuk saling menghormati suku, agama dan ras. Jadikanlah perbedaan kebudayaan sebagai identitas kita, menjadi bagian yang hidup dalam diri kita. Perbedaan bukan penghalang untuk menjadi satu Indonesia,” imbuhnya.

Adapun turut menjadi agenda dalam kegiatan pagelaran budaya ini adalah Welcome Dinner. Sedikitnya 400 perwakilan mahasiswa dari dua puluh etnis yang ada di UKSW diundang dalam jamuan makan malam oleh walikota Salatiga, Selasa (17/9) di rumah dinas. Wali Kota Salatiga, Yuliyanto, menyebut bahwa terwujudnya Salatiga sebagai salah satu kota tertoleran di Indonesia tidak lepas dari dukungan mahasiswa UKSW.

Baca juga:  Grand Wahid Hotel Salatiga Gelar Upacara Kemerdekaan

“Di Salatiga telah ada 27 etnis yang hingga saat ini dapat hidup bersama dengan baik, selamat belajar disini dengan penuh tanggung jawab. Jadikanlah Salatiga sebagai rumah kedua,” ujar Yuliyanto.

Diakhir, Yuliyanto mengajak serta jajaran forkopimda, 20 mahasiswa perwakilan etnis, serta pimpinan UKSW yang hadir dalam acara tersebut untuk bersama-sama menyanyikan lagu Indonesia Pusaka. (sas/bas)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya