alexametrics

Supervisi KTR, Tekan Perokok Pemula

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, SALATIGA – Saat ini telah terjadi peningkatan prevalensi perokok usia kurang dari 18 tahun sebesar 9,1 persen. Padahal target RPJM pada tahun 2019 ini adalah 5,4 persen. Dengan demikian ada peningkatan hampir 2x lipat dari target yang telah ditentukan.

Hal itu diungkapkan dr. Aris dari Direktorat Pencegahan Penyakit Tidak Menular, Kementerian Kesehatan RI saat audiensi tentang implementasi program KTR di Kota Salatiga bersama MTCC-UMY dan Kementerian Kesehatan RI.

Menurutnya, pihaknya sangat mengapresiasi terhadap apa yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kota Salatiga. Meski demikian, dr Aris meminta agar dapat Dinas Kesehatan dapat merengkuh berbagai aspek, mengingat saat ini merupakan darurat merokok untuk generasi muda.

Baca juga:  Pandemi, Penerimaan Cukai Rokok Justru Naik 83 Persen

“Kita harus berupaya mengendalikan peredaran rokok bagi generasi muda, karena dari tiga orang usia 15 tahun ke atas (dewasa) salah satunya adalah perokok. Ini merupakan contoh yang buruk untuk generasi muda,” papar Aris.

Salah satu caranya adalah dengan mengupayakan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) yakni memberikan ruang yang terbatas bagi para perokok untuk tidak menghisap rokok sembarangan. Bukan berarti melarang, tapi menghentikan kebiasaan merokok di depan orang yang tidak merokok.

Upaya pembatasan ruang bagi perokok, menurut Aris bertujuan untuk melindungi orang yang tidak merokok dari penyakit akibat rokok. Sebab, rokok dinilai dapat menyebabkan kematian dini akibat penyakit jantung, stroke, gagal ginjal kronis dan kanker.

Baca juga:  Pembangunan Alun-Alun Pancasila Rampung

Berbagai upaya dilakukan oleh Indonesia dalam menyelesaikan masalah berkaitan dengan tembakau, meskipun saat ini Indonesia belum mengakses ratifikasi Framework Convention on Tobacco Control (FCTC).

Wali Kota Salatiga, Yuliyanto menyatakan persetujuan dan dukungannya terhadap sosialisasi dan pembatasan tempat merokok atau Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di Kota Salatiga. Merebaknya perokok pemula dan pelajar merokok dinilai sudah merambah hinggga ke tingkat lini, oleh karena itu perlu adanya campur tangan pemerintah, dalam hal ini adalah Dinas Kesehatan Kota (DKK) dan Dinas Pendidikan.

“Peraturan (Peraturan Daerah dan Peraturan Wali Kota) yang sudah diberlakukan bisa ditinjau kembali dan dilakukan supervisi, agar apa yang sudah menjadi komitmen terkait kesehatan dan kekhawatiran gangguan kesehatan akibat rokok pada anak usia dibawah 18 tahun, bisa dikendalikan,” jelasnya. (sas/bas)

Baca juga:  Terima 11 Kendaraan Dinas, Polres Salatiga Genjot Pelayanan Masyarakat

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya