alexametrics

Gadget Picu Depresi Anak

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, SALATIGA – Gejala depresi yang dialami pelajar di kota Salatiga akibat bermain gadget sudah cukup memprihatinkan. Jika tidak segera ditangani, maka kondisi itu akan mengganggu psikis dan fisik siswa. Saat ini, ada siswa yang sudah enggan sekolah dan mengamuk jika permintaannya tidak dituruti orang tuanya.

Hal itu dipaparkan Dessy serta Angkit Kinasih, dosen dari Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UKSW saat memberikan paparan di SMP Stella Matutina. Sosialisasi dilakukan kepada ratusan murid SMP dan puluhan guru sekolah tersebut.

“Saat ini gejala gangguan kejiwaan akibat terlalu banyak bermain gawai kepada anak – anak memang sudah membahayakan. Beberapa sudah terindikasikan mengalami depresi,” terang Dessy dalam kegiatan itu.

Baca juga:  Gudang Bahan Roti Ludes Terbakar

Dijelaskan pula, setiap anak memiliki titik depresi. Dimana jika itu terjadi, maka akan terjadi gangguan fisik dan psikis bagi anak. Selain itu juga akan mengganggu lingkungan sosialnya. Beberapa indikasi adanya gangguan kejiwaan antara lain konsentrasi menurun, perilaku mulai aneh, susah untuk fokus hingga emosi labil.

Sementara tingkatannya depresi ada yang rendah sampai tinggi, mendekati bipolar atau kejiwaan ganda. Mengenai penyebabnya memang banyak kemungkinan mulai dari tekanan di sekolah, tekanan sosial, tekanan dari media sosial (korban perundungan), tekanan kluarga, hingga bisa diakibatkan kisah cinta yang gagal.

Upaya yang perlu dilakukan sebagai antisipasi untuk mengurangi tingkat depresi anak yakni dengan memberikan mainan tradisional yang sudah jarang dilakukan. Permainan tradisional antara lain gobaksodor, bola kasti, kelereng, dakon, egrang, hingga bermain layangan.

Baca juga:  Betonisasi Jalan di Kelurahan Kauman Rampung

Humas SMP Stella Matutina Cahya Triastarka menuturkan, kegiatan ini merupakan salah satu bentuk pengabdian masyarakat dari UKSW dengan memberikan sosialisasi mengenali indikasi gila dan depresi serta cara menurunkan gejalanya dengan permainan tradisional.

“Dengan permainan tradisional siswa menjadi bisa senang dan membangun kerjasama tim, kompak, sprtif. Pernah ada penelitian, memang ada pengaruh positif dengan permainan tradisional. Kini kami sudah sering menyelipkan permainan itu dalam pelajaran olahraga anak – anak,” jelas   Cahya Triastarka kepada Radar Semarang. (sas/bas)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya