alexametrics

Ditolak di Salatiga, Berdiri di Getasan

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, SALATIGA – Masyarakat diharapkan tak salah kaprah dalam mensikapi keberadaan rumah duka. Keberadaannya bukan untuk salah satu golongan, tetapi untuk semua masyarakat yang membutuhkan. Selain itu, rumah duka berbeda dengan krematorium yang digunakan untuk melakukan kremasi jenazah.

Hal itu disampaikan politisi senior, Teddy Sulistio kepada awak media terkait kekecewaannya atas kegagalan pembangunan rumah duka di wilayah Salatiga. “Saat ini, rumah duka Gotong Royong Salatiga justru berdiri di Kabupaten Semarang. Saya sangat sedih dengan kondisi ini,” terang Teddy.

Ia mengaku meminta maaf, perjuangannya membangun rumah duka di Salatiga tidak berhasil. Menurutnya, ini adalah tamparan keras bagi Kota Salatiga yang berjuluk kota yang memiliki toleransi tinggi. “Mbrebes mili saya,” ujar politisi PDIP ini.

Baca juga:  Jadikan Donor Darah sebagai Gaya Hidup

Rumah duka yang saat ini terbangun di wilayah Kabupaten Semarang cukup megah. Lokasinya dalam kisaran 50 meter dari batas Kota Salatiga di Kelurahan Gamol. Tepatnya ikut Desa Sodong, Kelurahan Poloboga, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang.

Dari depan ada papan nama yang tertuliskan Rumah Duka Perkumpulan Sosial Gotong Royong Salatiga. Masuk ke dalam, ada bangunan ruangan dengan ukuran sekira 20 x 15 meter persegi. Sementara di depannya, hamparan lahan berpaving yang digunakan sebagai lahan parkir. Cukup luas dan bisa menampung puluhan mobil.

Pendiri Perkumpulan Urusan Kematian Gotong Royong, Gunawan Yuliantoro menuturkan bahwa pihaknya membangun di lokasi tersebut setelah dua lokasi sebelumnya gagal direalisasi. Sebelumnya, perkumpulan ini memiliki rumah duka di dekat RS dr Asmir, Ngawen. Di lokasi tersebut berdiri sejak tahun 1998.

Baca juga:  Diduga Kelelahan, Mahasiswa Salatiga Meninggal Usai Ikuti Kegiatan Mapala di Gunung Telomoyo

Kemudian, lokasi tersebut hendak berpindah ke lahan milik Perkumpulan Bancakan, Sidorejo yang memiliki luas 4000 meter. Namun pembangunannya selalu terganjal berbagai permasalahan. Akhirnya dipilih satu lokasi baru yakni di Ngawen dengan luasan tanah 2300 m2.

“Lokasi di Ngawen ini sebenarnya bagus karena berhadapan dengan makam, sisi–sisi lain adalah kebun dan tidak dekat dari warga. Namun ada spanduk (penolakan) dan akhirnya gagal,” jelas Gunawan didampingi Sendi Handoko dan Wijaya, pengurus lainnya.

Akhirnya mereka mendapatkan lahan seluas 5189 m2 dan warga tidak ada yang menolak. Hingga akhirnya dilakukan pembangunan selama 12 bulan dan kini sudah selesai. “Kami murni bergerak di bidang sosial. Kami berharap ke depan ada dampak positif bagi warga sekitar,” imbuh dia. (sas/ida)

Baca juga:  Imabkin Harus Beri Kontribusi Pendampingan dan Konseling Mahasiswa

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya