alexametrics

Sulap Air Rob Jadi Air Minum

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Pekalongan – Warga Degayu Pekalongan Utara mendapat pelatihan membuat alat pengubah air rob menjadi air siap minum. Inovasi tersebut sebagai upaya adaptasi warga terhadap lingkungan yang menjadi langganan rob.

“Ini adalah persoalan bertahan hidup. Mau tidak mau kita harus beradaptasi,” terang Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan Bencana BPBD Kota Pekalongan Dimas Arga Yudha Minggu (26/12).

Pemerintah Kota Pekalongan sendiri sudah membuat langkah penanganan banjir rob. Mulai dari penataan Kali Gambus di sekitar permukiman, peninggian jalan, dan membuat tanggul laut. Selain langkah penanganan, butuh inovasi untuk memanfaatkan kondisi sekitar.

“Pelatihan membuat penyaringan air rob yang bersifat payau menjadi air tawar ini, menjadi solusi menarik bagi warga kami,” ujarnya.

Baca juga:  Soal Tanggul Rob, Pemkot Akui Banyak Catatan dari DWA Belanda

Dosen Teknik Geodesi dan Geomatika ITB Sella Lestari Nurmaulia menjelaskan, suatu bencana terjadi karena adanya ancaman namun kemampuan atau kapasitas untuk bertahan rendah. Agar bencana berkurang, warga harus bisa bertahan hidup. Dengan memetakan wilayah, ancaman terbesar, potensi apa yang bisa mengurangi bencana tersebut, termasuk menentukan jalur evakuasi dan titik kumpul ketika bencana menimpa. “Salah satunya, bertahan hidup dengan memenuhi kebutuhan,” papar Sella.

Sementara itu, warga Kelurahan Degayu Pekalongan Utara khususnya RW 4, mendapat pelatihan membuat alat yang mampu mengurangi kadar garam berlebih (desalinasi) dari ITB. Alat tersebut memanfaatkan prinsip evaporasi yang mengandalkan sinar matahari. “Kami pilih daerah sini, karena paling cocok dan warga sangat membutuhkan,” ujar mahasiswi Oseanografi ITB Salwa Azharelfa.

Baca juga:  Siap Kawal Tingkatkan Keterbukaan Informasi Publik

Bahan pembuatan alat ini mudah didapat. Untuk membuat kotak besar bisa pakai kayu sengon, plastik mika, pipa ukuran 2 inci, dan plastik mulsa. Untuk alat filtrasi, tersusun dari lapisan, spons, zeolite/manganese, spons, arang, spons, silika, spons, sabut kelapa, dan spons.

Zeolite ini mampu menyerap logam berat. Sedangkan arang untuk menetralisir bau, menjernihkan air, dan menghilangkan kotoran. Silika digunakan untuk mengurangi padatan tersuspensi dan sabut kelapa berguna sebagai penyaring kotoran. Alat sederhana yang dibuat mampu menampung 20 liter air.

Cara kerjanya, air payau atau asin yang dimasukkan di dalamnya akan dijemur di bawah panas matahari. Ketika terjadi penguapan, garam akan tertinggal di plastik mulsa karena memiliki masa yang lebih berat, sementara air murni akan menguap dan menempel di bagian plastik mika. Karena konstruksinya miring, air tersebut akan turun memasuki wadah penampungan.

Baca juga:  Dewan Minta Relokasi Pedagang Dikaji Ulang

“Hasil akhirnya adalah 40 persen dari total air yang dimasukkan menjadi tawar,” ungkap Filan Muhammad, salah satu mahasiswa ITB.

“Alat sederhana ini mampu menyuntikkan semangat bagi kami. Agar bisa bertahan hidup di tanah kelahiran,” seru Rasulan, salah satu warga RW 4, Kelurahan Degayu. (han/zal)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya