alexametrics

Hidupkan Usaha Kecil, Masifkan Gerakan Ayo Jajan

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Berbagai usaha untuk memulihkan kondisi ekonomi dan kesehatan masyarakat yang terdampak pandemi Covid-19, mulai dilakukan Pemerintah Kota (Pemkot) Pekalongan. Seiring menipisnya kasus Covid-19 dan masifnya gerakan vaksinasi.

Wali Kota Pekalongan HA Afzan Arslan Djunaid SE menegaskan usai konsentrasi pada pemulihan kesehatan. Kini kami genjot pemulihan ekonomi. Salah satunya melalui sektor usaha kecil.

Sektor usaha kecil baik mikro maupun menengah, berhubungan langsung dengan masyarakat. Untuk itu, berbagai langkah sudah dilakukan. Mulai dari Gerakan Ayo Jajan! untuk membantu pedagang kecil. Pemberdayaan UMKM dalam pembuatan masker. Fasilitasi platform dan pelatihan digital marketing bagi UMKM. Pelatihan keterampilan kerja hingga pelatihan ekspor bagi sektor UMKM. “Seperti pemerintah lain pada umumnya, kami juga ada keterbatasan anggaran. Untuk itu, diperlukan kerjasama dengan sektor lain,” jelas Aaf – begitu sapaan akrab wali kota.

Perlu kerjasama multisektor, mulai dari BUMN, BUMD, swasta, para pengusaha, hingga para ASN sendiri. Utamanya untuk mendorong agar ada gerakan sosial. Selain bisa memberikan pelatihan kreatif, bisa membantu langsung dalam bentuk bantuan sosial, mulai bantuan sembako hingga bantuan usaha bisnis dengan koneksi dagang.

Sejauh ini, kondisi ekonomi masyarakat di Kota Pekalongan masih terdampak pandemi Covid-19. Berdasarkan data BPS Kota Pekalongan tahun 2021, terlihat dari PDRB atas harga konstan Kota Pekalongan tahun 2019 sebesar Rp 7.477.425,04 menurun menjadi Rp 7.337.833,89 pada tahun 2020. Perlu pemulihan dan strategi serta inovasi untuk memulihkan kondisi ekonomi masyarakat secara umum.

Beri Kelonggaran bagi Pedagang Kecil

Pedagang kecil terutama pedagang kaki lima (PKL), terdampak hebat selama pandemi Covid-19. Terlebih adanya larangan berjualan selama penerapan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM). Namun Wali Kota Pekalongan HA Afzan Arslan Djunaid SE memiliki kebijakan yang cukup bagus. Dengan melonggarkan usaha PKL dari waktu dan tempat.

“Saya berikan kemudahan berdagang bagi PKL. Namun kami tekankan tetap harus mematuhi protokol kesehatan (prokes) yang ketat,” ucapnya.

Salah satu kebijakannya yang paling menarik adalah membuka kembali pasar pagi di Lapangan Mataram dan Kurinci saat masih status PPKM. Namun dengan berbagai syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi semua pedagang.

Bahkan, sejak dicanangkannya Gerakan Ayo Jajan itu sudah mulai ada kegiatan aksi peduli, seperti berbagi nasi atau makanan lain. Yang mana, makanan tersebut dibeli dari pedagang kuliner kecil untuk dibagikan kepada masyarakat. Istilahnya ngalirisi. Bahkan dirinya juga mulai makan di warung makan atau pedagang kaki lima. “Warung yang terdampak pandemi Covid-19 akibat PPKM, kini bisa banyak pembeli dan bangkit lagi,” harapnya.

Firman, salah satu PKL yang kesehariannya berjualan tahu petis di Lapangan Monumen Juang Kota Pekalongan mengaku Wali Kota A’af adalah pelanggan tetapnya. “Pak Wali Kota pelanggan tetap saya. Walaupun yang beli selama ini ajudannya. Tapi yang makan beliau,” ucapnya bangga.

Gerakkan Ekonomi Kreatif melalui Tiga Kebijakan

Membangkitkan ekonomi melalui sektor ekonomi kreatif, ternyata cukup efektif. Apalagi Kota Pekalongan merupakan Kota Kreatif Dunia yang diakui UNESCO. Salah satu yang perlu dorongan untuk bangkit adalah sektor industri batik yang menyerap ribuan tenaga kerja. Industri batik ini menjadi sektor andalan ekonomi masyarakat Kota Pekalongan.

Wali Kota Pekalongan Achmad Afzan Arslan Djunaid kini fokus pada tiga hal. Pertama, dalam pemulihan sektor ekonomi di bidang perbatikan. Yang akan kembali digenjot adalah mulai dari penanganan limbah batik, kesejahteraan dan keberlangsungan pekerja batik, serta peningkatan pemasaran batik secara meluas.

Dalam pengelolaan limbah, Pemkot Pekalongan juga sudah bekerjasama dengan Komunitas Peduli Kali Lodji (KPKL) yang berkolaborasi dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan Mountrash Avatar Indonesia. Mereka sudah melakukan uji coba teknologi pengolahan air limbah batik dengan bio produk enzimatik dan polyglu. “Tim dari BRIN sudah seminggu ini melakukan uji coba dan hasilnya air baku mutu,” ujarnya.

Kemudian fokus kedua, yaitu bagaimana para pekerja batik yang mayoritas sudah berusia lanjut masih bekerja di perbatikan. Maka ini harus disiapkan generasi penerus pembatik. Jangan sampai batik semakin tambah berjaya, tetapi pekerja atau pembatiknya tidak ada. Atau pekerjaan membatik tidak diminati oleh generasi penerusnya. “Ini yang harus diatasi atau disiapkan generasi penerusnya,” tandasnya.

Diakuinya, sebagian generasi muda sekarang kurang berminat menjadi perajin batik, lantaran kesejahteraannya masih kurang. “Ini harus kami siapkan juga. Meski begitu, para juragan batik juga harus menyertakan BPJS untuk para pekerjanya agar ada jaminan dan pekerjanya betah,” imbuh Aaf -panggilan akrabnya Wali Kota Pekalongan ini.

Sedangkan fokus ketiga, yakni peningkatan produksi dan pemasaran batik yang semakin meluas melalui pelatihan-pelatihan ekspor, digital marketing, maupun mengikutsertakan UMKM industri batik dalam ajang pameran-pameran. Harapannya agar batik semakin dikenal masyarakat luas.

Seperti memfasilitasi pemasaran produk batik online melalui aplikasi WA #lokapasar batik bekerjasama dengan Bank Mandiri dan perusahaan ekspedisi (JNE). Diberikan pelatihan pemasaran digital. Pelatihan vocational design dan branding produk. Desain kemasan. pelatihan wirausaha pemula, virtual expo, promosi produk unggulan melalui pameran APEKSI, hingga pelatihan ekspor.

Sejauh ini sudah banyak program yang direalisasikan Pemkot Pekalongan dalam membantu pemasaran, seperti menyediakan ruang digital bagi para pelaku UMKM melalui Loka Pasar Batik. Ini merupakan aplikasi jual beli berbasis whatsapp yang diluncurkan pada November 2020 lalu. Kini sudah ada 30 UMKM batik yang tergabung dalam Loka Pasar Batik tersebut.

Kemudian ada, Brayan Market. Yakni, fasilitas promosi dan jual beli secara langsung. Pemkot Pekalongan menyediakan lokasi pasar dadakan di setiap kegiatan atau event tertentu di lingkungan Pemkot Pekalongan. “Harapannya, peserta kegiatan bisa menjadi pembeli langsung produk UMKM setempat,” tandasnya.

Kucurkan Bantuan Sosial dan Modal Usaha

Wali Kota Pekalongan Achmad Afzan Arslan Djunaid turut memikirkan kondisi finansial warganya. Upayanya dengan menginisiasi secara pribadi. Kemudian mendorong dan mengajak organisasi, LSM, Forkopimda lintas sektoral, untuk membuat gerakan sosial membantu masyarakat terdampak Covid-19. Terutama saat masa PPKM Darurat, masyarakat kecil dan pedagang kecil sangat terdampak secara finansial.

Hasilnya, kerjasama lintas sektoral tersebut meningkatkan aliran bantuan sosial untuk Pedagang Kaki Lima (PKL), sopir angkot, tukang parkir, dan masyarakat terdampak.

Meski begitu, para penerima bantuan terutama pedagang kaki lima wajib sudah vaksin. Hal ini untuk menumbuhkan herd immunity dan membantu pemerintah memenuhi target vaksinasi. “Selain sehat finansial, mereka juga harus sehat badannya. Untuk itu wajib vaksin juga,” seru wali kota.

Bagi UMKM yang terkendala akibat pandemi Covid-19, selain diberi bantuan sosial untuk kehidupan sehari-hari, pihaknya juga memberikan fasilitas modal kerja. Melalui Dinas Perdagangan, Koperasi, dan UKM Kota Pekalongan telah mengusulkan kepada pemerintah agar 1.000 usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Kota Pekalongan mendapat program Bantuan Presiden Produksi Usaha Mikro (BPUM) masing-masing sebesar Rp 1,2 juta.

Selain itu, di tingkat lokal mendorong koperasi dan lembaga keuangan yang lainnya, untuk diberi kemudahan modal usaha. Walaupun memang harus berhati-hati dalam mengeluarkan pembiayaan karena situasi dan kondisi yang serba sulit. Mengingat ada sekitar 80 persen sektor usaha yang terdampak selama pandemi Covid-19. “Bersyukur, hingga kini belum ada koperasi yang terdampak Covid-19 atau kesulitan akibat kredit macet,” jelasnya.

Tidak hanya secara materi, Pemkot Pekalongan juga memberikan modal usaha berupa peningkatan skill atau keahlian bagi warga setempat. Melalui BLK, digelar pelatihan keterampilan agar masyarakat Kota Pekalongan mampu membuka peluang usaha dan lapangan kerja sendiri. “Ini akan menumbuhkan UMKM baru, sehingga ekonomi semakin menggeliat,” tandasnya.

Mulai dari pelatihan barista, seiring perkembangan coffee shop yang moncer dan menjahit merupakan keahlian yang sangat dibutuhkan. Apalagi usaha konveksi dari skala rumahan hingga perusahaan besar juga sangat banyak di Kota Pekalongan. (han/ida)

Menarik

Artikel Terkait

Terbaru

Lainnya

Populer

Artikel Menarik Lainnya