alexametrics

Tancap Gas di Tahun Padat Program

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Pekalongan – Pemenang Pemilihan Kepala Daerah Kota Pekalongan yang saat ini menjabat sebagai Wakil Wali Kota, Achmad Afzan Arslan Djunaid ingin segera tancap gas begitu dilantik. Sebab, 2021 merupakan tahun padat program, dan masa kepemimpinannya hanya tiga setengah tahun. Sehingga dirasa cukup pendek dalam menyusun program-program di wilayahnya.

Saat kampanye, pria yang akrab disapa Aaf ini tidak banyak mengumbar janji yang muluk-muluk. “Jangka waktu kepemimpinan kita pendek, jadi kami ingin segera bekerja secepatnya,” ucapnya.

Terkait program yang akan dikerjakan pada 2021 mendatang, kata Aaf, tentu akan menyelesaikan banyak program pembangunan yang disisakan oleh pemerintah saat ini. Terutama program yang berhubungan dengan hajat hidup orang banyak. Dia berharap pembangunan besar yang telah mati, untuk segera merealisasikan atau menyelesaikan semua permasalahan di Kota Pekalongan. “Dengan waktu yang sangat singkat kita bikin program itu juga sulit. Selain itu, anggaran program yang mengajukan pemerintah sekarang,” ujarnya.

Untuk itu, dirinya akan mengawal proyek-proyek pembangunan yang saat ini sudah dimulai hingga selesai. Seperti Kawasan Wisata Air yang di Panjang, yang diklaim terbesar di Jawa Tengah. Penyelesaian tanggul pengaman gelombang di Pantaisari dan Slamaran. Mengatasi banjir dan rob di wilayah utara, pembangunan pelabuhan offshore hingga menyelesaikan Pasar Banjarsari. Lalu menyelesaikan program Kotaku di Slamaran serta pembangunan tanggul baru.

Baca juga:  Aaf Terima Penghargaan Tokoh Penggerak Koperasi

“Banyak pekerjaan yang sudah dimulai dan harus kami selesaikan, demi warga kami,” ujarnya.

Aaf yakin, proyek-proyek fisik yang saat ini dan di era kepemimpinannya, nanti akan berimbas dengan warganya, karena bisa multi efek, baik sosial maupun ekonomi.

Objek wisata air diharapkan bisa menjadikan Kota Pekalongan tujuan wisata baik domestik bahkan asing. Tentu saja ini bisa menjadi daya ungkit pertumbuhan ekonomi secara langsung. UMKM akan mendapat angin segar, perhotelan dan restoran akan berkembang pesat.

Hal tersebut ditopang dengan perbaikan tanggul penahan gelombang di sepanjang pantai kota Pekalongan dari Pantaisari hingga Slamaran. “Nanti tanggul di Pantaisari sekitar OB Wisata air juga akan kami tinggikan, agar aman dari rob dan ombak besar,” jelasnya.

Termasuk merapikan kawasan kumuh di wilayah Krapyak dalam program Kotaku juga menjadi program yang wajib diselesaikan. Yang mana, nanti di sepanjang wilayah tersebut juga akan dibangun tanggul, bahkan bisa menjadi kawasan wisata baru. Selain bisa menjadi solusi banjir rob, juga menjadi tujuan wisata baru. “Alhamdulillah progresnya sudah bagus, pembebasan lahan sudah selesai, dan warga juga sudah kita beri tempat tinggal layak, tahun depan kami bangun,” katanya.

Baca juga:  Siap Kawal Tingkatkan Keterbukaan Informasi Publik

Permasalahan banjir rob juga dipengaruhi oleh kondisi sungai di Kota Pekalongan dengan sedimen yang cukup besar. Untuk itu, pihaknya berencana akan berkoordinasi dengan orang Pekalongan yang memiliki pengaruh di wilayah untuk membantu proses normalisasi sungai-sungai di Kota Pekalongan. “Sungai-sungai kewenangannya di Provinsi, maka kita butuh orang kita yang berpengaruh untuk membantu,” jelasnya.

Permasalahan yang menjadi prioritas utama lain, yaitu menyelesaikan konflik Pasar Banjarsari dan segera membangunnya. Karena sudah 3 tahun ini berlarut-larut dan tidak selesai. Untuk itu, pihaknya berencana akan menemui langsung kepada PT penyewa Pasar Banjarsari, meminta dengan baik dan mencari solusi penyelesaiannya. “Kami sedih pasar ini belum terbangun hingga sekarang, padahal sangat dibutuhkan warga kami,” ucapnya.

Kerjasama dengan Daerah Tetangga

Terkait program Pariwisata, Aaf akan duduk bareng dengan dua pimpinan daerah tetangganya, yaitu Bupati Batang dan Bupati Pekalongan. Sebab dia paham, untuk mengembangkan wisata dan SDM-nya, tidak bisa berdiri sendiri. Aaf ingin meniru konsep seperti Malang Raya (Kabupaten Malang, Kota Malang dan Kota Batu), yang bekerja sama mengembangkan wilayah bersama.

Baca juga:  LDII Cetak Bibit Atlet Pencak Silat

Hal ini, juga berimbas dengan kemajuan ketiga wilayah tersebut. “Saya ingin duduk bersama dengan mereka (Batang dan Kabupaten Pekalongan), membicarakan pembagian wilayah secara bersama,” serunya.

Bila pariwisata maju, diharapkan semua warga bisa mendapat penghidupan yang layak. Seperti orang Pekalongan juga bisa bekerja di proyek-proyek di Batang dan Kabupaten Pekalongan dan juga sebaliknya. Selain itu, bisa kerjasama wisata, tidurnya di hotel kota Pekalongan, tapi bisa berwisata di dua daerah tersebut jadi saling menguntungkan baik secara sosial maupun ekonomi.”Kami punya banyak hotel dan restoran, nanti wisatanya bisa ke Curug atau Pegunungan di Batang (atau) Kajen, menginapnya di tempat kami,” serunya.

Aaf juga memahami, ketika berbagai proyek besar dikerjakan di kabupaten tetangga, tentu tetap akan berimbas dengan wilayahnya. Karena kedatangan warga domestik maupun internasional juga akan hadir. Untuk itu, pihaknya akan menyiapkan SDM, baik secara mental maupun skill agar siap jika ada perubahan besar tersebut. Agar tidak kaget jika ada budaya baru yang masuk serta akan siap, jika dibutuhkan tenaganya.

“Sikap kami jika banyak budaya baru yang masuk, akan tetap mempertahankan Pekalongan sebagai Kota Santri, tegas terhadap aturan susila,” serunya. (han/ton)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya