alexametrics

Guru Galang Pengumpulan 1.000 Gadget untuk Siswa Kurang Mampu

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Pekalongan – Memperingati Hari Guru Nasional (HGN) dan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-75 PGRI tahun 2020, guru di Kota Pekalongan menggalang donasi 1.000 gadget untuk siswa kurang mampu.

Pada peringatan kemarin, Dinas Pendidikan (Dindik) bersama PGRI Kota Pekalongan menyelenggarakan upacara bendera yang digelar secara terbatas dan tetap mematuhi protokol kesehatan. Dipimpin Kepala Dindik Drs Soeroso MPd di lapangan SMP Negeri 6 Rabu (25/11/2020).

Kepala Dindik Soeroso menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh guru dan tenaga pendidik yang sudah berdedikasi dan berkontribusi dalam pendidikan di Kota Pekalongan. Dirinya menyoroti pandemi Covid-19 memaksa manusia untuk melakukan adaptasi di segala aspek termasuk pendidikan. Guru akhirnya dituntut untuk melek teknologi agar dapat memberikan pembelajaran jarak jauh (PJJ). “Secanggih apapun teknologi, peran guru tidak dapat tergantikan,” ujarnya.

Baca juga:  Usai Divaksin, Anak-Anak Diajak Main Wahana

Untuk itu, dia berpesan, agar para guru dan tenaga pendidik tetap berbedikasi, berjuang, dan ikhlas untuk terus mengembangkan dan memberikan yang terbaik untuk pendidikan kota Pekalongan. Tetap semangat dan tidak boleh menolak perkembangan. Pembelajaran daring menjadi inovasi baru yang harus terus dikembangkan.

Ketua PGRI Kota Pekalongan Mabruri SPd mengungkapkan PGRI Kota Pekalongan bersama dengan Dindik saling bersinergi menyelenggarakan sejumlah kegiatan sebagai wujud apresiasi terhadap jasa guru. Dari lomba konten video pembelajaran, menyelenggarakan PJJ yang diikuti oleh semua guru dari jenjang PAUD formal atau nonformal sampai jenjang SMP/MTS. “Kami juga penggalangan donasi 1000 gadget untuk siswa kurang mampu,” ucapnya.

Hingga saat ini sudah ada sekitar 190 gadget, dan akan terus menggalang donasi hingga akhir tahun 2020. Sesuai dengan tema yakni Kreativitas dan Dedikasi Guru untuk Indonesia Maju, kreativitas diartikan pada masa yang sulit guru harus tetap mencari cara yang terbaru dan terbaik untuk mengatasi persoalan PJJ. “Guru tidak boleh menyerah bekerja sama dengan orangtua untuk mengupayakan hak pendidikan anak,” seru Mabruri. (han/kom/lis)

Baca juga:  Korsleting, Tiga Rumah Kayu Ludes  

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya