MCK Adaptif jadi Pilot Project

108
MCK ADAPTIF: Kini telah tersedia Mandi Cuci Kakus (MCK) adaptif yang memadai di Kelurahan Bandengan, Kecamatan Pekalongan Utara, Kota Pekalongan.
MCK ADAPTIF: Kini telah tersedia Mandi Cuci Kakus (MCK) adaptif yang memadai di Kelurahan Bandengan, Kecamatan Pekalongan Utara, Kota Pekalongan.

RADARSEMARANG.ID, PEKALONGAN, – Setelah bertahun-tahun mengalami kesulitan dalam mendapatkan akses sanitasi yang layak, kini masyarakat Kelurahan Bandengan, Kecamatan Pekalongan Utara, Kota Pekalongan patut bersenang hati karena telah mendapatkan bantuan Mandi Cuci Kakus (MCK) adaptif.(NORMA SARI YULIANINGRUM/JAWA POS RADAR SEMARANG).

MCK adaptif tersebut merupakan Program Peningkatan Tanggap Darurat dan Pemulihan Bencana Lingkungan (Tangguh) yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kota Pekalongan dan Bina Karta Lestari (Bintari) Foundation.

Wali kota Pekalongan Saelany Machfudz mengaku senang dan lega dengan adanya MCK adaptif tersebut. Pembangunan MCK tersebut dinilai bisa menjadi solusi dan harapan baru bagi masyarakat Bandengan terkait permasalahan sanitasi yang selama ini terjadi di wilayah terdampak rob tersebut. Saelany menambahkan bahwa keberadaan MCK adaptif ini diharapkan dapat menjadi pilot project untuk wilayah lain yang terkena dampak rob.

“Kemandirian dari warga guna mewujudkan MCK adaptif ini sangat saya apresiasi. MCK ini bisa menjadi percontohan dari daerah yang kondisinya sama, apalagi sekarang ada dana kelurahan sebagai stimulan untuk memaksimalkan pembangunan kelurahan,” papar Saelany kepada Jawa Pos Radar Semarang, Senin (10/2).

Di lain pihak, Koordinator Program Yayasan Bintari, Nur Hadi menjelaskan MCK adaptif ini berkapasitas 3.000 liter. Pada sistemnya menggunakan bio filter dimana kotoran yang tertampung akan mengendap selama dua hari. Pada proses selanjutnya kotoran akan diurai oleh mikroba yang sudah ditempatkan di dalamnya. Tak lupa air sisa penguraian dapat dimanfaatkan langsung untuk menyiram tanaman.

“Kotoran yang masuk akan diolah oleh bakteri dan sisanya akan dimanfaatkan untuk tanaman. Jadi, yang keluar betul-betul bersih. Untuk kebutuhan air, MCK ini menggunakan kombinasi air hujan dan air PDAM. Air hujan ditampung kemudian diolah sehingga lebih bersih. Kemudian, MCK ini juga bisa ditinggikan menyesuaikan dengan ketinggian rob dan didesain ramah untuk penyandang disabilitas dan lansia,” papar Nur Hadi.

Ide pembangunan MCK adaptif tersebut muncul setelah pihaknya bersama Universitas Diponegoro Semarang dan Universitas Pekalongan melakukan riset di Kelurahan Bandengan. Adapun dana yang dikucurkan untuk membangun MCK Adaptif ini senilai Rp 160 juta yang berasal dari organisasi lingkungan Friends of the Earth (FoE) Jepang serta memanfaatkan dana publik.

“Kami berharap masyarakt bisa mengelola dengan baik supaya bisa menjadi contoh daerah lain, MCK ini bisa tetap terawat dan bermanfaat. Semua warga juga bisa dilibatkan dalam pengelolaanya,” tandas Nur Hadi. (nor/bas)

Tinggalkan Balasan