Ayo Pilah Sampahmu dan Menabung di Bank Sampah

653

RADARSEMARANG.ID, PEKALONGAN – Pemerintah Kota Pekalongan melalui Dinas Lingkungan Hidup terus berupaya menciptakan berbagai inovasi guna pencegahan penumpukan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Salah satunya adalah dengan mengkampanyekan gerakan menabung di Bank Sampah.

Bank sampah merupakan suatu gerakan terobosan kecil yang berdampak luar bisa terhadap kelestarian lingkungan. Sebab,dalam mekanisme Bank sampah, DLH mengedepankan sistem pendauran sampah menjadi limbah yang bermanfaat.

Kepala DLH Kota Pekalongan Purwanti menyampaikan bahwa gerakan menabung di bank sampah merupakan salah satu upaya mengurangi permasalahan sampah yang sudah menjadi isu nasional dan jadi alternatif bagi masyarakat untuk menambah pendapatan.

Menurut Purwanti, bank sampah harus dioptimalkan untuk mereduksi sampah di tingkat hulu. Sehingga, melalui gerakan menabung di bank sampah ini terbukti efektif mampu mengurangi beban atau volume sampah yang terkirim di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), sehingga masyarakat juga tergugah kesadarannya dalam mengelola sampah.

“Jika kesadaran akan kebersihan dan pengelolaan sampah sudah baik, tentu nantinya volume sampah akan bisa berkurang. Untuk Bank Sampah Induk Kota Pekalongan sendiri letaknya di Kelurahan Kuripan Kertoharjo, sedangkan total bank sampah yang telah terbentuk saat ini dibawah naungannya hingga tingkat RW sebanyak 54 unit, namun yang berjalan hanya 50 persen, ditambah dari komunitas atau organisasi masyarakat yang peduli lingkungan, kelurahan dan sekolah,” tutur Purwanti kepada RADARSEMARANG.ID.

Purwanti menegaskan gerakan pilah sampah dari rumah bisa mulai digencarkan untuk membangun kesadaran masyarakat memilah sampah rumah tangga di antaranya sampah organik dan yang bisa didaur ulang dimana sampah yang sudah dipilah oleh masyarakat, akan dikumpulkan ke bank-bank sampah. Di sana, sampah bernilai ekonomi seperti botol plastik, kardus dan lain-lain bisa dijual yang secara tidak langsung juga dapat berdampak pada meningkatnya taraf ekonomi masyarakat.

“Pengurangan sampah dimulai dengan memilah sampah yang dapat dimanfaatkan lebih lanjut dan punya nilai ekonomis. Pengurangan sampah di sumber yang menjadi kegiatan strategis daerah perlu gerakan dari semua masyarakat, tak terkecuali masyarakat sekitar hingga tingkat pelajar,” papar Purwanti.

Surono selaku petugas pemilah sampah mengungkapkan bahwa menabung di Bank Sampah sangatlah mudah. Masyarakat hanya perlu mengumpulkan sampah kemudian memilah sampah sesuai jenisnya (plastik, kertas dan logam), bisa secara individu maupun kelompok. Kemudian masyarakat tinggal datang ke Bank Sampah dengan membawa sampah terpilah tersebut. Surono menambahkan bahwa selain sampah yang diambil oleh para petugas TPS3R Kota Pekalongan dan TPS di masing-masing kelurahan, komunitas, sekolah, maupun OPD, bank sampah induk Kota Pekalongan juga menerima sampah yang berasal dari warga perseorangan yang ingin dijual ke bank sampah yang berlokasikan di Kelurahan Kuripan Kertoharjo tersebut dengan masing-masing harga sudah ditetapkan daftar harganya.

“Setiap petugas TPS3R yang saat ini berjumlah 55 orang berkewajiban satu bulan mengumpulkan sampah plastik HD 1 kwintal per orang, artinya setiap bulan sampah yang dibawa TPS3R ke bank sampah induk ini sekitar 55 kwintal atau 5,5 ton. Untuk yang plastik CH rata-rata per hari 50 kg, jika sebulan 1,5 ton. Warga Kota Pekalongan dan sekitarnya juga ada yang menabung di bank sampah ini. Di Bank Sampah, sampah tersebut akan ditimbang dan dihargai sesuai dengan berat dan jenisnya. Kemudian masyarakat tersebut akan menerima slip transaksi dan buku rekening tabungan sama seperti ketika kita menabung uang di bank,” terang Surono.

Surono menyebutkan adapun harga yang dipatok per jenis sampah ini disesuaikan dengan harga lapak pasaran sampah secara nasional seperti kertas Rp300,-/kg; kardus Rp1000,-/kg; plastik HD sekitar Rp300,-; aluminium foil Rp200,-; botol Rp100,- hingga Rp.500,-, dan jenis sampah lainnya.

“Mereka nanti akan terima buku rekening tabungan bank sampah yang nominal transaksinya kami catat dan akumulasikan yang tiap bulan bisa mereka cairkan atau sewaktu-waktu membutuhkan bisa dibantu pencairan tabungan sampahnya. Saat ini nasabah di bank sampah induk Kota Pekalongan berjumlah sekitar 150 orang dari kalangan pegawai DLH sendiri, OPD, sekolah, TPS, kelompok masyarakat atau komunitas, dan juga perseorangan dari warga. Adapun jam operasional bank sampai kami layani mulai pukul 08.30-14.00,” tandas Surono. (nor/ap)





Tinggalkan Balasan