Tarmuji Jualan Roti Keliling Sambil Gendong Anaknya

336

RADARSEMARANG.ID, PEKALONGAN – Tarmuji, 60, warga Tegaldowo kecamatan Tirto kabupaten Pekalongan Jawa Tengah, harus rela menghidupi keluarganya dengan melakoni kerja keras dengan jualan roti keliling. Namun dia, setiap hari harus  menggendong anaknya, Fitri Agustina, 6,5 yang menderita down syindrom atau keterlambatan intelektual dan pertumbuhan tidak sempurna.

Ditambah, Tarmuji dan keluarga tinggal di rumah yang tidak layak huni ini. Kondisi rumah sangat pendek sekitar satu setengah meter saja, bahkan sulit untuk masuk dengan tegak, harus merunduk. Hal ini disebabkan, tiap tahun, rumahnya diurug tanah berbatu, agar terhindar dari air rob, lantai tanah dengan kondisi bocor disana- sini. “Rumah saya selalu diurug, jadi kayak gini,” ujarnya saat media kerumahnya, Senin (13/1/2020).

Diungkapkan Tarmuji, selain untuk penghiduoan sehari-hari, dia harus membiayai anak perempuan Tika Novianti yang masih sekolah SMK Swasta dengan uang SPP cukup mahal.

“Anak saya yang ketiga masih kelas sebelas SMK swasta setiap bulan harus membayar biaya pendidikan sekitar 150 ribu belum uang saku, keuntungan dari berjulaan ini sebgaian untuk makan dan juga disisihkan untuk biaya sekolah namun sering tidak cukup,” ucapnya sedih.

Alasan, anaknya Fitri harus ikut dia kerja keliling, karena tidak ada yang merawat di rumah dan tidak mau ditinggal sehingga ya harus ikut berjualan. Fitri digendong didepan oleh sang ayah lalu berkendara pakai sepeda motor, Dia sudah ikut ayahnya berjualan sejak 6 bulan lalu semenjak ibunya Sitiyah meninggal dunia akibat penyakit yang diidapnya. Sedang sang kakak, Tika Novianti, sekolah menengah kejuruan kelas 11, sehingga tidak bisa menjaga adiknya. “Kalau ditinggal atau dititipkan orang, anaknya memgamuk, jadi terpaksa saya bawa,” jelasnya lagi.

Setiap hari, Tarmuji berangkat kerja, dimulai dari mengambil roti di juragannya. Ditata, baru berdagang keliling. Sepanjang jalan dia menawarkan roti yang diangkutnya, kadang ada yang membeli namun kadang juga pembeli sepi. Ditambah saat ini musim hujan. Saat bujan tetap keliling, anaknya juga di turup jas huja sekedarnya.

Dari hasil berjualan roti, Tarmuji bisa mengantongi Rp50 sampai Rp60 ribu tergantung penjualan. Dia mendapat 15 persen dari omset roti yang terjual. Sejak awal, dia berkeinginan menghidupi anak-anaknya tanpa mengandalkan belas kasihan orang lain.

Terpisah, Mahlul Azam juragan roti yang memperkerjakan Tarmuji, awalnya enggan menerima dia kerja. Karena takut dibilang aji mumpung memanfaatkan anak sakit.

“Saya awalnya keberatan karena membawa anaknya bisa membahayakan kesehatan dan keselamatan dan juga bisa ada pendapat negatif terhadap produk kami. Namun dia juga butuh membiayai keluarganya sehingga saya memberikan peluang dan membekali dengan kotak roti khusus,” jelasnya.

Sepengetahuan Mahlul, Tarmuji beberapa kali ganti profesi kerja. Awalnya jualan es krim dengan mengendarai sepeda angin. Terus ganti jualan mainan tapi bangkrut. Dan akhirnya sejak istrinya meninggal, melamar jualan roti namun tetap pakai sepeda angin dengan membawa anaknya.

“Namun beberapa bulan kemarin dia pakai motor, makanya, gerobak mya saya ganti yang lebih besar,” serunya. (han/ap)

Tinggalkan Balasan