Wali Kota Pekalongan Optimistis Wilayahnya Bebas Buta Aksara

162
KOMPAK: Pemerintah Kota Pekalongan bersama stakeholder dan pemerintah pusat gelar deklarasi, pengentasan ATS dan Buta Akasara, Senin (25/11). (LUTFI HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KOMPAK: Pemerintah Kota Pekalongan bersama stakeholder dan pemerintah pusat gelar deklarasi, pengentasan ATS dan Buta Akasara, Senin (25/11). (LUTFI HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID, PEKALONGAN – Pemerintah Kota Pekalongan mendeklarasikan Bebas Buta Aksara dan mencanangkan Program Pengentasan Anak Tidak Sekolah (ATS) dan Anak Putus Sekolah (APS) Tahun 2019. Hal tersebut sebagai bentuk optimisme, karena progres- nya terus membaik.

“Saya mengapresiasi dan terima kasih kepada Dinas Pendidikan Kota Pekalongan yang telah membantu mengatasi jumlah buta aksara di Kota Pekalongan,” ucap Wali Kota Pekalongan, HM Saelany Machfudz, SE saat upacara bendera HGN dan HUT PGRI ke-74 di Pendopo Lapangan Mataram Kota Pekalongan, Senin (25/11).

Sebab, diungkapkannya, berdasarkan data dari Dinas Pendidikan setempat, dari total 162 orang buta aksara di Kota Pekalongan, 60 orang di antaranya berhasil dituntaskan pada tahun 2018, sementara itu pada tahun 2019 102 orang sisanya kembali dituntaskan.

Untuk itu, dengan mencanangkan deklarasi buta aksara di Kota Pekalongan, harapannya buta aksara sudah tuntas tahun ini. Dan ke depannya, dapat menambah semangat kita untuk kembali menyelesaikan tugas Anak Tidak Sekolah (ATS) dan Anak Putus Sekolah (APS).

Menurut Saelany, adapun langkah pengentasan ATS dan APS ini telah dilakukan melalui pelatihan-pelatihan dan mengajak mereka untuk kembali ke sekolah lagi. Hal ini guna  memberikan sumbangsih dan mendukung kebermanfaatan bagi kemajuan pendidikan Kota Pekalongan ke depan.

Ditambahkan Kepala Dinas Pendidikan Kota Pekalongan, Drs. Soeroso, MPd, menuturkan dengan dideklarasikannya Kota Pekalongan Bebas Buta Aksara ini bukan diartikan tidak ada satu pun masyarakat yang tidak bisa baca tulis (buta huruf). Pasalnya, ditegaskan Soeroso, bebas buta aksara memiliki rentan usia yakni masyarakat berusia 15-59 tahun.“Nantinya kami bersama-sama stakeholder terkait termasuk pemangku wilayah lurah, camat berkomitmen bersama untuk pengentasan ini,” ucapnya. (han/bas)