Jaga Eksistensi Sintren dan Wayang

349
LESTARIKAN KESENIAN: Pertunjukan kesenian tradisional Jawa dalam acara Nyadran laut. (Lutfi Hanafi/Jawa Pos Radar Semarang)
LESTARIKAN KESENIAN: Pertunjukan kesenian tradisional Jawa dalam acara Nyadran laut. (Lutfi Hanafi/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.ID, PEKALONGAN – Menjaga eksistensi kesenian tradisional, Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kota Pekalongan bersama pemkot, rutin menggelar sintren dan wayang kulit. Seperti dalam sadranan sedekah nelayan.

Ketua HNSI Kota Pekalongan sekaligus ketua panitia Sadranan, Imamenu sengaja ingin membangkitkan kembali seni dan budaya asli Jawa khususnya di Pekalongan agar tidak punah. Selain itu, juga ada kegiatan larung sesaji ke tengah laut, bazar pasar murah, lomba mewarnai, cek kesehatan dan sebagainya.

Ketua Paguyuban Sintren Landungsari Kota Pekalongan Mizaroh menuturkan, kesenian sintren Pekalongan dikenal sebagai tarian dengan aroma mistis/magis yang bersumber dari cerita cinta kasih Sulasih dengan Sulandono, seorang putra bupati di Mataram Joko Bahu atau dikenal dengan nama Bahurekso dan Rr. Rantamsari.

Sementara itu Ki Dalang Wiwit Sri Kuncoro dari Karanganyar yang tampil memainkan pagelaran wayang kulit menceritakan pihaknya membawakan lakon Kresna Duta. Kisah tersebut pada intinya mengisahkan Sri Krisna didaulat menjadi duta terakhir, untuk membahas perihal janji Duryudana yang akan mengembalikan kerajaan Indraprasta dan separuh kerajaan Astina kepada Pandawa.

Alhamdulillah penonton banyak dan sangat antusias, karena pertunjukan ini sudah menjadi event tradisi tahunan,” tandas Ki Dalang Wiwit. (han/zal)