alexametrics

Kondisi RPSBM sudah Tak Layak

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, PEKALONGAN – Teriakan bernada kasar terdengar dari dalam Rumah Perlindungan Sosial Berbasis Masyarakat (RPSBM), saat Jawa Pos Radar Semarang mengunjungi tepat yang menampung orang-orang pengidap psikotik atau orang dengan gangguan jiwa.

Saat memasuki bangunan tersebut, terdapat dua sisi ruangan yang bersebrangan, terdapat 10 kamar yang dihuni penderita psikotik ringan, sedang disisi lainnya terdapat tiga barak berjeruji yang yang dihuni enam orang dengan pederita psikotik berat yang sedari tadi terus berteriak.

Kepala RPSBM Syafrizal Munir, mengatakan bahwa saat ini jumlah penghuni di RPSBM sebanyak 49 orang, 14 orang lansia dan 35 orang penderita psikotik. Ia mengatakan bangunan yang memiliki kapasitas 60 orang tersebut kerap kali kelebihan kapasitas, yang membuat petugas cukup kewalahan.

Baca juga:  Pemkot Pekalongan Siapkan Blueprint Penanganan Banjir

“Disisi lain kita tidak bisa menolak jika ada yang membawanya kesini. Katakanlah hari ini 49, mungkin besok bisa 60 atau lebih, sampai over. Masuk bulan Ramadan pasti overload. Biasanya pasien datang dari hasil razia Satpol PP tetapi ada juga yang dari pihak keluarga sengaja ditaruh disini,” ujar Syafrizal.

Pada saat jumlah penghuni berlebih, Syafrizal menuturkan para petugas selalu kewalahan dalam mengkondisikan pasien-pasien psikotik, khususnya penderita psikotik berat. Tak jarang, kekerasan fisik diteria sejumlah petugas saat menangi pasien-pasien tersebut.

“Pernah saya sendiri dihantam mengunkan pecahan kramik sehingga kepala saya berdarah. Beberapa petugas ada yang diludahi ataupun dilempari kotoran. Itu hal biasa. Masalah lainnya sebetulnya pada kebutuhan makanan. Jatah kita untuk 60 orang, sehingga kita harus putar otak untuk menangani itu,” imbuhnya.

Baca juga:  Jamaah Umrah Tak Perlu Vaksin Booster

Ditambahkan Fadholi, selaku bendahara, RPSBM memiliki 26 pekerja, 2 diantaranya dokter jiwa, 1 psikolog, 2 perawat. RPSBM yang menjadi satu-satunya tempat menampung orang terlantar dan ganguan jiwa se-karisidenan Pekalongan, kerap menjadi tempat rujukan yang mebuatnya seringkali overload.

Terpisah, diakui Kepala Dinas Kesehatan Kota Pekalongan, Slamet Budiyanto bahwa tenaga kesehatan dibidang kejiwaan yang minim, juga menjadi kendala pemerintah melakukan pelayanan kesehatan. Umumnya, satu orang dokter melayani 40 orang pasien, namun jumlahnya yang minim, banyak pasien tidak tercover.

“Kita hanya punya dua spesialis jiwa, itu pun satunya dari Semarang langsung, yang ke Pekalongan pada waktu tertentu. Sehingga satu dokter bisa lebih melayani 40 orang pasien,” ujar Slamet.

Baca juga:  Puskesos Permudah Akses Warga Miskin

Diriya berharap, kedepan pelayanan kesehatan khususnya dibidang kejiwaan bisa ditingkatkan dengan adanya pendirian fasilitas Rumah Sakit Jiwa di Kota Batik.”Psikosis itu masuk di peringkat 18 penyakit yang sering dilayani, maka dari itu peningkatan pelayanan juga perlu ditingkatkan. Karena sangat berpengaruh pada peningkatan indeks manusia,” tandasnya. (alf/bas)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya