alexametrics

Persembahan untuk Arwah yang Terlantar

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, PEKALONGAN –  Umat Tri Dharma di Kota Pekalongan memperingati Upacara Sembahyang Cioko atau Sembahyang Perebutan yang jatuh pada bulan 7 Imlek tanggal 15 di Kelenteng Po An Thian, Kamis (15/8). Acara sembahyang tersebut dimulai dengan pembakaran uang kertas yang juga diiringi alunan musik khas Tioghoa

Adapula beragam persembahan berupa makanan,  serta dua ekor babi dan dua ekor kambing yang telah di sembelih,  dan digantung di atas panggung yang nantinya akan di perebutkan warga yang telah bersiap disekitar Klenteng.

Usai serangkaian prosesi doa,  panitia kemudian bersiap diatas panggung yang penuh sesaji, memberikan aba-aba dengan menghentak-hentakan kakinya menandakan warga boleh berebut mengambil sesaji yang ada di panggung, seketika itu pula warga langsung menyerbu dengan memajat panggung tersebut.

Baca juga:  Kuncinya Jangan Panik

Yeni Haryanti, warga Panjang Baru,  Kota Pekalongan, mendapatkan sesaji paling banyak dari warga lainnya.  Dirinya mengaku segaja membawa dua keranjang dari rumah,  dan mengajak dua anaknya berebut sesaji usai pulang sekolah.

“Habis jemput anak langsung ke sini (Kelenteng) saya sudah nunggu dari jam 11 dan sudah siap didepan panggung. Memang dari rumah tujuannya mau kesini, Alhamdulillah dapat banyak,  nanti saya akan bagikan ke orang rumah dan tetangga saya,” ujar Yeni.

Disampaikan Ketua Yayasan Kelenteng Po An Thian, Heru Wibawanto Nugroho bahwa sembahyang Cioko tersebut bertujuan untuk memberi sesaji kepada arwah para leluhur yang terlantar. Mereka percaya pada tanggal 15 bulan 7 imlek,  pintu neraka dibuka, sehingga perlu melakukan persembahan kepada para arwah agar aman dan tidak mengganggu.

Baca juga:  Baru Sembilan OPD Berani Berkomitmen

Untuk perebutan, ada buah-buahan dan jajanan pasar seperti bakpao, ayam serondeng, ikan asin, dan makanan ringan lainnya untuk direbutkan masyarakat yang menyaksikan prosesi sembahyang cioko

“Kita persembahkan sebanyak 190 kardus dari ahli waris yang didalamnya ada koper, baju-baju, emas, sepatu, dan uang, yang semuanya terbuat dari kertas dan dibakar, dengan tujuan barang-barang tersebut bisa sampai kepara arwah tersebut untuk menjadi bekal di alam baka,” terang Heru. (alf/bas)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya