alexametrics

Pemkot Akan Hilangkan 508 Hektare Lahan Sawah

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, PEKALONGAN – Pemkot Pekalongan mewacanakan untuk membebaskan 508 hektare lahan di sekitar persawahan Sokoduwet, tepatnya di sebelah kanan kiri jalur Interchange Tol Setono. Lahan yang telah terbebaskan nanti untuk menarik investor. Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Pekalongan.

Kepala DPMPTSP,  Supriono menjelaskan bahwa Kota Pekalongan masih menjadi incaran para investor.  Akan tetapi dengan keterbatasan lahan,  satu-satunya daerah yang menjadi prospektif adalah lahan persawahan di Sokoduwet.

“Kalau RTRW-nya bisa dirubah untuk pembangunan, kita usulkan 508 hektare lahan sawah di sekitar interchange untuk dibebaskan. Saya yakin di situ prospektifnya tinggi karena dekat dengan jalan tol.  Dengan begitu diharapkan pertumbuhan ekonomi di Kota Pekalongan meningkat,” terang Supriono.

Baca juga:  Pasar Tiban Pelita II Dibuat Satu Sisi

Terpisah, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Dinperpa)  Kota Pekalongan, Agus Jati Waluyo, saat dikonfirmasi membenarkan adanya wacana tersebut.  Akan tetapi,  Jati berpendapat agar rencana tersebut dipertimbangkan kembali.  Pasalnya,  hampir setiap tahun, lahan sawah di Kota Pekalongan menurun.

“Memang untuk wacana tersebut sudah diusulkan sejak lama.  Akan tetapi saya pribadi ingin Kota Pekalongan tidak kehilangan lahan sawahnya.  Setidaknya ada 500 hektare lahan sawah yang bisa ditanami, sehingga para petani juga bisa mencari rezekinya di situ,” ujar Jati.

Data yang dipaparkan dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Pekalongan, menyebutkan, luasan lahan yang digunakan untuk sawah di Kota Pekalongan pada 2017 lalu mencapai 1.140 hektare. Luasan tersebut semakin menyusut sejak 2013 yang mencapai 1.196 hektare, sementara pada 2014 mencapai 1.188, sedangkan 2015, 1.163, dan 2016 menjadi 1.152 hektare.

Baca juga:  Operasi Cipkon, Jaring Puluhan Orang

“Lahan sawah di Sokoduwet adalah yang paling produktif.  Jangan sampai nantinya kita kekurangan lahan pertanian yang dapat berdampak pada stabilitas pangan, apalagi untuk mata pencaharian para petani.  Sehingga pertimbangan-pertimbangan itu perlu matangkan kembali,” imbuh Jati.

Sementara itu salah seorang buruh tani asal Sokoduwet, Ahmad Dalari, menyampaikan sejak marak adanya pembangunan yang memanfaatkan lahan sawah, membuat rekannya sesama buruh tani terpaksa tidak bekerja lagi.

“Bingung juga,  karena mencari kerja juga susah.  Apalagi usia saya yang sudah 60 tahunan. Paling ikut-ikut yang lainenjadi buruh batik. Namun saya juga berharap pemerintah bisa lebih perhatian dengan para petani,” tandasnya.

Selain Ahmad, Joko Susilo, 55, buruh tani lainnya, mengaku bingung dengan wacana yang diusulkan Pemkot. Kebijkan penghapusan areal persawahan, harusnya juga memperhatikan nasib buruh tani.

Baca juga:  Gadaikan Motor Tetangga untuk Judi Online

“Padahal setiap kali masa tanam dan panen ada ratusan orang yang bekerja di sawah, belum lagi proses perawatannya. Kami sadar kami orang kecil yang tidak punya lahan. Tapi kami juga warga Kota Pekalongan, menurut kami slogan yang mengutamakan kepentingan rakyat kecil sudah tidak ada. Karena pemerintah pun kini memihak ke orang yang memiliki uang,” tambahnya. (alf/zal)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya