alexametrics

PPDB Jalur Zonasi, Selisih 10 Meter Bisa Berakibat Fatal

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Mungkid – Proses verifikasi data siswa saat penerimaan peserta didik baru (PPDB) banyak dijumpai ketidaksesuaian. Mulai dari pemendekan jarak hingga titik koordinat domisili berada di sawah dan tengah jalan. Hal itu dilakukan agar memiliki peluang lebih besar untuk diterima di sekolah pilihannya.

Ketua PPDB SMAN 1 Kota Mungkid Budi Ilmawan mengatakan masih dijumpai data calon siswa yang tidak sesuai. Padahal soal pendataan sudah ditampung secara terpusat, yaitu di provinsi. Selain itu proses pencocokan data sudah melalui sistem. “Jadi kalau ada yang tidak sesuai atau mencoba curang akan ketahuan,” katanya kepada Jawa Pos Radar Magelang Selasa (21/6).

Ia mengatakan, para pendaftar seharusnya memberikan data yang valid. Sebab jika lebih atau kurang dari 10 meter bisa berakibat fatal. Yakni penentuan diterima atau tidak. “Itu sistem. Kita gak bisa ngotak-atik. Itulah pentingnya input alamat dan jarak yang sesuai sebab nanti kita akan mencocokkan dengan data KK (kartu keluarga, red),” imbuhnya.

Baca juga:  Guru Dituntut Kreatif Inovatif di Tengah Pandemi

Budi mengungkapkan cakupan zonasi tahun lalu berjarak 2,8 kilometer. Sedangkan untuk tahun ini tidak bisa diprediksi. Sesuai dengan terpenuhi kuota berdasarkan jarak zonasi. “Kalau radius 1 kilometer kuota terpenuhi, ya sudah ditutup. Tapi kalau kurang, zonasi diperluas lagi,” jelasnya.

Prinsipnya, kata dia, zonasi ditentukan berdasarkan kecamatan. Yakni meliputi Kecamatan Mertoyudan, Mungkid, Muntilan, dan Borobudur. Jika tahun ini kelulusannya sedikit besar kemungkinan sampai di luar radius keempat kecamatan itu.

Calon peserta didik baru diharapkan tidak terburu-buru untuk mengunggah data ke laman pendaftaran. Juga jangan terfokus dengan hasil zonasi sekolah di tahun lalu. Jalur zonasi itu tidak bisa diprediksi, dan setiap tahunnya, jarak paling jauh yang diterima pasti berubah-ubah.

Baca juga:  LP Ma'arif Dirugikan PPPK, Banyak Kehilangan Guru

“Saya menegaskan jika ada informasi terkait zonasi, semisal di SMA Negeri 1 zonasinya sekian kilometer itu bohong dan hoax. Jadi setiap tahun itu selalu dinamis, menyesuaikan jumlah pendaftarnya nanti,” jelas Plt. Kepala SMA Negeri 1 Magelang Sucahyo Wibowo kepada wartawan Jawa Pos Radar Semarang saat ditemui di kantornya Selasa (21/6).

Kepala SMA Negeri 2 Magelang Joko Tri Haryanto juga mengatakan hasil zonasi tahun lalu tidak bisa menjadi patokan seberapa jauh bisa keterima. Karena kepadatan siswa SMP yang akan bersekolah SMA di setiap tahunnya juga akan berbeda.

“Untuk tahun kemarin jumlah pendaftar jalur zonasi dari satu lokasi sangat padat, pastinya hal ini akan mempengaruhi jaraknya semakin dekat. Namun, jika tidak padat jumlah siswanya, pastinya jarak itu akan bisa jauh,” jelasnya. Ia berpesan kepada semua peserta PPDB untuk selalu memantau dan update website PPDB.

Baca juga:  Siska Turniawati Tak Menyangka Lolos 73 Besar Ajang Rising Star Indonesia Dangdut

Berdasarkan data yang didapat wartawan koran ini dari hari pertama (15/6) sampai Selasa (21/6) siang, jumlah calon peserta didik baru yang mengajukan akun di SMA Negeri 1 Magelang sudah mencapai sekitar 323 orang. Sedangkan di SMA Negeri 2 Magelang sampai Senin (20/6) sudah mencapai 254 siswa. Batas pengajuan akun sampai Selasa (28/6).

Joko mengatakan sesuai jadwal, pendaftaran akan dibuka Rabu (29/6) hingga Kamis (30/6) sore. Dan pengumuman hasil Senin (4/7). “Nantinya dari Jumat (1/7) sampai Minggu (3/7) jadwalnya evaluasi pengaduan.”

Joko juga mengatakan kendala yang dihadapi selama pendaftaran ini hanya pada kartu keluarga saja. Yakni kartu keluarga baru yang belum genap satu tahun bagaimana. “Untuk pengajuan aduan hanya terkait KK ini, namun hal ini sudah teratasi. Peserta bisa melakukan pengecekan ke Dinas Disdukcapil,” jelasnya. (mia/rfk/ton)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya