alexametrics

PPDB di SMA N 1 Mertoyudan Membeludak, Banyak Siswa Salah Input Data

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Mungkid – Memasuki hari keempat, penerimaan peserta didik baru (PPDB) di SMA Negeri 1 Mertoyudan membeludak. Jalur yang dibuka ada lima. Yaitu zonasi, inklusi, mutasi, afirmasi, dan prestasi. Jalur zonasi menyediakan kuota paling sedikit 55 persen.

Kepala SMA Negeri 1 Mertoyudan Nurkholiq mengungkapkan, proses PPDB sudah berlangsung sejak 15 Juni lalu. Calon siswa harus datang ke sekolah untuk pembuatan akun pendaftaran dan verifikasi data.

“Hari pertama bersamaan dengan pengumuman wisuda SMP. Hari kedua dan ketiga hanya ada 5-15 orang. Hari ini 50 lebih,” katanya kepada Jawa Pos Radar Magelang saat ditemui di kantornya, kemarin (20/6).

Nurkholik mengatakan, sebagian besar siswa berasal dari zonasi 1,9 kilometer dari sekolah. Di antaranya Kecamatan Mertoyudan, Mungkid, Tempuran, dan Bandongan. Dari 55 persen itu ada 5 persen kuota zonasi khusus. Yakni untuk kecamatan yang tidak memiliki SMA/SMK negeri. “Kita ambil Kecamatan Mungkid,” ucapnya.

Baca juga:  Kelompok Jasa Keamanan dan Parkir Pasar Kaliangkrik Geruduk Setda Kabupaten Magelang

Untuk jalur inklusi, kata dia, sudah dilakukan pekan lalu. Namun tidak ada satu pun pendaftar. “Inklusi itu kan untuk anak yang punya kebutuhan khusus (disabilitas). Sudah kita buka dan memang tidak ada pendaftar,” tuturnya. Selain itu juga banyak di antaranya yang melalui jalur mutasi. “Karena di sini kan dekat Akmil. Setiap dua atau 3 tahun pasti pindah tugas,” ujarnya.

Pihaknya telah menyediakan kuota 324 siswa. Namun karena tahun lalu ada enam siswa kelas X yang tidak naik kelas, sehingga hanya tersedia kuota 318. Adapun proses pendaftaran dimulai dari pembuatan akun. Selanjutnya melakukan pendaftaran pada 28 Juni-1 Juli 2022. “Kemudian kita seleksi. Tahun kemarin ada 600 pendaftar dan kita hanya menerima setengahnya,” jelasnya.

Baca juga:  Bunuh Kekasih Gelap karena Sakit Hati Dibanding-Bandingkan dengan Mantan Suami Korban

Sejak verifikasi data, lanjut dia, banyak dijumpai siswa yang masih salah menginput data. Biasanya terkait jarak zonasi. Yang seharusnya 2 kilometer ditulis 9 kilometer. “Biasanya siswa kurang teliti. Atau sekolah asal belum memberikan sosialisasi pembuatan akun yang benar,” jelas Nurkholis.

Ia menambahkan berdasarkan tahun lalu zonasi, terjauh 1,9 km. Hanya mengakomodasi beberapa kecamatan yang wilayahnya dekat dengan sekolah. Ada lima desa namun tidak semua juga bisa diakomodasi. “Paling yang masuk hanya dua atau empat dusun di masing-masing desa,” tandasnya.

Ada pula daerah yang tidak dijangkau oleh jarak zonasi. Misalnya Kelurahan Kalinegoro. Hanya ada dua jalur pilihan, yaitu jalur prestasi dan afirmasi. “Soalnya masuk sini tidak, masuk Kota Mungkid juga tidak,” pungkasnya. (mia/lis)

Baca juga:  Anak-Anak Divaksin Sinovac

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya