alexametrics

Ternak Suspek PMK di Kabupaten Magelang Menjadi 10 Ekor

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Mungkid Hewan ternak di Kabupaten Magelang yang dinyatakan suspek penyakit mulut dan kuku (PMK) bertambah. Sampai Selasa (24/5) terdapat 9 sapi dan 1 kerbau yang suspek PMK. Meski sudah ada pengumuman pasar hewan ditutup, beberapa penjual ternak banyak yang kecele di Pasar Hewan Muntilan.

Selasa pagi sejumlah penjual ternak memadati jalan raya di dekat Pasar Hewan Muntilan. Mereka tidak bisa masuk ke pasar, karena gerbang masuk diportal. Beberapa penjual putar balik, namun ada juga yang akhirnya berjualan di pinggir jalan.

“Ini kecewa, akhirnya pulang. Padahal kalau Kliwon di sini (Pasar Hewan Muntilan, Red) paling besar se-Kabupaten Magelang, ada kambing, sapi,” ujar Triyono salah satu penjual ternak. Ia mengaku baru mengetahui Pasar Hewan Muntilan tutup ketika sudah sampai lokasi.

Baca juga:  Vaksinasi Sentuh Warga KRB 3 Gunung Merapi

Triyono sebelumnya tidak tahu jika ada kebijakan penutupan pasar hewan selama dua minggu, mulai 24 Mei sampai dengan 6 Juni  2022. “La wong kemarin itu di Pasar Hewan Salaman belum ada pengumuman,” kata pria asal Desa Bumirejo, Kecamatan Mungkid ini.

Ia mengaku rugi secara ekonomi. Mengingat beberapa hari sebelumnya baru membeli tujuh ekor kambing untuk dijual kembali. “Padahal tujuh ekor itu kalau dijual sampai Rp 10 juta,” katanya.

Sementara itu Joni Indarto, kepala Dinas Peternakan dan Perikanan (Dispeterikan) Kabupaten Magelang menjelaskan, dari 10 hewan ternak yang suspek PMK kebanyakan dibeli dari Pasar Hewan Muntilan. “Setelah kami telusuri yang sembilan ekor itu atas pembelian ternak dari Pasar Hewan Muntilan dan yang satu itu berasal dari Pasar Hewan Ambarawa,” ungkap Joni kepada  Jawa Pos Radar Magelang. Sapi dan kerbau yang dinyatakan suspek PMK berasal dari wilayah Salam, Salaman, Grabag, dan Dukun.

Baca juga:  Tunggak Pajak Setengah Miliar, Tiga Truk Milik PT PPS di Kabupaten Magelang Disita

Menurutnya kebijakan penutupan pasar hewan dilakukan supaya masyarakat tidak mengalami kerugian besar, karena penularan penyakit tersebut cukup cepat.

Jika ada ternak yang terindikasi suspek PMK, Joni mengimbau untuk mengisolasi hewan ternak tersebut dan melaporkannya ke tim Dispeterikan.

Dari 10 hewan yang dinyatakan PMK dua di antaranya diambil sampel untuk dilakukan tes laboratorium. Memastikan hewan tersebut positif PMK atau tidak. Tes laboratorium dilakukan di Balai Besar Vateriner Wates, Kulonprogo. Ditambahkan Joni, daging hewan ternak yang terkena PMK aman dikonsumsi. (man/lis)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya