alexametrics

Kampanyekan TPS3R melalui Film Cinta

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Mungkid – Jumat (13/5) sore aula Desa Banyusari, Kecamatan Grabag tampak berbeda. Aula tersebut disulap menjadi bioskop dadakan. Untuk pertama kalinya diputar film karya pemuda setempat yang digarap bersama Tumbuh Sinema Rakyat.

Meski tanpa kursi empuk dan AC seperti di bioskop, antusiasme penonton tak redup. Mereka menonton film di layar besar sambil duduk di kursi plastik yang biasa digunakan untuk acara desa.

Sekitar pukul 14.30 film yang diberi judul “Ku Harap Tak Apa, Ku Tanya Kau Kenapa,” tersebut diputar. Hari itu pemutaran film dilakukan dua kali, sore dan malam. “Pembuatan dan pemutaran film gagasannya dari desa. Bekerja sama dengan Tumbuh Sinema Rakyat,” ujar Sekretaris Desa Banyusari, Agus Istiawan kepada Jawa Pos Radar Magelang.

Pembuatan film tersebut berawal dari obrolan di TPS3R Desa Banyusari. Saat itu muncul gagasan mengangkat TPS3R melalui media audio visual. Hingga akhirnya terlintas untuk membuat film.

Baca juga:  Kabupaten Magelang Fokus Kembangkan Empat Komoditas Hortikultura

Karena di Desa Banyusari belum ada yang pernah membuat film, pihak desa menggandeng Tumbuh Sinema Rakyat yang berada di Salaman, Kabupaten Magelang. Mengingat lembaga tersebut sudah berpengalaman menggarap film.

Bulan Februari projek itu mulai digarap. Pemuda Desa Banyusari yang berminat belajar membuat film dikumpulkan. Mereka diberikan pelatihan pembuatan film selama 15 hari. Mulia dari penulisan naskah, pengambilan gambar sampai proses editing.

Ada 15 pemuda Desa Banyusari yang terlibat. Ada yang menajdi pemain maupun tim kreatif di belakang layar. Kelompok tersebut diberi nama Sinema Berkah Migunani (Siberani).

Supaya tidak membosankan, film dikemas dengan cerita percintaan. Dengan tokoh utama pegawai TPS3R yang menemukan buku harian seorang wanita saat bekerja. “Kalau hanya sekadar profil TPS3R kan kurang menarik. Namun ketika ada cerita percintaannya kan semacam ada sekuel ternyata TPS3R bisa dilihat dari sudut pandang cinta,” jelas Agus.
Dituturkan Agus, film tersebut akan diikutkan festival di luar negeri. Sementara itu sutradara sekaligus ketua kelompok Sinema Berkah Migunani, M. Nafiudin, menuturkan, selama penggarapan film yang paling sulit adalah penyusunan naskah. Karena harus menyatukan ide dari banyak kepala. “Bahkan kami sempat nekat. Akhir ceritanya belum tahu, tapi sudah harus syuting,” tutur Nafiudin.

Baca juga:  Sembilan Rumah Porak-Poranda

Dalam proses editing dibantu Tumbuh Sinema Rakyat, termasuk peminjaman alat. Bagi Nafiudin pembuatan film tersebut memberikan pengalaman berharga bagi pemuda di Banyusari. Karena mereka menjadi paham bahwa membuat film tidak sesederhana ketika menonton film. “Jadi penggarapan film itu sulit-sulit asyik,” tandas Nafiudin. (man/lis)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya