alexametrics

Awal Tahun, DBD Tembus 19 Kasus, Kecamatan Mungkid Tertinggi

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Mungkid – Mengawali tahun 2022, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Magelang mencatat 19 kasus demam berdarah (DBD) per 17 Januari. Kasus ini tersebar di Kecamatan Mungkid, Salaman, Borobudur, Ngluwar, Muntilan, Mertoyudan, hingga Bandongan. Dengan catatan tertinggi di Kecamatan Mungkid, yakni 5 kasus.

Kabid Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Magelang Budi Suprastowo menuturkan, kasus DBD sudah muncul sejak triwulan terakhir 2021. Ketika musim penghujan tiba dan kemungkinan ada banyak perindukan nyamuk aedes aegypti.

Pada Oktober, tercatat ada 10 kasus. Kemudian meningkat menjadi 17 kasus pada November dan 24 kasus pada Desember. Dengan kasus meninggal dunia masing-masing satu pasien pada November dan Desember.

“Tahun 2022 belum ada laporan pasien meninggal dunia. Mudah-mudahan tidak ada,” tutur Budi ketika ditemui koran ini di ruang kerjanya, Senin (17/1).

Baca juga:  Pasang Target Menang Pilkada

Budi menambahkan, pasien hampir merata di segala usia. Namun, didominasi anak-anak usia 5 hingga 14 tahun. “Anak-anak cenderung rentan,” ucapnya.

Ketika sekolah kembali masuk, lanjut Budi, juga menambah faktor risiko penularan DBD. Mengingat nyamuk aedes aegypti menggigit di pagi hingga sore. Kondisi lingkungan sekolah pun akan berpengaruh. “Kalau lingkungannya bersih dari jentik nyamuk, ya bisa aman,” kata Budi.

Budi juga menjelaskan, infeksi virus DBD tidak terjadi langsung ketika seseorang digigit nyamuk. Virus akan tinggal terlebih dulu dalam tubuh seseorang. Saat nyamuk menggigit tubuh yang terinfeksi tersebut, lalu menggigit orang lain, maka bisa terjadi penularan. “Jadi orang yang digigit belum tentu langsung sakit, ” kata Budi.

Baca juga:  Nguri-Uri Budaya ala Kelompok Seni Karawitan Cahaya Bulan

Upaya penanganan lantas dilakukan Dinkes melalui program edukasi dan pemberdayaan. Edukasi diperlukan karena DBD merupakan penyakit yang berhubungan dengan lingkungan. Oleh karena itu, masyarakat perlu diedukasi tentang perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).

Kemudian terkait pemberdayaan, masyarakat dituntut mandiri melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Di antaranya dengan 3M (menutup, menguras, dan mengubur) sumber air yang berpotensi menjadi sarang nyamuk. Namun apabila sudah ditemukan kasus, Dinkes akan melakukan fogging.

“Fogging juga hanya penyelesaian sesaat. Mungkin hanya mematikan nyamuk indukan. Kuncinya tetap di perilaku hidup bersih dan sehat masyarakat,” tegas Budi.

Dia mengimbau masyarakat, termasuk sekolah, untuk menjaga kebersihan lingkungan agar tidak memicu sarang nyamuk. Terlebih nyamuk aedes aegypti merupakan nyamuk yang tinggal di air jernih. Bukan air keruh maupun air yang langsung berhubungan dengan tanah.

Baca juga:  Indahnya Jalur Tol Kahyangan di Desa Wonolelo, Membelah Sawah Lereng Merbabu

“Jaga kebersihan. Bisa juga dengan kerja bakti secara rutin. Melakukan PSN,” imbaunya. Budi juga mengingatkan masyarakat untuk tidak menggantung pakaian. Apalagi pakaian bekas pakai. Sebab rentan menjadi sarang nyamuk.

Ia meminta masyarakat untuk tidak menunda berobat ke rumah ketika ada anggota keluarga demam tiga hari. Dia tidak menyarankan untuk mengobati sendiri di rumah. Sebab, bisa jadi demam yang diderita merupakan gejala DBD.

“Kecepatan penanganan dan penemuan akan mempengaruhi tingkat ketertolongan pasien. Kalau sudah parah, sudah terjadi perdarahan, akan sulit. Bahkan bisa menyebabkan kematian,” bebernya. (rhy/lis)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya