alexametrics

Santri Tenggelam di Sungai Elo Ditemukan 700 Meter dari Titik Awal

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Mungkid Seorang santri Pondok Pesantren Al- Lu’lu’ Wal Marjan, Mungkid, Kabupaten Magelang yang sempat hilang tenggelam akhirnya ditemukan Kamis (6/1) pagi. Korban atas nama Baelghy, 13, ditemukan dalam keadaan meninggal, lokasinya 700 meter dari titik awal tenggelam di Sungai Elo.

Sejak pagi pukul 07.00 Basarnas dibantu sejumlah relawan menyusuri Sungai Elo untuk melakukan pencarian. Tim dibagi di beberapa titik. Pencarian pun diperluas sampai perbatasan Sungai Elo dan Sungai Progo.

“Hari kedua ini kami melakukan penyisiran sampai pertemuan Sungai Elo dan Progo. Dengan menggunakan perahu rafting,” ujar Basuki koordinator, Basarnas Unit Borobudur Kepada Jawa Pos Radar Magelang Kamis (6/1). Sebanyak 100 orang diterjunkan dalam pencarian, terdiri dari anggota Basarnas maupun relawan.

Baca juga:  Gerbang Gajah Berpotensi Jadi Wisata Baru

Pencarian tersebut baru membuahkan hasil sekitar pukul 10.10 WIB. Korban ditemukan di kedalaman sungai sekitar 4 sampai 5 meter. Berada di aliran Sungai Elo yang masuk Dusun, Giyasan, Desa Bumirejo, Mungkid.

“Tadi kita selam pakai penyelam tradisional. Berdasarkan perhitungan kita, ketika hampir mendekati 12 jam sudah melayang atau mengambang. Mungkin pada saat mengambang terjepit batu,” ujarnya.

Saat ditemukan jenazah masih dalam keadaan utuh, dengan pakaian berwarna merah yang ia kenakan pada Rabu (5/11) saat tenggelam. Selanjutnya jenazah dibawa ke rumah sakit. Usai dari rumah sakit, jenazah dibawa ke Pondok Pesantren Al- Lu’lu’ Wal Marjan.

Sejumlah santri dan guru memenuhi masjid pondok pesantren untuk melakukan salat jenazah. Jenazah Baelghly pun langsung dibawa ke rumah duka di Cirebon.

Baca juga:  Buang Sampah di TPS Kini Berbayar

Kapolres Magelang AKBP M. Sajarod Zakun menuturkan, hasil pemeriksaan unit Inafis bersama tenaga medis dr. Beti Wulandari mencatat fisik jenazah tinggi badan 166 cm. Hidung korban mengeluarkan darah dan tubuh bersih tanpa luka. Tidak ada tanda kekerasan atau penganiayaan pada korban.

“Hidung korban mengeluarkan darah dikarenakan tekanan pada paru-paru di saat tenggelam. Korban meninggal dikarenakan mengalami gagal nafas akibat tenggelam,” terang Sajarod.

Dikatakan Sajarod, pihak keluarga menerima kejadian tersebut. Keluarga telah membuat surat pernyataan dan menolak untuk dilakukan autopsi. Termasuk keluarga korban Fajril, 14, yang ditemukan pada Rabu (5/1) lalu. (man/ton)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya