alexametrics

Darurat Sampah, TPS3R Perlu Dikuatkan

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Mungkid –  Setiap hari sebanyak 300 hingga 400 kg sampah masuk TPS3R Lohjinawi Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur. Di TPS3R ini, sampah-sampah itu lantas dipilah.

Dipisahkan berdasarkan jenis organik dan anorganik. Sampah organik untuk komposting, biodigester (pembuatan biogas), dan pemeliharaan maggot. Sementara sampah anorganik dijual ke pengepul.

“Tapi karena terbatas tenaga, biaya, dan alat, komposting belum maksimal,” ujar Ketua Pengelola TPS3R Lohjinawi Borobudur Arina Waliyati kepada Jawa Pos Radar Magelang, Kamis (6/1) pagi. “Maggot juga sedang off karena kandang rusak gara-gara tikus,” imbuhnya.

Arina mengatakan, TPS3R Lohjinawi memiliki kapasitas 400 KK. Namun karena keterbatasan karyawan, sementara ini baru mengampu 183 KK. TPS3R ini hanya dikelola lima orang dan baru melayani tiga dari 20 dusun di Desa Borobudur. Yakni Dusun Bumisegoro, Ngaran II, dan Gopalan. “TPS3R sudah sangat membantu. Terutama untuk mengurangi sampah-sampah yang dibuang di kali,” aku Arina.

Baca juga:  Pulang dari Australia, Pemuda Desa Pabelan Ini Mengajar di Kampung Halaman

Hanya saja, beban kerja mereka masih berat. Pasalnya, warga belum terbiasa memilah sampah. Dari segi finansial juga masih terkendala.  Saban bulan, untuk gaji karyawan bahkan minus Rp 1,5 juta.

Arina berharap, ada aturan baru terkait alokasi dana desa untuk sampah. Sebab selama ini hanya diatur untuk bank sampah. Belum untuk TPS3R. “Dana desa alokasi untuk sampah sudah ada, tapi untuk TPS3R parameternya belum ada,” ucap perempuan yang juga menjadi pengurus bank sampah ini.

Arina menambahkan, di tengah situasi darurat sampah di Kabupaten Magelang ini, TPS3R perlu dikuatkan. Pemilahan sampah harus dimaksimalkan. Pasalnya, kini TPA Pasuruhan hanya menerima sampah yang benar-benar sudah tidak bisa dimanfaatkan. Sementara sampah yang masih diambil nilai gunanya harus selesai di TPS.

Baca juga:  Pengentasan Kemiskinan di Kabupaten Magelang Fokus di 25 Desa

“Yang boleh masuk TPA sekarang sampah popok, pembalut, B3 dan makanan sisa yang sudah jemek banget. Selain itu sebetulnya tidak boleh masuk karena sudah sangat tidak bisa menerima lagi,” jelas Arina.

Karena berbagai keterbatasan, Arina meminta toleransi kepada Dinas Lingkungan Hidup. Dia berharap masyarakat bisa turut membantu meringankan tugas mereka. Setidaknya dengan mulai memilah sampah secara mandiri di rumah. “Sampah kan tidak hanya menjadi tanggung jawab TPS3R. Tapi juga menjadi tanggung jawab semua,” bebernya. (mg3/rhy/lis)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya